You're My Dad

1603 Words
Sejak ayah meninggal, rumahku jadi luas. Makin banyak perabotan yang kami jual hanya demi bertahan hidup. Atau bayar bunga dari hutang yang harus kutanggung. Nilainya fantastis. Kami tak punya banyak pilihan. Para kerabatpun tutup mata, seakan tak ingat kami sering bantu mereka. Roda kehidupan telah berputar. Rasanya, baru kemarin aku jadi sultan yang apa-apa tinggal gesek. Semua tinggal ambil. Segalanya telah tersedia. Namun sekarang, aku harus kerja kasar untuk sekadar mengisi perut. Kehidupanku makin sulit. Aku sudah terbiasa. Tapi tidak bagi ibuku yang dulunya sosialita. "Mungkin ini karma kita sama Wulan, Bu. Kita bahkan belum minta maaf," kusebut nama mantanku 17 tahun lalu. Kekasihku waktu SMA. Karena sikap ayah dan ibu, aku tak pernah melupakannya. Tak ada jawaban dari ibuku. Hanya bau obat, tetesan infus, juga garis zig zag di mesin ICU. Tangannya pun tidak bergerak. Sejak jatuh miskin, Ibuku semakin parah. "Ibu sering bilang semuanya bisa diselesaikan dengan uang, bukan? Sekarang lihat keadaanku. Aku sendirian, Bu. Aku yang tanggung beban karena prinsip bodoh kalian. Sekarang aku harus bagaimana? Asuransi sudah tak bisa kita urus. BPJS juga tutup mata karena kita dulunya kaya. Aku harus bagaimana, Bu? Uangku hanya cukup untuk makan? Katakan sesuatu, Bu. Katakan sesuatu padaku ..." Ibuku masih tak menjawabnya. Kalaupun beliau sadar, pasti meracau tidak jelas. Kejiwaannya tak waras lagi. Berkali-kali masuk rumah sakit. Berkali-kali pula ingin mengakhiri hidupya sendiri, tanpa peduli seberapa sayang aku padanya. Aku rela hidup sengsara hanya demi merawat ibu. Tapi beliau tak berhasrat untuk hidup. Tidak sedikitpun. "Ibu sering bilang orang kaya harus kumpul dengan orang kaya. Sekarang bagaimana? Dimana teman-temanmu saat kita jatuh miskin? Mereka ada dimana? Saudara-saudaramu yang tamak itu juga tak mau jenguk. Inikah yang ibu inginkan? Ibu tidak lihat aku sekarang? Kenapa Ibu harus koma? Kenapa Ibu menambah hutang lagi untuk anakmu? Biaya rumah sakit mahal, Bu. Aku sudah tak sanggup. Katakan sesuatu! Jangan hanya diam!" "Pak Ardian, mohon biarkan pasien istirahat," tegur seorang suster. Dia tepuk pundakku perlahan, sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang harus dibicarakan. Apalagi kalau bukan tagihan? "Mohon segera ke bagian administrasi. Kami butuh solusi dari bapak." Kuraup mukaku sendiri. Napas sesak terhela panjang saat tangan ibu aku lepaskan. Aku tak tahu harus bagaimana. Penghasilan sebagai driver ojol tak mungkin layak sebagai jaminan. Apalagi coret tanda tangan? "Iya, Mbak. Saya mengerti." Tubuhku terasa berat. Pikiranku semakin buram saat perawat memberi senyum. Aku paham makna di baliknya. Senyum yang sama seperti senyumku di saat masih berlimang harta. Senyuman kapitalis. Senyuman orang-orang yang hanya tahu menghitung uang. "Pak, mohon segera beranjak." Aku malu bicara nurani. Apalagi untuk meminta belas kasihan. Aku hanya mau ibuku sembuh. Membawanya pulang walau akalnya tak sehat lagi. Aku siap menua bersama. Merawat ibuku seumur hidup. Namun, belum sempat kaki melangkah, aku menoleh panik saat mendengar siulan panjang. Siulan mimpi buruk. PIIIPPPPPPPP! Waktu seakan berhenti saat benda itu berbunyi. Dunia terasa runtuh saat monitor menunjukan garis memanjang. Garis indikator jantung ibuku. Perawatpun terlihat panik dan tergesa memencet tombol. Tombol alarm. Tenaga medispun berhamburan masuk ruangan. "Defibrillator! Cepat! Jantung pasien lemah!" "Dosis Epinephrine sudah lewat, Suster! Kita butuh Vasopressin! Gel konduktornya mana?!" Aku terduduk lemah saat ibu tergerak kejang. Dia di garis tipis antara hidup dan mati. Aku tak percaya moment ini telah terjadi. Ibu bercanda, kan? Ini hanya prank, kan? Ruangan itu terasa bisu. Tak terdengar lagi istilah rumit tenaga medis. Atau teriak panik para dokter. Bahkan, aku tak mendengar kata-kata, dari sosok suster yang menghampiriku bersama wajah meminta maaf. Ibu, apa semuanya harus berakhir? *** Mataku terpejam saat jasad ibu mereka masukkan ke incinerator. Air mataku mengalir saat petugas menyalakan tombol pembakaran. Membakar ibuku. Membakar perasaanku dan semua kenangan ketika ibu masih hidup. Mengingat betapa sayang aku padanya. Menyuapinya makan, memaksanya minum obat, bahkan memandikannya sejak ibuku sakit jiwa. Lima tahun. Selama lima tahun aku merawat ibu sendirian. Tak ada orang yang mau jenguk. Apalagi membantuku. Lucu sekali. Mereka baru datang setelah ibu dipanggil Tuhan "Kami turut berduka cita, Pak Ardian." "Beliau sosok baik semasa hidup. Saya tak menyangka secepat itu beliau pergi." "Kami sekeluarga haturkan bela sungkawa, Mas Ardian." Satu persatu mereka ucapkan kalimat palsu. Senyum palsupun aku berikan sebagai ajang basa-basi. Senyum terbaik untuk munafik. Maklum lah, mereka para pejabat pencari muka. Selayaknya politisi, kematian ibuku mereka jadikan lomba puisi. Namun, para munafik itu hanya pengais uang receh. Mereka hanya figuran. Tak banyak merugikanku dibanding gerombolan yang baru datang. Gerombolan yang sangat kukenal. Sekumpulan babi yang bertanggung jawab atas segala kemiskinan kami. Para kerabat ibuku. Sebisa mungkin kutahan benci, saat salah satunya mulai berakting seperti artis. "Bibimu ini nangis semalaman waktu dengar kabar ibumu, hiks!" Cuih! Dia layak mendapat oscar. "Terima kasih, Bi. Ibu pasti tenang di atas sana," balasku senormal mungkin. Menyamarkan sebutan Bibi dengan Babi. Aku terpaksa bersikap normatif daripada mengundang kritik. "Iya, Ardian. Kami turut berduka cita. Kamu yang sabar, ya Nak?" Proses kremasi mengakhiri sandiwara ini. Aku peluk guci abu ibuku, bersama kenangan saat kami bertabur uang. Masa-masa indah saat ayah masih hidup. Liburan ke luar negeri, mobil mewah, rumah megah, juga tatapan iri orang-orang sekitar kami. Semua telah berakhir. Jangankan kemewahan, aku terpaksa memilih kremasi karena tak sanggup berhutang hanya demi tanah kuburan. Syukur-syukur kerabatku bantu membayar. Mereka masih punya malu. Atau perasaan lega karena ibuku yang merepotkan itu sudah tiada. "Nih, uang untukmu." Aku pun juga punya malu, saat menerima santunan seperti seorang pengemis kotor. "Nih, Bibi kasih dua juta." "Pamanmu ini cuma punya tiga juta. Pasti cukup buat kamu." Aku terima uang itu. Sebagai orang kaya, nilai segitu hanya jajan anak mereka. Atau uang mahar tuk putuskan hubungan kami. Aku sudah tak peduli. Aku terlalu miskin untuk bisa menjaga prestise. "Terima kasih, Paman, Bibi, terima kasih." *** Persemayaman telah usai. Aku kembali ke kontrakan sempit yang kuhuni dua tahun ini. Tinggal sendirian. Kontrakan kumuh yang lebih mirip kandang ayam. Mendiang ibuku bahkan tak tahu aku hidup di tempat itu. Gang kumuh Kota Jakarta. Andai guci itu punya mata, ibuku pasti menangis. "Bu, maaf aku kemarin membentak ibu. Sekarang aku 34 tahun, Bu. Terlalu tua melamar kerja." Kucium lagi guci abu itu. Memeluknya seolah ibu masih hidup. "Bayar bunga hutang saja aku jatuh bangun, Bu. Bayar sewa kontrakan, ansuran motor, tagihan rumah sakit ..." Tatapku terasa lemah. Kutaruh abu ibuku di atas meja dan serapi mungkin menatanya. "Bu, aku kangen ibu. Aku kangen bergelayut di leher ibu. Aku manja ya, Bu? Bahkan sekarangpun aku ingin ibu peluk." Napasku terhela panjang saat wajah ibu seakan ada di hadapanku. "Aku ... aku merindukanmu, Bu ..." Bibirku tersenyum masam saat mataku mulai melembab. Merasakan sesuatu yang paling menyakitkan dari sebuah kematian. Walau pernah membencinya karena mantanku, ibuku tetaplah ibu. Terlalu banyak kenangan yang beliau toreh sejak aku masih kecil. Dan kenangan itu terus berdatangan seolah-olah baru kemarin. Aku merindukannya. Aku ingin memeluknya dan mencium pipinya detik ini juga. "Bu, apa aku masih punya harapan?" Guci itu tidak menjawab. Ibu bahkan tak menegur saat tanganku mengikat tali. Menggantungnya di balok rumah. Mengikatkan ujung satunya ke leherku sendiri. Semua terdiam senyap. Seperti dadaku yang makin sesak. Aku putuskan menyusul ibu karena beratnya beban hidupku. Tak ada alasan lagi untuk hidup. Aku tersenyum saat kakiku mulai berjinjit. Mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Namun, belum sempat kursi kutendang, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan. Mungkin debt collector. DUG! DUG! DUG! Ketukan itu mulai berubah jadi gedoran. Aku tak peduli. Kuperkuat lagi ikatan tali di leherku dan siap-siap menendang kursi. Semua telah berakhir. Aku tak punya harapan lagi. DUG! DUG! DUG! "Bukain, dong! Please!" Mataku terjaga saat gedoran semakin keras. Suaranya sangat berbeda dari tukang tagih yang kuingat. Suara cepreng perempuan muda. Aku tak tahu dia siapa. "Please bukain! Aku sudah bertahun-tahun cariin kamu! Please!" Mencariku bertahun-tahun? Aku meragu. Rasa penasaran menghantuiku. "Bukain, gak? Atau aku dobrak!" "Iya sebentar!" Aku batal mengakhiri hidup. Suaranya terdengar familiar. Aku merasa sering mendengarnya. Cepat-cepat kubuka pintu dan menyambut si tamu asing. "Lama banget, sih?!" Mataku melebar. Aku tak percaya tamu itu adalah dia. Seorang tamu istimewa untuk sebuah luka lama. Luka hatiku 17 tahun silam. Tamu itupun tak jauh beda dari dirinya di masa lalu, seakan-akan aku membuka mesin waktu. "Wul-Wulan?!" Usia tamu itu kira-kira 17 tahun. Persis usia Wulan saat dia aku tinggalkan. Wajahnya pun mirip. Begitupun seragam SMA yang saat ini dia kenakan. Segalanya terasa sama. Aku berhasrat untuk memeluknya. Tapi pelukan itu batal meluncur saat si tamu mulai menegur. "Aku bukan Wulan! Kamu sudah gila?" "Hah?!" Gadis itu menendang kakiku. Dia berkacak pinggang, persis seperti Wulan saat kami masih pacaran. "Wulan itu nama ibuku!" "Ib-ibumu? Kamu puterinya Wulan?!" sahutku sama kerasnya. "Iya! Wulan yang kamu hamilin terus kamu tinggal! Kamu tahu gak aku itu cariin kamu sudah lama! Alamatmu pindah-pindah! Aku capek tahu?!" Aku tak salah dengar, kan? Jangan-jangan gadis ini ... Aku berusaha mengingkarinya. Aku tak mau percaya gadis itu puterinya Wulan. Sekalipun sama-sama cerewet. Cara bicara pun sama-sama tak kenal titik dan koma. Suaranya tak pernah pelan saat dia sedang bicara. Aku jadi gelagapan. Aku masih syok saat si cerewet itu sekali lagi berkacak pinggang. "Nam-namamu siapa? Apa kamu mengenalku?" "Apa aku mengenalmu, katamu?" Gadis itu agak membungkuk karena aku jatuh terduduk. Kakiku lemas karena benakku mendunga-duga. Dia mengamatiku dekat-dekat, memindai wajahku seperti menilai barang antik. "Namaku Febi." Mataku makin melebar. Nama 'Febi' tak mungkin bisa aku lupakan. Apalagi saat dia mulai merogoh isi ranselnya. Menunjukkan sebuah bukti yang tak bisa aku ingkari. "kamu kenal cowok ini?" Seperti ada sengatan listrik saat kulihat foto-foto itu. Foto-foto pasangan SMA. Aku jelas kenal keduanya. Itu adalah foto-fotoku bersama Wulan saat masih pakai seragam. Aku ingat segalanya. Bahkan hari dan tanggal apa foto itu kami ambil. Semuanya masih segar. Sesegar air mataku yang perlahan jatuh menetes. Apa ... apa dia anakku? "Yes, you're my dad."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD