Run Mayang… Run…

1080 Words

“Mayang mau kemana nak?” mendapat pertanyaan dadakan seperti itu aku jadi terdiam sejenak. Lidahku kelu membeku dan tak mampu ku gerakkan. Mulutku juga seperti terjahit rapat dan enggan terbuka untuk menjawab pertanyaan itu. Batinku seketika menangis membayangkan bayiku dan keselamatanku. Entah apa yang harus ku jawab pertanyaan nenek itu. Langkahku sudah terhenti di depannya, hanya tersisa sejengkal lagi. Aroma wangi melati yang biasa tercium dari si nenek tidak lagi muncul baunya. Yang ada malah bau busuk khas bangkai yang sudah berhari hari membusuk. Sesaat aku diam mematung menatap sosok yang mengerikan tersebut. “hehehe …” tertawa yang sengaja mengolok olok diriku. Sepertinya ia sudah tau arah ku ingin kemana. Tubuhku masih mematung dan bibirku masih terkatup erat. Hatiku otomatis t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD