Febi terpaku, dia kaget bukan main karena Saka berubah menjadi sangat kasar. Sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak turun.
"Hei, Kok, malah diem!Ayo masuk kamar!" bentak Saka membuyarkan pikiran Febi.
'Setiap kali Mami menghina Nada, kamu yang bakal jadi pelampiasan kemarahanku. Kita lihat, sampai berapa lama kamu bertahan? Memangnya kamu pikir aku nggak tahu, kalau pernikahan ini permainan kamu dan Mamih'. Gumam Saka di dalam hatinya.
Saka menarik tangan Febi agar cepat masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin meluapkan rasa kesalnya pada gadis itu.
"pelan, sih, nariknya, nggak usah kenceng, " protes Febi, Saka mendengus kasar.
"Ini semua gara-gara lho! Kalau saja tadi elo nggak kabur, Mamih nggak akan tahu, kalau gue jalan sama Nada," ucap Saka sambil membuka baju.
"Loh,kan Abang sendiri yang bilang risih dikintilin aku. Makanya aku misahin diri, malas jadi obat nyamuk!" dumel Febi.
"Ya, seharusnya elo hubungi gue kalau mau pulang, biar kita bisa pulang bareng. Mana pacar elo itu ember banget mulutnya!"
"Udah berapa kali aku bilang, Bian itu cuman teman. Kita nggak pacaran," sahut Febi.
"Gue enggak peduli, pokoknya jangan sampai kejadian kayak gini terulang lagi. Kita harus kompak. Di depan orang tua, kita harus pura-pura mesra seperti biasa, tapi dibelakang mereka, kita nggak boleh saling mengurusi urusan masing-masing. paham!" Saka menatap wajah Febi, yang hanya bisa mengangguk pelan.
"Iya di depan orangtua Abang bersikap baik, dibelakang mereka Abang berubah menjadi kasar," lirih Febi yang masih didengar oleh Saka yang melangkah menuju kamar mandi.
"Elo yang mulai duluan, gue cuma ikuti alur". sahut Saka sambil melirik sinis.
Febi menjatuhkan diri diatas kasur, baru sehari menjadi istri Saka, dia sudah merasa lelah. Saka benar-benar berubah. Harus bagaimana lagi caranya untuk menyakinkan laki-laki itu bahwa dirinya tak menjebak.
Lagi pula, apa untungnya menjebak Saka dalam sebuah pernikahan? Bagi gadis berusia 20 tahun itu lebih baik tetap menjadi adik kesayangan daripada menjadi istri rasa musuh.
Lelah dengan pikirannya, tanda sadar Febi terlelap tidur. Saka menatap wajah Febi yang pulas.
Saka mengakui bahwa adik angkatnya yang sekarang menjadi istrinya itu adalah gadis yang cantik. Wajahnya berbentuk oval, berkulit putih, hidung mungil dan bibir merah sensual. Jujur saja seringkali tergoda ingin mengecup bibir itu, tetapi dia ingat bahwa tugasnya adalah menjaga Febi, karena Febi adalah adiknya.
Namun, setelah kejadian kemarin malam, Saka benar-benar membenci wajah itu. Wajah yang terlihat lugu tapi berbahaya. Saka yakin sekali ini adalah permainan Mamihnya dan Febi adalah pion penting dalam permainan Mamih.
Saka menepuk pipi Febi sedikit kencang, membuatnya terbangun karena kaget.
"Astagfirullah, Bang. Pelan-pelan, dong. Aku sampe kaget nih" omel Febi, dia langsung duduk dan mengelus pipinya yang terasa panas. Bekas tamparan Bram masih terasa, ditambah lagi dengan tepukan Saka yang sangat kencang. Tanpa sadar air mata Febi mengalir.
"Nggak usah nangis! Jangan cengeng! Jangan harap gue bakal nenangin lho kayak dulu. Sana mandi!" Saka melempar selembar handuk yang jatuh tepat diatas kepala Febi.
Febi meraih handuk yang menutupi sebagian wajahnya, dengan langkah gontai dia mengambil pakaian dari tas yang sudah disiapkan bunda. Setelah itu, dia bergegas mandi, tak ingin kena omel Saka lagi.
Hanya butuh lima belas menit untuk membersihkan diri, gadis cantik itu langsung mengerjakan kewajiban sholat isya.
Saka hanya melihat sekilas apa yang sedang dilakukan oleh istrinya itu, dia memilih untuk fokus menatap layar laptopnya. Ada beberapa pekerjaan kantor yang harus dia cek sebelum dilaporkan besok pagi.
Febi mendekati suaminya, tangannya terjulur yang hanya ditatap aneh oleh Saka.
"Aku minta maaf sama abang, karena ulahku kemarin kita menjadi menikah sekarang," ucap Febi dengan suara bergetar. Saka masih bergeming tak menyambut uluran tangan Febi.
"Tapi, demi Allah Bang. Aku nggak jebak Abang, aku sama sekali nggak nyangka kejadiannya bakal kayak gini." Isak tangis Febi mulai terdengar.
Saka mendengus kasar, memijat pangkal hidungnya. Bagaimanapun juga, melihat Febi menangis adalah masih jadi kelemahannya. Dia bertekad akan menjadi lebih kuat agar tidak cepat luluh oleh tangisan gadis berbibir sensual itu.
"Bang, lakuin apa yang Abang mau dengan pernikahan ini. Aku pasrah dan ikut Abang aja. Kalau Abang mau cerai atau membatalkan pernikahan, aku bersyukur banget. Atau Abang ingin mengulur waktu dulu agar orang tua kita nggak curiga juga nggak apa-apa. Aku ikut aja, asal Abang jangan marah-marah terus . . . . ." Isak Febi semakin kencang.
Aku takut lihat Abang marah-marah. Kayak bukan Bang Saka yang aku kenal, " lirihnya. Saka mengusap wajah dengan kasar.
"Abang mau pacaran sama kak Nada juga, aku nggak peduli. Asal gimana caranya Abang berusaha buat nggak ketahuan aja. Aku nggak akan ikut campur, suwer!" Dua jari tangan Febi membentuk simbol victory.
Wajahnya basah, hidungnya memerah dan itu membuatnya lebih menggemaskan. Biasanya Saka akan mencubit atau mencium pipinya karena gemas.
"Oke, gue setuju. Tapi elo jangan berharap gue bisa memperlakukan elo kayak dulu lagi. Udah nggak bisa, gue udah terlanjur kecewa," ucap Saka. Febi sontak cemberut mendengar ucapan Saka.
"Jangan pakai elo gue lagi, Bang," rengek Febi.
"Iya! Udah sana tidur, udah malam. Besok, kamu ada kuliah pagi, kan? Berangkat bareng biar Mamih Papih nggak curiga," Sahut Saka.
"Makasih Abaang, Febi sayang banget sama Abang," celetuk Febi sambil memeluk lengan Saka. Tanpa sadar Saka mengusap pelan puncak kepala Febi.
********
Febi mengusap pantatnya yang perih dengan mata berkaca-kaca, bibir bawahnya dia gigit agar tangisnya tak pecah. Baru saja Saka mendorong tubuhnya hingga terjatuh dari tempat tidur. Hanya gara-gara Febi tak sengaja memeluk tubuhnya saat tidur.
"Aku udah bilang, jangan harap aku bisa seperti dulu!" Hardik Saka sembari mendorong dahi Febi dengan telunjuknya.
"Aku, kan, nggak sengaja, Bang. Namanya juga lagi tidur . . . ." lirih Febi.
"Cih! Alasan! Dasarnya gatal, sih,gatal aja!" ketus Saka.
Tanpa membantu istrinya yang terduduk dilantai, Saka beranjak ke kamar mandi. Dia bersiap-siap sholat berjamaah di Masjid.
Febi menatap punggung suaminya dengan sendu, dia kesal karena Saka melanggar ucapannya semalam. Katanya dia akan memperlakukan dirinya seperti dulu. Kenapa tetap bersikap kasar?.
Padahal jika dilihat dari posisi bangun tidurnya tadi, justru Sakalah yang mendekat ke arah Febi. Buktinya sekali dorong saja tubuh gadis cantik itu terjatuh dari kasur. Itu karena posisi tidur Febi telah ditepi kasur.
Di dalam kamar mandi, Saka terdiam dibawah guyuran shower. Hati kecilnya menolak perlakuan kasarnya pada Febi.