Mengikhlaskan.

1126 Words
Happy reading. Cup. Merasakan benda kenyal di pipinya, Zaid baru menyadari bahwa saat ini seorang wanita sedang menciumnya. Walau hanya beberapa detik saja, Zaid merasa ini tidak baik untuk jantungnya. "Lo, enggak sopan. Main nyosor aja kayak bebek," omel Zaid. "Eh, bebek? Cantik gini Lo bilang gue bebek," jawab Dira. "Ya, bebek suka nyosor. Model Lo gini," Bugh. "Satu pukulan buat lelaki enggak sopan buat model kayak lo." Dira pergi dari tempat itu, perasaan malu bercampur kesal dengan lelaki yang mengatakan dirinya bebek. Dira pun akhirnya menjalankan motornya keluar dari arena balap motor tersebut. Menyusuri jalanan di malam hari tanpa ada yang menemani, Dira baru tersadar beberapa detik kemudian bahwa saat ini ia tidak tahu sedang berada dimana dirinya sekarang. "Oh, s**t. Gue enggak tahu jalan ini, dimana Aulia sekarang." Dira menghubungi Aulia sahabatnya, namun tidak ada jawaban dari sahabat tersebut. Lalu dengan perlahan Dira menjalankan motornya namun sial bertambah lagi musibah yang dirasakan oleh Dira malam ini, motor kesayangannya kehabisan bensin. Padahal ia belum mencapai daerah rumahnya. "Karma sama orang tua, harusnya gue duduk cantik di dalam kamar. Ini malah kabur dari rumah," Duar.. Suara petir menyambar, udara pun menjadi terasa lebih lembab. Sudah dipastikan bahwa sebentar lagi akan turun hujan, akhirnya Dira menepi agar dirinya tidak kehujanan. "Itu ada rumah kosong, kira-kira ada penghuninya enggak ya?" Hujan semakin turun lebat, mau tidak mau Dira akhirnya menepikan motornya menuju rumah kosong tersebut. Dengan perasaan takut karena Dira memang hanya seorang wanita yang mempunyai tingkat ketakutan sangat besar jika sedang sendiri seperti sekarang ini. "Lo, bebek. Kenapa ada disini?" Degh. "Ini setan apa manusia, gue takut." "Woi, bebek jelek. Jawab pertanyaan gue, mau ngapain Lo disini? Ikutin gue ya?" Dira kaget, ia tidak mengerti sejak kapan lelaki yang memanggilnya bebek duduk ditempat seperti ini. Apa ada hantu yang menyerupai Zaid atau tidak. "Woi, diem aja." Akhirnya Dira menyadari bahwa hantu yang menyerupai Zaid tidak ada, yang ada memang Zaid dengan wajah yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu. "Motor gue kehabisan bensin, dan gue nggak tahu jalanan ini." Lelaki tersebut tertawa kencang, bersamaan dengan suara petir yang membuat Dira ketakutan. Ia tidak peduli saat ini sedang bersama siapa, Dira memeluk kencang lelaki itu. "Woi, lepas." "Nggak, gue takut." "Lepas nggak, atau sesuatu akan terjadi setelah ini." Jika setiap orang yang mendapatkan peringatan akan takut, namun berbeda dengan Dira. Ia bahkan semakin erat memeluk Zaid tanpa memikirkan apa yang akan terjadi dengannya. "s**t, tubuh gue bereaksi." Hujan semakin deras, petir pun semakin bersahutan. Zaid merasakan sesuatu yang berdiri dan menegang, ini adalah pengalaman pertamanya mendapatkan pelukan dari seorang wanita yang bukan muhrimnya. Jika Sang nenek tahu auto langsung dinikahkan saat ini juga. "Woi, lepas!" "Enggak, gue takut." Zaid mengepal kedua tangannya kencang, ia benar-benar ingin terbebas dari pelukan yang Dira lakukan. Namun sayangnya gadis berlesung pipi ini semakin mengencangkan pelukannya tanpa memikirkan apa yang sedang dirasakan oleh Zaid. "Astaga, mau sampai kapan gue begini." *** Suara adzan berkumandang seantero jagad raya, dua insan yang tertidur saling berpelukan satu sama lain. Zaid lelaki tampan dengan garis rahang tegas pun terbangun, ia merasakan berat di sekitar dadanya. "Apaan yang berat sih, kenapa gue nggak bisa bangun?" tanya Zaid dalam hatinya. Kedua mata Zaid terbuka perlahan, mencari sumber mengapa tubuhnya menahan berat. Lalu pemandangan untuk pertama kalinya dalam 25 tahun ini, ia tidur dengan seorang wanita yang bukan muhrimnya. "Astagfirullah, apa yang gue lakuin kepada gadis ini. Gue tidur bareng sama dia," Degh Zaid bersusah payah menahan nafasnya, saat ini pikirannya bercabang. Antara ingin melakukan kewajiban sebagai umat muslim atau pergi dari tempat ini tanpa diketahui oleh Dira. Biarlah ia mendapatkan julukan lelaki tidak bertanggung jawab, saat ini kewajiban yang harus diutamakan. Ia akan pergi meninggalkan rumah tua ini untuk mencari mesjid. "Maaf, aku telah berbuat dosa kepadamu. Suatu saat nanti, aku akan bertanggung jawab kepadamu nanti bebek." Zet akhirnya terbebas dari pelukan Dira, ia berjalan perlahan menuju pintu. Sebelumnya ia ingin mengambil jaket yang berada di samping Dira, namun ia urungkan membiarkan jaket tersebut dipakai oleh bebek. "Selamat tinggal bebek, jika saja pagi ini aku tidak sedang ditunggu oleh seluruh keluargaku. Sudah pasti aku akan menunggumu hingga bangun. Dan akan bertanggung jawab kepadamu," Beberapa menit berlalu, Dira terbangun dari tidur panjangnya yang ia rasakan begitu nyaman. Dira tidak percaya bahwa untuk pertama kalinya, ia bisa tidur senyaman tadi. Melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan angka 8.00 pagi. Seharusnya saat ini ia sudah terlihat cantik dengan baju kebaya pilihan Sang Bunda, namun Dira masih berada di rumah kosong tempat semalam ia tertidur. "Sudah siang aja, seharusnya gue lagi di rias sama MUA terkenal pilihan Bunda. Tapi gue malah disini, huh." Yap, seharusnya lagi ini Dira akan melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya Raja. Namun ia sudah mengambil keputusan bahwa ia lebih memilih balap motor dibandingkan menikah. Degh. "Ini jaket cowo kulkas itu, tapi dimana dia sekarang?" Dira pun akhirnya bangun, tujuan utamanya ingin sampai dirumah. Namun hati kecilnya berkata bahwa pagi ini ia lebih baik pergi untuk sementara waktu, agar tidak ada perang dunia antara dirinya dengan Sang bunda. "Raja, maafkan aku. Aku ikhlaskan kamu menikah dengan wanita baik-baik, aku tidak pantas untukmu." Dira bermonolog sendiri, ia meminta maaf telah pergi meninggalkan acara pernikahan hari ini. Entah mengapa ia lebih memilih ikut balap motor dibandingkan acara pernikahannya. "Kira-kira siapa ya, yang akan jadi calon istri Raja?" Dira tidak peduli dengan pernikahannya, yang ada dipikiran Dira saat ini adalah pergi meninggalkan Jakarta untuk sementara waktu. "Aku ke villa aja deh, mumpung orang-orang sedang sibuk di rumah." Namun di tengah perjalanan menuju villa, Dira bertemu kembali dengan Aulia sahabatnya yang menghilang begitu saja malam tadi. "Ra, astagfirullah. Lo dari mana aja? Gue cariin tadi," Dira mendengkus sebal, sebenarnya yang menghilang itu dirinya atau Aulia. Bisa-bisanya sahabatnya bertanya balik kepadanya. "Bantu cari pom bensin, motor gue mati." "Ayo!" Setelah setengah jam mencari keberadaan Pom bensin yang ternyata sejauh itu, akhirnya Dira melanjutkan perjalanannya menuju villa. Namun bukan villa keluarganya melainkan villa milik Aulia yang berdekatan dengan villa milik Raja mantan tunangannya. "Selama Lo kabur, disini aja. Gue yakin nggak ada orang yang cari Lo," "Ehm, tapi baju-baju gue gimana?" "Tenang, ukuran baju gue sama Lo ya satu ukuran. Pake aja gpp," usul Aulia. Dira mengangguk pelan, melihat salah satu pesan dari sahabatnya yang mengirimkan foto pernikahan Raja dengan seorang wanita berhijab. Namun ia tidak melihat wajah istri Raja tersebut. "Selamat Raja, lo terbebas dari gue." Aulia menepuk bahu Dira pelan, ia sangat yakin bahwa saat ini Dira sedang memikirkan mantan tunangannya yang sudah berganti status menjadi suami orang. "By the way, lo enggak tahu siapa istri Raja sekarang?" Dira menggeleng kepalanya, ia tidak melihat wanita yang sekarang telah menjadi istri Raja. Menurutnya wanita itu sangat beruntung telah dipersunting oleh Raja yang baik hati itu. "Aku sudah ikhlas dengan pernikahan ini, semoga kalian bahagia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD