Dua Pilihan

1666 Words
"Gantian dong! Lama banget sih?!" "Bentar, masih beol." Febi masih gedor-gedor. "Bisakah kamu biarkan aku berak dengan khidmad? Masih jam enam!" Gantian aku yang teriak-teriak. Semalam, dia tidur sambil menangis. Tapi dia bangun dengan ceria seolah tak ada masalah apapun. Seperti orang lupa ingatan. Atau mungkin sedang tak ingin menyatakannya. Aku pun masih terganggu dengan bekas lebam yang saat ini mulai tersamar. "Auch! Apaan sih pegang-pegang?" "Masih sakit, ya?" "Ya iyalah! Sana minggir, aku mau mandi! Gak boleh ngintip!" "Aku gak nafsu sama bocah!" Febi langsung berteriak begitu masuk ke kamar mandi. "Kamu habis makan apa sih?! Hoeekk!! Jorok!" Dasar gadis berisik. Pagi ini, untuk pertama kalinya kami bisa sarapan bersama. Menunya sederhana. Nasi putih dan telor ceplok. Febi masih melarangku makan mie instan dan sangat marah kalau aku berani merokok. Jelas saja aku menurut. Gadis itu galak. Berbanding terbalik dariku yang mudah kompromi dengan apapun yang telah terjadi. Termasuk lebam di wajahnya. Aku ragu untuk bertanya. "Aku habis jatuh. Gak usah nanya," ucapnya ketus sebelum aku sempat bicara. "Serius gak apa-apa? Empat hari ini kamu kemana? Kenapa gak balas pesanku?" Febi semakin ketus. "Kamu yang kemana saja? Aku jalan kaki jauh banget ke sini. Tapi rumah dikunci. Aku semalaman tidur di luar, tauk! Tiga hari berturut-turut! Kamu kemana saja? Kenapa gak pulang?" Aku merasa bersalah. Di saat aku berfoya-foya bersama Astri, puteriku menggelandang. Tiga hari ini dia sangat butuh ayahnya. Aku jadi menyesal tak pernah pulang karena terjebak bau selangkangan. Dan celakanya lagi, mata Febi memicing tajam saat melirik pakaian kotor. "Kamu sama cewek, kan?" "Enggak." "Bajumu branded. Cuma dipakai cowok-cowok yang niat kencan. Dan baju itu bau cewek." Aku pura-pura sibuk meraup nasi. Aku tak mungkin berkata padanya bahwa setelah ini dia punya ibu tiri. Suasananya kurang tepat. Hubunganku dengan Astri tanpa sengaja menyakitinya. Karena kami dia kelaparan. Karena kami pula dia kedinginan di luar rumah. Astri juga kaget waktu dia tahu. Wanita itu langsung sepakat untuk sementara merahasiakan hubungan kami. "Namanya juga ojol. Ya bau cewek lah. Penumpangku gak cuma cowok." "Tapi baunya menjijikkan. Bukan bau parfum. Seperti bau orang habis gituan." "Uhuek!" Aku kontan tersedak nasi. "Air mana air!" Febi menuang air dicampur garam. Aku jadi kelabakan dan berbicara semakin panik. "Kamu masih ABG. Tahu darimana bau gituan, hah?!" "Aku gak tahu. Aku gak ngerti gituan. Tapi reaksimu ngasih tau kalau tebakanku memang benar. Kamu habis gituan kan?" Ludahku tertelan perlahan. Gadis ini terlampau tajam. Terlewat cerdas. Aku berbela sungkawa pada siapapun suaminya nanti. "Ayo ngaku!" "Dibilangin kok. Kamu tahu sendiri kan aku kere? Mana sanggup sewa?" Febi masih curiga. Dia menyantap nasinya dengan mata masih menatap. "Aku gak tanya kamu sewa atau apalah. Aku tahu isi dompetmu." Leherku jadi berkeringat. Sarapan itu jadi tak nyaman karena Febi makin memicing. "Tapi Kamu ganteng. Cewek gak akan nolak kamu ajak. Cowok ganteng sepertimu gak butuh keluar uang. Silvy saja bilang kalau kamu bahan fantasinya— "Uhuekk!" Aku tersedak lagi. "Mulai sekarang jauhi internet! Astaga anak-anak sekarang!" "Jujur deh, gak usah tele-tele." Jakunku seperti lift. Naik turun. Aku makin sadar berdebat dengannya hanya mempermalukan diriku sendiri. "Jujur, gak?! Atau mulai besok masak sendiri!" "Okay okay, aku nyerah." Aku kibarkan bendera putih. "Aku pria dewasa, Febi. Ini kebutuhanku. Kamu anak kecil mana ngerti?" Gadis galak itu beranjak. Pindah duduk di belakangku. Setelah menjepit pinggangku dengan kakinya, dia jewer dua telingaku dan teriak, "aku gak ngerti! Tapi aku tahu kamu gak boleh gituan sebelum nikah. Dosa! Ni aku buktinya. Gara-gara gituan nih aku lahir! Mau bilang apa, coba?!" "Iya! Iya! Ampun! Aku nyerah!" Telingaku terbebas dari jarinya. Tapi dia masih di belakangku dengan kaki makin menjepit. Gila, inikah rasanya punya anak perempuan? "Semalam kamu merokok?" "Enggak, tuh." "Terus, ini rokok siapa?" Keringatku mengalir deras. Aku menolehnya saat Febi menatapku dengan tatapan menembus jantung. Lagi-lagi, dia menjewerku dan bicara keras-keras. "Sudah kubilang jangan merokok! Kamu gak mau nurut! Kalau kamu sakit gimana? Kalau kena kanker gimana? Awas kalau berani merokok lagi! Kumasakin lalapan tembakau, mau?!" "Rokok itu punya Pak Lurah. Kemarin dia ke sini." "Oh, berani bohong lagi? Mau lalapan tembakau? Okay, Aku pesan sekilo!" "Ampun! Jangan jewer lagi!" Nyaliku ciut. Sebaik apapun kusembunyikan barang bukti, rumahku terlalu sempit. Febi pasti bisa mengendusnya. Rokok filter yang kusembunyikan di bawah lemari. Sangat rahasia. Tapi tetap saja dia temukan. Bukan hanya naluri, gadis itu berhidung tajam. Telingaku seperti mau putus. Febi tak setengah-setengah menghukumku. "Janjimu gak ikhlas!" "Iya, aku janji gak merokok lagi. Suwer! Semua demi kamu." "Janji?" Dua jariku membentuk huruf V. "Saya berjanji tidak akan merokok lagi." "Janjimu gak enak didengar." "Saya berjanji demi puteri saya yang cantik ini. Puas?" *** Tiga hari kemudian. "Hahahahaha, Mas Ardian. Mukanya lesu gitu? Dimarahi puterinya lagi?" Aku tak menjawab. Tidak pula membela diri. Bapak-bapak itu tertawa puas seolah kami sedang punya dendam pribadi. "Memangnya enak punya anak perempuan? Selamat datang di dunia kami, Mas Ardian, Hahahahaha!" Padahal baru kemarin mereka tawarkan bertukar anak. Sekarang berubah pikiran begitu tahu segalak apa Febi padaku. "Saya banyak salahnya sama dia, Pak. Wajar kalau dia marah." Sebulan tepat sejak pertemuanku dengan Febi. Tiga hari lamanya gadis itu telah menginap di kontrakanku. Para warga sudah mengenalnya. Puteriku gadis supel. Mudah akrab pada siapapun. Gadis itupun makin disayang karena sikapnya yang sangat sopan. Lemah lembut. Kecuali pada ayahnya. Wajar sih, saat aku happy-happy dengan Astri, dia terlantar. "Tenang saja, Mas Ardian. Puteri saya juga galak. Namanya juga ABG," ucap salah satu warga menenangkanku. Seorang bapak-bapak seumuran. Aku berterima kasih padanya karena saat aku tak ada, bapak-bapak itulah yang menampung Febi. "Lagian Bapak sih, anaknya dicuekin." "Iya, saya mengaku salah, Pak. Kebetulan hape anak saya hilang. Saya kira disita ibunya," bohongku padanya. "Tapi Neng Febi baik banget loh Mas. Dia bantu istri saya bersih-bersih rumah. Rajin. Jauh beda sama ABG sekarang." Warga lain pun ikut menyahut seperti lomba mengadu nasib. "Betul, Mas Ardian. Apalagi kalau minta sesuatu. Gak lihat orang tua. Mintanya hape mewah. Kerjanya joget-joget di depan hape. Apa itu namanya? Toc toc?" "Tic toc! Dasar gaptek!" "Iya, Tic Toc, hahahaha!" Aku hanya terdiam. Jangankan pengalaman mengasuh remaja, istri pun aku tak punya. Aku sering nongkrong di posko ronda demi mengambil saran mereka. Febi pun agak memaksaku agar berhenti jadi penyendiri. Harus sosialisasi, katanya. Kuhisap lagi rokok gratisan yang baru saja orang tawarkan. "Daddy, kirain kemana. Ternyata nongkrong di sini." WUZZZ! Asap rokoknya langsung kutelan. "Wuih, macannya datang tuh." Aku gelagapan. Cepat-cepat kubuang rokok saat Febi menghampiriku. "Bapaknya keringatan, hahahahaha!" Puteriku tersenyum ramah saat menyapa teman nongkrongku. Senyum itupun semakin ramah saat melihatku sedang berpaling ke arah lain. "Daddy merokok, ya?" "Enggak, tuh." Aku panik menghindarinya saat Febi endus wajahku. "Bau rokok kretek. Dji Sam Soe. Pasti punya Pak Sukir ya?" Pemilik rokok terngaga heran sebelum dia terbahak-bahak. "Pulang yuk, Dad. Ada menu baru siang ini. Daddy pasti suka." *** Telingaku masih nyeri. Mataku pun menghindarinya saat Febi silangkan tangan. Setelah menghukumku karena rokok, dia mau terbuka untuk topik yang lebih penting. "Pokoknya aku gak mau sekolah!" "Sampai kapan mau bolos? Sudah seminggu, nih." Febi masih bersikukuh. Dia silangkan tangan dengan dagu agak mendongak. "Pokoknya gak mau!" "Nanti aku beliin hape lagi." "Aku gak butuh hape, huh!" Seperti biasa, dia terlalu pandai tuk menutupi isi hatinya. Entah apa yang dia mau. Aku tak mengerti. Anak perempuan lebih rumit dibandingkan calon pasangan. Gayanya tak seperti Astri walau mereka sama-sama cerdas. Mungkin karena usia atau entahlah. Aku pusing menebak-nebak. "Apapun yang kamu mau aku bersedia. Selama mau sekolah, okay?" Febi masih diam. Masih bersikap kekanakan. "Ayolah, aku tak tahu maumu apa. Jangan bikin aku pusing." Sudut bibirnya sedikit naik. Seutas senyum bisa kulihat di bibir itu. Febi mulai mau bicara setelah aku ikutan ngambek. "Aku punya tiga permintaan." "Bilang saja, gak usah bertele-tele." Dia acungkan jari telunjuknya. "Pertama, kamu gak boleh telat jemput aku di sekolah. Biarpun satu detik. Kalau bisa sebelum jam pulang. Aku gak mau nunggu." "Piece of cake. Yang kedua apa?" "Temani aku jogging setiap hari libur. Setiap hari kamu harus workout. Minimal push ups 50 kali. Kamu gak akan berhenti merokok kalau gak mau berolah raga." Aku agak gamang. Tapi tak punya pilihan selain berkata, "easy peasy lemon juicy. Sekarang yang ketiga. Bilang saja." Sudut bibirnya semakin naik. Sepertinya, permintaan inilah yang dia tunggu sedari tadi. Entah apa permintaannya. Aku mulai cemas. "Kamu gak boleh pacaran." "Hah?!" Matanya langsung menajam. "Tuh kan? Ternyata benar kecurigaanku. Kamu lagi pacaran sama cewek!" "Aba bab bab bab! Enggak!" Kebohonganku jadi tak berguna karena Febi bisa membacanya. "Pokoknya gak boleh deket sama cewek lain! Gak boleh!" "Hei, sebentar lagi aku 35. Aku juga mau berkeluarga. Gak kasihan apa? Aku sudah move on dari ibumu." "Mau berkeluarga? Apa aku bukan keluargamu?" Febi jadi mirip balita kalau sedang tidak dewasa. Permintaannya tak masuk akal. "Kamu sudah telantarin aku. Dan setelah kita ketemu, kamu mau buang aku gitu saja?" "Hei, aku cuma pingin nikah. Gak membuangmu." "Sama saja! Emangnya kamu bisa perhatian kalau punya istri? Aku mau dikemanain?" Aku raup-raup mukaku sendiri. Memilih diam. Karena berdebat dengannya sama saja seperti bicara dengan tembok. "Okay, sidang ditunda. Ayo tidur." *** "Hufff ... bahkan pacaranpun seperti rokok ini. Harus diam-diam." Di tengah malam itu, aku hanya bisa merokok saat Febi sudah mendengkur. Itupun harus buka pintu. Ruangan ini terlalu sempit. Hanya ada satu kamar di rumahku. Kamar 2x2 yang saat ini jadi kamar Febi. Tepat di tengah-tengah. Menyisakan lorong satu meter menuju dapur, tempat cuci piring, cuci baju dan kamar mandi yang berbagi ukuran 3x3. Sempit sekali. Ruang tamu inipun terasa sempit dan pengap. Hanya seluas 2x3. Aku harus duduk di dekat pintu setiap kali kepulkan asap. Aku merenung. Menyikapi arah berlawanan antara kebahagiaanku dengan kebahagiaan Febi. Satu sisi, gadis itu tidak mau kalau aku menikah dan meninggalkannya, sedangkan aku, umurku terlalu tua untuk terus hidup sendiri. Seakan-akan salah satu dari kami harus berkorban. Aku bingung memutuskannya. Timbangannya sama-sama berat. "Apa yang harus aku lakukan?" Aku berguman saking bingungnya. Seakan bertanya pada malam. Dan gumaman itu dibalas jeweran dari belakang. "Pertama, harus berhenti merokok." Aku menoleh pucat. Febi menatapku datar setelah membuang batang rokok yang masih panjang. "Kedua, jangan bergadang. Nanti kamu sakit."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD