Rumahku makin berisik sejak kami tinggal bersama. Rasa canggungku lenyap. Bukan hanya Febi, aku juga sering menjewernya. Kadang saling mengerjai. Kadang tertawa bersama, kadang pula bertengkar karena masalah di antara kami. Dan pertengkaran itu lebih sering akhir-akhir ini.
Gadis itu keras kepala. Dia tidak menurut. Kini aku tahu jadi orang tua tak segampang itu. Aku tak pengalaman mengasuh anak. Seumur hidup belum pernah mengganti popok, apalagi memahami cara pikir anak gadis usia remaja.
"Astri, lama-lama kepalaku botak mikirin dia."
"Namanya juga remaja, bersabarlah," jawab Astri di telpon itu.
"Gadis itu gengsinya menembus langit, Astri. Tak pernah mau terlihat lemah di depanku. Dia justru semakin kasar setiap aku membantah. Menjawab salah. Gak jawab juga salah. Aku malu sama tetangga. Jadi bahan bully-an bapak-bapak."
Astri malah tertawa.
"Dia seperti speaker rusak. Kalau ngomong gak mau pelan. Aku sering dia jadikan sansak. Suka mukul punggung. Apalagi nendang kaki. Kadang telingaku dia jewer."
Tawa Astri meredup. Berganti cekikikan kecil saat nadanya terdengar lain.
"Selama kita kenal, baru kali ini Mas ekspresif. Dulu Mas sangat tertutup. Pendiam. Mas hanya senyum kalau ada masalah apapun. Padahal masalahmu dulu jauh lebih berat."
"Begitukah?"
"Iya. Sejak Mas kenal Febi, Mas jadi terbuka. Gadis itu spesial banget ya buat Mas?"
Aku tak bisa menjawab. Aku juga merasa telah berubah semejak kami tinggal bersama. Rasanya aneh. Tapi aku menikmatinya.
"Mas bahagia, kan? Gak merasa kesepian kan sejak bertemu dia?"
Aku masih terdiam. Aku teringat lagi seberapa hambar hatiku saat Febi sempat menghilang. Astri benar. Aku bahagia. Aku merasa hidup walau di permukaan nampak mengeluh. Banyak hal telah berubah. Sekalipun di antara kami masih menyebut aku dan kamu.
"Pasti bahagia banget jadi Febi, punya pengaruh besar sama Mas."
"Astri, bell pulang sudah bunyi, tuh. Aku tak mau hubungan kita ketahuan Febi."
Astri tak langsung menjawab.
"Aku tutup dulu, ya?"
"Hmm ... Iya, Mas. I love you."
"I love you too."
Bel pulang sudah berdetang. Cepat-cepat kututup telpon sebelum Febi datang menegur. Biasanya dia keluar bersama Silvy. Terkadang bersama beberapa anak perempuan lain. Tapi setelah beberapa menit, mereka belum keluar. Aku justru disapa anak laki-laki yang agak tergesa menghampiriku.
"Om ayahnya Febi ya?"
"Iya, kenapa?"
Anak laki-laki itu agak gelisah. Entah kenapa tak berani berkontak mata. Aku pun ikut gelisah karena reaksi itu mengingatkanku dua minggu silam.
Mirip gelagat Silvy.
Apa Febi hilang lagi?
"Febi kenapa, ya?" Aku bertanya setenang mungkin.
"Febi ada di perpus, Om. Katanya rekap pelajaran waktu bolos kemarin. Mungkin 30 menitan."
Bahuku terkulai saking leganya. "Silvy di mana?"
"Dia barengin Febi, Om. Mereka kan kemana-mana sering berdua. Mereka menyuruhku bilang ke Om, disuruh nungguin, katanya."
"Oohh, begitu ya? Saya kira ada apa," ucapku lega.
Aku masih tak nyaman. Ada rasa bersalah karena belum bisa membelikannya ponsel sejak ponsel lamanya dicuri orang. Aku tak pernah bertanya hilang dimana. Tidak penting. Aku tak mau memberinya tekanan hanya karena benda yang bisa kubeli dengan uang. Jujur saja, rasa tak nyaman itu juga terjadi karena bocah di hadapanku.
"Kok masih gelisah?"
"Anu om, hmmm ... Anu."
Anak itu mulai berkeringat. Dia menelan ludah berkali-kali saat aku menatapnya. Kenapa anak ini? Dan setelah beberapa saat celingukan seperti maling, dia berani buka suara.
"Om, saya jatuh cinta sama Febi, Om."
"Hah?!"
Jatuh cinta pada puteriku?
Aku tak salah dengar?
Mataku langsung melebar. Di detik itu juga aku bayangkan Febi sedang cuci piring, ngepel lantai, mengganti popok bayi, atau hutang sembako di toko sebelah saat suaminya asyik main game.
Ini tak boleh terjadi!
"Namamu siapa?"
"Aldo, Om."
"Kamu main game?"
"I-iya, Om. Pree Payer. Kenapa?"
"Segera uninstall."
***
Tepat dua minggu sejak kami tinggal berdua. Satu atap. Febi tidur di kamar sementara aku di ruang tamu. Kamar tanpa ranjang. Maklum lah, orang miskin. Aku pun tak pernah mengambil uang Astri kecuali bayaran wajar.
Iya, kami pacaran diam-diam. Febi sudah memberi jawaban bahwa kami belum bisa terang-terangan. Jujur aku stress. Aku ingin segera menikah. Aku ingin segera memperkenalkan Astri sebagai bagian dari kebahagiaanku. Tapi jika itu kulakukan, Febi mengancam tak mau sekolah.
Namun, dilema itu perlahan meredup. Aku mengalami stress lain yang lebih berat. Sebaik apapun kulihat Febi sebagai gadis kecil, dia tetaplah anak SMA di antara laut asmara.
Puteriku ditaksir cowok?
"Namanya juga remaja, Mas. Sabar, Sayang. Hahahaha!" Astri malah tertawa melihatku makin tertekan.
"Mereka masih kecil, Astri. Ini pasti gara-gara seragam Febi kurang bahan."
Tawa Astri semakin lepas. Dia masih kalem di balik blazer dan dasi pita. Anggun sekali. Aku berhasrat menciumnya.
"Pssstt ... banyak karyawan. Nanti saja di kamar."
Dahiku makin tertekuk. "Aku stress, Astri. Butuh pelepasan. Nafsuku sudah di ubun-ubun. Gara-gara Febi aku tak pernah menyentuhmu."
Senyum Astri semakin lembut. Di kantin itu dia tenangkan rasa resahku. "Wajah panikmu menggemaskan, Mas. Kamu benar-benar seorang ayah. Tenang saja, Febi pasti jaga diri kok. Dia gadis cerdas. Dia dewasa."
"Cih, dewasa kok semaunya sendiri." Aku alihkan muka saking kesalnya.
"Kalian baru bertemu. Jika Mas merasa terganggu karena sikap posesifnya, dia juga terganggu karena Mas overprotective."
"Itu kan demi kebaikannya."
Bukan hanya aku, Astri pun ikut berubah. Dia lebih kalem dari Astri yang kukenal sejauh ini. Ada aura baru yang kurasakan. Aura keibuan. Perempuan itu jadi sangat lembut setiap kali membahas Febi.
"Mas, aku juga tak sabar mengenalkan diri ke calon puteriku."
"Iya, bantu aku mengurus dia. Aku belum paham kebutuhan cewek."
Astri tertawa lagi.
"Perempuan itu kompleks, loh. Aku saja kadang tidak tahu mauku sendiri. Apalagi kalau sedang jatuh cinta seperti sekarang. Secerdas apapun aku atau Febi, kami sadar jadi bodoh."
Jadi bodoh karena cinta?
Mataku terbelalak. Kontan saja, kalimat Astri mengulik lagi keresahanku.
"Aku gak terima Febi pacaran! Walau cowoknya nembak dia di depan mataku!"
"Hahahaha! Sabar, jangan emosi, hahahahaha!"
Aku tak tahu apa yang lucu dari ucapanku. Mata Astri sampai basah saat dia terbahak-bahak. Cowok itu cukup ganteng, sih. Dia bahkan bicara padaku saat kemarin menjemput Febi. Nyalinya bagus. Terang-terangan berkata bahwa puteriku cinta sejatinya.
Cuih! Cinta sejati apanya?
"Mereka belum cukup umur, Astri. Mereka hanya telor baru menetas. Memangnya Febi mau dikasih makan apa? Kerja saja belum. Kalau dia pulang sambil menangis, gimana? Kalau dia mengadu sambil menggendong bayi, gimana?"
Keringat dinginku mengalir. Bayangan itu terlihat jelas. Tapi karena tak mau mempermalukan Febi, aku berlagak ramah ke cowok itu.
"Lama-lama anakmu jadi perawan tua, hahahaha!"
"Apa salahnya?"
Astri menyeka air matanya. Dia hela napas dalam-dalam, sebelum kembali bicara serius.
"Mas tahu kenapa ayahku sangat berharap kita menikah? Aku belum pernah pacaran, loh."
Ucapannya aku iyakan. Aku juga kaget begitu tahu bahwa Astri masih perawan. Sama sekali tak pengalaman. Serius, perawan tua itu bukan sekadar ungkapan halus.
"Karena kamu workaholic?"
Astri menggeleng.
"Aku cewek normal, Mas. Aku juga pernah jatuh cinta di masa remaja."
"Terus?"
"Semua karena ayahku segalak kamu."
Aku kontan terdiam. Aku terlalu malu saat Astri ucapkan itu.
"Aku anak penurut, Mas. Aku hanya kenal lelaki dari buku-buku. Dari novel-novel atau curhatan rekan kerja dan teman sekolah. Seumur hidupku hanya membaca. Aku hanya tahu belajar dan mengejar pencapaian akademik. Karena di usia remaja itu aku bukan gadis cantik. Ayah melarangku berdandan. Apalagi pacaran. Tak ada satu lelakipun tertarik padaku. Karena alasan itulah aku sibuk mengejar prestasi. Aku rendah diri, Mas. Aku sadar bahwa aku gadis tak laku.
"Awalnya biasa. Aku tak butuh lawan jenis. Banyak yang bisa kucapai tanpa mereka. Dan aku bisa buktikan kalau aku bisa hidup tanpa pacaran. Setidaknya sampai aku umur 25. Ayahku mulai panik. Beliau ingin segera melihat puterinya bahagia di pernikahan. 25 itu usia kritis bagi perempuan, Mas. Beda dari laki-laki. Dan perubahan sikap itu menggangguku. Aku terlanjur tak tertarik pada laki-laki. Ayahku pun tak bisa apa-apa. Beliau tak bisa memaksa. Beliau sadar sikapku itu tidak lain karena dirinya."
Overprotective itu tidak baik. Itu yang Astri sampaikan. Secara tak langsung aku paham alasannya menyukai Febi.
Mereka agak mirip.
"Dan Mas tahu? Usia kritis itu juga yang mengubahku. Usia 25 tahun itu usia terbaik bagiku. Setelah aku kenal pria ini nih," katanya sambil membelai rambutku. "Mas Pria baik. Aku luluh dengan sikapmu. Mas pria bertanggung jawab."
"Tanggung jawab? Aku bukan ayah bertanggung jawab. Aku menelantarkan puteriku sejak dalam kandungan. Aku ayah terburuk."
Belaian Astri semakin lembut. Aku agak malu karena kemesraan itu jadi tontonan pengunjung kantin.
"Aku Manajer HRD, Mas. Membaca pontensi itu kelebihanku. Dan potensi itu bukan hanya calon karyawan. Termasuk calon suami dan ayah untuk anak-anakku nanti. Percayalah, Mas pria baik. Mas tak setengah-setengah menjaga komitmen. Komitmen Mas ke ibu waktu beliau sakit, komitmen menjadi ayah untuk Febi, dan komitmen untuk setia ke satu wanita saja."
"Setia? Kita kan baru pacaran?"
"Mas tidak sadar 17 tahun ini menjaga komitmen ke satu wanita?"
Kalimat Astri dalam merasuk. Dia benar. Aku setia pada Wulan sampai aku tahu dia meninggal.
"Dan andai wanita itu aku, aku pasti bahagia, Mas. Aku sabar melihat punggung Mas selama dua tahun. Sekalipun Mas Ardian tak melirikku. Aku siap melakukan apa saja untuk itu."
"Ayah ibumu?"
"Mana bisa mereka menolak? Mereka kenal Mas, kok. Mereka pernah bertemu Mas waktu SMA. Dan penilaian mereka masih sama. Mas anak baik. Calon suamiku ini sosok pria bertanggung jawab."
Bibirku tersenyum. Aku jadi tenang walau ceritanya bercabang-cabang. Tidak fokus. Tapi sedikit banyak menghiburku. Rasanya seperti baru membayar premi asuransi. Melegakan. Aku bisa pastikan bahwa kami ada jaminan, hingga aku enggan untuk bertanya siapakah orang tuanya.
Terserahlah.
Toh, mereka sudah setuju.
"Sudah mendingan?"
"Huuuff ... iya. Aku sadar ayah overprotektif itu tidak baik. Febi butuh tumbuh kembang. Dia butuh menikmati masa muda selama tahu garis-garisnya."
"That's my boy," katanya, sebelum menatapku dalam-dalam. "Febi tak akan posesif kalau dia punya pacar. Perhatiannya akan terbagi. Dan kita bisa terang-terangan bilang ke dia rencana menikah. Tidak perlu sampai menunggu bertahun-tahun."
Aku kontan menoleh bengong.
Woaaaa!
Kenapa tidak kepikiran?
Itu ide bagus!
"Kamu wanita cerdas, Astri! Kamu cerdas!"
Astri kembali terbahak. Sekali lagi pula dia tatap mataku saat memberi pertanyaan baru.
"Jadi, bagaimana kabar calon menantu kita, dia berhasil nembak?"
"Enggak. Dia ditonjok Febi."