Bab 3 : Setan perempuan di pertigaan jalan

1590 Words
Pagi datang hanya dalam satu kedipan mata. Menurut ramalan cuaca yang bersumber dari BMKG hari ini akan cerah , tetapi ketika Jea bangun, langit subuh semakin gelap karena dilapisi awan hitam. Membuka gorden yang menutupi jendela, Jea sangat senang saat melihat hujan ringan yang memukul jendela. Wow! Perfect! Sepertinya Tuhan merestui rencana barunya hari ini. Jea melompat dari tempat tidurnya, berjalan ke kamar mandi sambil menggoyangkan pinggul, “Hip, hip hura, hura…huu…uuu…” Akibat suara nyanyannya yang nggak ramah di telinga, Laura kaget dan terbangun seperti mendapat mimpi buruk. “Suara apaan sih barusan? Kayak suara kucing kejepit.” Dengan mata setengah terbuka dia melihat sekeliling kamarnya, kemudian dia bangun dan meraba-raba tempat tidur, mencari selimutnya dengan sedikit linglung. Setelah lima menit, Jea keluar dari kamar mandi dan menyapa Laura dengan riang, “Udah bangun, Lau?” Laura yang baru mau tidur lagi melempar selimutnya, menatap Jea dengan wajah terperangah, menoleh untuk melihat ke jendela, lalu melihat ke Jea lagi “Tumben banget lo bangun pas langit masih gelap, Je? Mau ngapain? Ke pasar?” “Plan B,” sahut Jea ringan. “Apaan lagi tuh?” “Yaah, karena rencana gue kemarin gagal, gue mau nerapin rencana lain.” Laura dengan sabar menunggu Jeanette mengatakan rencana besarnya. “Lau, lo inget kan adegan drakor Legend of the Blue Sea, yang si ikan jongkok sendirian di jalanan Spanyol pas hujan rintik-rintik, terus nggak berapa lama kemudian, cowoknya dateng pakai payung dan ngulurin tangannya buat bantu si ikan.” Dahi Laura mengkerut, bibirnya mengerucut ke kanan dan ke kiri. “Emang ada ya ikan jongkok di Spanyol?” “Itu lho, tokoh utamanya yang cewek kan ikan!” Jeanette mulai kehilangan kesabaran menghadapi Laura yang lemotnya kayak layanan Indihome. Akhirnya Laura paham yang dimaksud Jeanette. “Duyung kali! Masa ikan sih.” “Ya sama aja, duyung itu ikan juga, ‘kan?” “Ya udahlah, terserah.” Laura bahkan sudah menyerah kalah sebelum berdebat dengan Jeanette, “terus apa hubungannya sama plan B lo itu?” “Gue mau ikutin adegan itu. Jadi nih ya, gue bangun pagi-pagi buta buat nungguin Geo depan gerbang perumahaan. Kebetulan hujan rintik-rintik, jadi gue bisa niruin adegan di drama. Nanti pas lihat gue jongkok kehujanan, Geo turun dari mobilnya, mayungin sambil narik tangan gue. Romantis nggak tuh?” Laura ragu-ragu. "Iya kalau hujan gerimis terus kayak gini. Kalau tiba-tiba deras gimana, terus ko Geo nggak liat lo? Sakit lo ntar.” “Nggak mungkin!” Jeanette sangat percaya diri, “Prakiraan cuaca kemarin bilang hari ini cerah, kalaupun nggak akurat, palinga hujan tipis-tipis kayak sekarang.” “Berarti ada kemungkinan hujan deras dong. Kan nggak seratus persen akurat itu ramalan cuacanya. Udah deh, saran gue sih…” Jeanette memberi Laura tatapan putih, menyuruh Laura tutup mulut. "Nggak usah khawatir tentang apapun. Gue sudah hapal rute perjalanan Geo. Jam tujuh pagi biasanya sudah lewat jalan satu arah depan rumahnya…” Jeanette menerapkan basic skincare pada kulit wajahnya yang sehalus p****t bayi. “Lau, punya sunscreen nggak? Bagi dong, habis nih punya gue.” Laura asal mengambil dari atas mejanya, melemparnya ke Jeanette. Selesai memakai sunscreen, jari telunjuk Jeanette berputar di tempat listrik. Dan akhirnya memilih shade yang ringan. “Hari ini gue akan berubah jadi gadis lembut yang nggak berdaya.” Jeanette merapikan alisnya dan dengan masuk akal berkata. “Cowok dingin kayak Geo ini emang susah-susah gampang dihadapi, kemarin dia nggak peduli dengan pendekatan gue yang agresif. Setelah gue analisa lagi, dari pada cewek agresif, mungkin dia lebih suka cewek lemah yang perlu perlindungannnya. Makhluk semacam itu biasanya punya kasih sayang yang besar, jadi Rencana B yang gue buat sebelumnya khusus untuk situasi semacam ini.” Selesai dengan alis, Jeanette perlu menajamkan riasan matanya, dia mencari di dalam rak kosmetik, tetapi eyeliner dan maskaranya entah ada di mana , jadi dia menoleh untuk melihat Laura lagi, “Lau, punya eyeliner sama maskara? Pinjam dong, punya gue nggak tahu keselip di mana.” Laura mengobrak abrik rak kosmetiknya, dan akhirnya menemukan dua benda itu di laci paling bawah. "Ini, ambillah." Dia mengedipkan mata pada Jeanette, "Gue biasanya nggak berbagi alat make up sama yang lain, tapi karena ini lo, jadi gue kasih.” ***** Setengah jam kemudian, Jeanette sudah siap di jalan kecil yang biasa dilewati Geo saat berangkat ke perusahaan sebelum jam tujuh. Dia melakukan teknik make up no make up look ala artis drama Korea. Pucat, tetapi terlihat segar. Sebelum saatnya berakting tiba, Jeanette berdiri depan rumah kosong dengan payung, menunggu Geo lewat. Tepat pukul 06:55, mobil Geo muncul di persimpangan di kejauhan, melihat bahwa waktunya tepat, Jeanette segera membuang payung dan berpose sok, memperlihatkan dirinya ke hujan rintik-rintik. Semuanya sangat sempurna. Ketika mobil yang membawa Geo melaju di sisinya, dia sudah basah kuyup. Pagi ini Jeanette sengaja memakai gaun krem tipis untuk kesan menyedihkan. Jeanette sangat percaya diri dengan penampilannya saat ini. Saat hujan, pakaiannya menempel di tubuhnya, setengah terbuka, dan lekuk tubuhnya terlihat samar. Bagaimana mungkin pria normal tidak tergerak oleh belas kasihan? Jeanette mengangkat wajahnya dan membiarkan hujan turun di wajahnya untuk memastikan bahwa dia akan menciptakan penampilan yang tak berdaya, lemah,karena hujan. Setiap detik yang berharga, mobil Geo semakin mendekat, dan sekarang hanya berjarak kurang dari seratus meter. Sukses sudah di depan mata. Dalam hatinya, Jeanette sudah menyiapkan lusinan cara untuk memulai percakapan dan menggoda. Saat dia menumpang di mobil Geo, dia yakin kalau dia akan meninggalkan kesan yang mendalam dan mendebarkan pada diri pria itu dalam perjalanan singkat ini. Namun, ketika mobil semakin dekat di persimpangan dan Jeanette mulai melambai untuk menghentikan laju kendaraan. Tetesan kecil hujan tiba-tiba menjadi lebih deras, dan ketika mobil semakin dekat, hujan deras tiba-tiba datang dan mengguyur Jeanette tanpa ampun. Jeanette mengutuk Laura dalam hati. Setiap kalau Laura memprediksi yang jelek-jelek, pasti selalu kejadian. Tapi secara umum, Jeanette adalah orang yang sangat optimis, dan hujan bisa sedikit deras. Bukankah ini membuatnya semakin jelas bahwa dia butuh pertolongan karena dia berjalan sendirian di tengah hujan badai tanpa payung? Benar saja, dalam hujan deras seperti itu, sosoknya yang lemah berdiri di pinggir jalan sangat mencolok. mobil mulai melambat tidak jauh dari Jeanette, gadis tersenyum sedikit, dan menunggu Geo meminta sopirnya untuk berhenti di dekatnya. Kemudian keluar dari mobil dengan payung, menarik tangan Jeanette yang sedingin es, kalau perlu, dia membuka jasnya untuk menutupi tubuh seorang gadis supaya lebih hangat. ***** Geoffry sedang duduk di kursi belakang Audi hitam. Hujan di luar jendela, tetapi dia dalam kabin sangat sunyi. Hanya terdengar suara piano dari audio mobil. Pria itu duduk dengan melipat satu kaki, dan memegang k****e, menggunakan waktu luangnya untuk membaca berita online tentang situasi terkini politik dan keuangan di dunia. Setelah membaca berita tentang resesi ekonomi yang melanda dunia pasca Covid 19 dan sekarang perang Rusia Ukraina, dia melihat ke atas dan menemukan bahwa hujan di luar jendela menjadi lebih deras, dan pengemudi juga mulai melambat saat ini. Geoffry mengerutkan kening. "Kenapa mobilnya semakin lambat?” Sopir itu ragu-ragu, tetapi akhirnya berbicara, "Itu, Pak. Kayaknya ada orang yang melambai-lambai di persimpangan depan.” Geoffry mengerutkan bibirnya, lalu melihat ke luar jendela. Sopirnyabenar. Di persimpangan di sebelah kiri, ada penampakan yang terus melambai padanya. "Pak Geo, bapak kenal sama orang itu? Saya perlu berhenti nggak?” Geoffry sama ragunya dengan si sopir, tetapi tidak mengungkapkan keraguannya. "Berkendara pelan-pelan.” Pengemudi kemudian semakin menurunkan kecepatannnya sehingga Geoffry bisa melihat lebih jelas. Hujan di luar semakin deras membuat situasi di luar terlihat remang-remang, tetapi kondisi ini tak membuat Geoffry menurunkan ketajaman penglihatannya. Dia menoleh ke samping, meliriknya, dan kemudian menarik pandangannya. "Nggak usah berhenti. Aku nggak kenal dia.” Pada saat ini, mobil sudah berada di depan Jeanette, dan melalui kaca depan yang dibersihkan dengan wiper, pak sopir akhirnya melihat penampakan mahluk yang terus melambai-lambaikan kedua tangannya dengan jelas, itu seorang gadis muda, pakaiannya basah semua, rambutnya menempel di wajahnya, dan yang paling menakutkan adalah wajahnya. Wajahnya di warnai dengan belang-belang putih, bibir putih pucat, dengan tetesan hitam yang mengalir dari matannya ke pipi, karena noda hitam, si sopir tidak mengenali wajahnya sama sekali. Perumahan tempat Geo tinggal adalah cluster elit yang ada pulau buatan di tengah danau. Suasananya tenang dan sepi. Biasanya tidak ada orang di jalan kecil ini. Tempat ini dikelilingi oleh danau buatan dan taman kota. Ada banyak cerita mistis yang beredar waktu proses pembuatan cluster ini. Dari mulai cerita kalau danau ini bekas kuburan yang jenazahnya tidak dipindah atau kuli bangunan yang mati tenggelam di danau. Belum lagi, entah sudah berapa kali ada orang yang tenggelam saat main ke danau, atau orang yang sengaja bunuh diri dengan terjun ke dalam danau. Jadi, menurut legenda, cluster perumahan ini angker. Pak Amir, sopir Geoffry paling takut sama yang namanya setan dan sejenisnya. Jadi, tanpa menunggu intruksi dari bos nya, Pak Amir segera menginjak pedal gas dalam-dalam sambil membaca surat-surat pendek dalam hatinya, dan dengan cepat melewati penampakan yang sedang memberi isyarat kepada mereka supaya berhenti. *****  Hujan semakin deras, Jeanette sudah basah kuyup dan giginya saling beradu karena kedinginan, dan dia terus mengutuk Laura karena sudah doain hujan deras. Saat melihat Audi hitam Geoffry melambat, dia menghibur dirinya sendiri, tunggu sebentar lagi, sebentar lagi dia akan masuk ke dalam mobil, dibungkus dengan jas Geo yang hangat… Namun, saat dia hendak mengangkat rambutnya dan menghapus air hujan dari wajahnya, Audi, yang baru saja melambat, tiba-tiba melaju dengan cepat, sangat cepat t meninggalkan dirinya di belakang. Terlambat buat Jeanette untuk menghindar, dan mobil itu menerobo apa saja saat melaju, termasuk genangan air. Byurrr!!! Air kotor berlumpur terbang, dan mengenai seluruh tubuh Jeanette . membuat penampilannya semakin menyedihkan. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD