"Sempat terdiam dalam karsa yang berada dalam jeruji asa, hingga hilang dalam nirwana kadang hidup tak selaras, menginginkan lebih hingga tak kuasa berharap semua indah, namun pada kenyataanya semua hanya fatamorgana. Tipuan dewana yang makin menjadi menegelamkan riuah pada ketidakpastian, semua melangkah, lenyap dalam hembusan angin. Bercerita pada kelam lalu tak kuasa berderai pada kenyataan, semua adalah bayang-bayang luka. mengais mimpi membunuh setiap lara dalam asa semua perjuangan layaknya mimpi yang harus dibakar melawan jeruji besi--perumpamaan dari selaras pada perjuangan."
***
Hari-hari bekerja menjadi jurnalis banyak sekali hal tidak terduga. Didorong dengan senior, dihina dan menjadi jurnalis cadangan, hanya ada satu orang yang mau berteman tulus sisanya bermuka dua. Baik di depan atasan jika tidak ada atasan maka menyuruh Siara untuk mengerjakan semua laporan yang bertumpuk-tumpuk.
Adam—teman Siara, satu-satunya orang yang masih mau berteman dengan Siara karena dia tahu bukan hal yang mudah untuk melewati banyak masa yang sampai sekarang menjadi luka di hati Siara. Adam berteman tulus dan tidak memandang siapa yang akan menjadi orang yang bisa satu frekuensi, sejalan dan nyaman, bagi Adam semua manusia sama di mata Allah sementara dia hanya makhluk lemah yang punya banyak dosa.
Adam sedang mengerjakan editan artikel yang akan di buat untuk berita hari ini, namun pandangan dan pendengarannya terganggu akibat ulah anak kantor yang selalu saja seenaknya dengan Siara, meskipun keduanya baru-baru ini memutuskan untuk menjadi sahabat, tapi jiwa ingin melindungi Adam sangat besar.
Adam termasuk salah satu karyawan yang banyak digemari kaum hawa selain tampan dan pintar mengedit Adam sangat ramah dan selalu rajin ibadah, setiap kali orang-orang melihat Adam abis berwuhu maka kata ‘Masyaallah’ akan penuh di lorong-lorong kantor.
Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang jika dunia pekerjaan lebih kejam dari sekolah dan kuliah, setiap orang dituntut untuk professional, kadang kala bermuka dua dan lebih parahnya semua upaya untuk menjatuhkan orang lain di lakukan.
Pandangan dan pendengaran Adam kembali terusik akibat ulah anak kantor yang beberapa minggu ini selalu saja menjadikan Siara anak bawang seolah dirinya tidak tahu apa-apa padahal jelas sekali mereka punya kesempatan dan waktu yang sama.
Siara yang baru saja menyelesaikan 100 lembar naskah harus menelan ludah akibat perintah Lara yang tidak pernah ada hentinya bahkan merasi dirinya jauh lebih baik dari semua karyawan, memang dia adalah bos namun baru calon tunangan Anton tapi gayanya sudah seperti bos pemilik perusahaan.
“Siara, ambilin gue minum dong! Jangan lama,” perintah Mbak Lara perempuan cantik yang hobi sekali berdandan dan takut terkena sinsar matahari.
“Iya Mbak.” Siara segera melangkahkan kakinya ke arah dapur, di sana dia bertemu lagi dengan Jojon, lelaki manis yang kerap kali menatap tidak suka kepadanya. Entah kenapa semua orang seolah menjauhinya.
“Eh, anak baru. Gue saranin kalo serius mau jadi jurnalis ubah penampilan lo yang kaya gini, semua cowok mandang lo jelek dan engga enak di pandang,” ungkap Jojon menatap sinis.
“Aku dipandang jelek di mata manusia, tapi aku berusaha menjadi orang baik di mata Allah, percuma cantik fisik jika Allah enggak meridhoi dan malaikat melaknat aku,” balas Siara tenang seperti sudah biasa menghadapi hinaan semacam ini.
“Jangan berani-berani ya sama senior, apalagi anak baru kaya lo palingan gajinya bisa dipotong 50% kalo banyak ulah,” kesal Jojon pada akhirnya.
“Maaf Kak Jon, saya permisi dulu,” pamit Siara sebelum meninggalkan Jojon yang sangat kesal dengan jawaban balasan itu.
“Dasar cewek jelek!” omel Jojon yang masih dapat diberikan balasan senyum dari Siara.
Sebenarnya Siara tidak mengerti kenapa orang suka sekali mengomentari hidup oranglain sementara dia bukan hakim yang paling adil untuk menghakimi manusia dengan semua ucapannya. Siara ingin mengubah penampilannya, tapi nanti ketika dia akan membungkam seluruh mulut para pembenci. Sekarang belum saatnya karena hal pertama yang harus dia lakukan adalah memberikan gaji pertamanya untuk sang mama.
Siara mengambilkan minum untuk Mbak Lara tapi setelah dia antar malah minuman itu dimuntahkan ke arah mukanya. “Lo kalo mau bunuh gue jangan kasih garam.”
Siara menatap sendu ke arah Mbak Lara, jika kita hanya orang kecil dan tidak punya kuasa maka perlakuan tidak menyenangkan ini selalu saja datang, dipandang rendah seolah bukan siapa-siapa, tapi kali ini Siara benar-benar tersinggung, karena wajah adalah hal terbaik yang Allah ciptakan dengan begitu sempurna meski tidak cantik dimata oranglain.
“Maaf Mbak, ketika Allah ciptakan mulut untuk berbicara baik, membentuk hati untuk jadi pemaaf dan memahat wajah dengan begitu sempurna tapi Mbak malah menghancurkan ketiga hal yang dimiliki orang lain dengan itu semua, terima kasih sudah mengingatkan saya jika sabar mempunyai ujung dan ketika saya sudah berubah hal itu karena rasa sakit hati seorang perempuan yang dilukai kaumnya,” ucap Siara tersenyum sedih.
“Aduh! Ngomong aja berbelit-belit, kalo lo mau balas dendam, ya tinggal rubah diri lo jadi lebih dari gue,” sinis Mbak Lara lalu meninggalkan Siara yang di tatap dengan pandangan iba. Meskipun begitu tidak ada yang berani mengadu kepada Antoni karena Mbak Lara adalah calon tunangannya.
“Maaf Mbak, saya salah,” balas Siara seperti pupus harapan, rasanya percuma untuk melawan, dia bukan siapa-siapa dan ucapannya juga percuma.
Sementara karyawan lain hanya bisa memandang iba ke arah Siara tanpa berniat dan berani untuk membantu Siara. Kadang kala hidup begitu kejam, tapi ucapan menyakitkan itulah yang akan menjadi sebuah motivasi pada diri untuk selalu kuat.
Melihat kejadian itu belum berhenti juga maka Adam turun tangan dan memarahi Lara yang seenaknya saja kepada Siara tanpa memikirkan perasaan orang lain, mungkin saja itu akan terus berkelanjutan jika Adam belum memarahinya.
"Mending kamu kerjaian semua laporan Ra, dari kemarin semuanya salah. Lagian bedak aja yang kamu urus terus," omel Adam pada Lara, memang Adam memiliki jabatan yang tinggi daripada Lara, dia juga termasuk orang yang berpengaruh di perusahaan jadi tidak heran Lara akhirnya kesal dan memilih melarikan diri.
Pandangan tak suka rekan kerja Siara lainnya tidak pernah hilang mereka tampak sangat sinis melihat seorang anak baru seperti Siara tapi di bela. Namun kerumunan itu akhirnya suruh dan memilih untuk kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.
"Siara, kamu kembali bekerja!" perintah Adam tegas.
Siara langsung mengikuti perintah bosnya itu dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan, bukan malah menjadi pembuat makanan dan orang suruhan di kantor. Semantara Antoni memamg ada meeting di luar dan mengalihkan tanggung jawabnya kepada Adam untuk urusan kantor.
Semua orang sama saja selalu memandang fisik di atas segalanya tanpa memikirkan perasan seseorang yang tergores karenanya. Bukankah mimpi milik semua orang, lantas kenapa kesejahteraan hanya untuk perempuan goodlooking?
***
Siara sedang membersihkan meja setiap karyawan yang diperintahkan oleh Lara, padahal itu bukan pekerjannya, namun apalah daya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melaksanakan perintah bosnya, mencoba sabar dan iklas adalah hal yang selalu Siara tanamkan didirinya, mungkin hari ini dia harus dituntut lebih sabar agar Allah meridhoi setiap langkahnya.
Lani, Lala dan Lisa yang sering di panggil 3L sangat senang melihat penderitaan Siara. Mereka membicarakan kekurangan Siara dihadapan orangnya langsung, kadang kala kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk menyukai kita yang hanya bisa kita lakukan adalah melakukan yang terbaik dan membuktikan bahwa apa yang mereka pikirkan tidak seperti itu.
"Sebenarnya Lo sama sapu hampir mirip ga ada bedanya hahah," tawa Lani sangat kencang seperti rahangnya akan lepas.
"Lagian muka buluk aja, sok-sokan mau jadi jurnalis. Ngaca dulu deh!" timpal Lala tidak kalah s***s.
"Hijab murahan, jelek dan dekil perpaduan yang pas," sahut Lisa juga.
"Maaf, Mbak Lisa. hijab ini adalah mahkota bagi ku, dia menutupi aib dan menjaga diriku dari setiap pandangan penuh dosa, jangan hina jilbabku karena aku sangat mengasihi ciri khas dari agamaku, meski akhlakku tidak sebaik hijabku namun aku sedang berproses," jelas Siara yang malah ditertawakan oleh ketiganya.
"Maaf ya ukhty. Kita mau pamit dulu. Kalo mau ceramah siang-siang ceramah aja di islam itu indah,"
"Pergi yuk guys! Nanti kena dakwah 30 jus," balas Lisa pada Lani dan Lala.
Menjadi perempuan sangat sulit, ketika ingin memeperbaiki diri pasti ada saja yang akan menjatuhkan. Ketika sedang berproses ada saja ucapan bak belati yang siap membunuh mati, kadang kala ketika menjadi lebih baik banyak sekali yang akan menjatuhkan. Bukan karena kita sudah berpenampilan menurut syariat islam maka disebut paling tahu agama tapi bukankah perubahan dari cara berpakaian menandakan proses bahwa mereka ingin belajar menjadi lebih baik, bukan malah dijatuhkan oleh sesama perempuan.