Awal Perjalanan

1732 Words
Langit masih biru cerah ketika Mada, Haya, Sura, Nara, dan Tanu menunggangi kuda mereka, meninggalkan ibu kota Majapahit. Mereka menempuh perjalanan menuju perbatasan kerajaan, mengawal Haya dalam misinya memahami rakyat dan mempersiapkan diri sebagai pemimpin di masa depan. "Jadi, perjalanan ini... apa tujuannya sebenarnya?" tanya Sura sambil menepuk leher kudanya agar berjalan lebih cepat. "Raja ingin aku melihat sendiri kondisi kerajaan dan memahami rakyat," jawab Haya, pandangannya lurus ke depan. "Majapahit memang kuat dan makmur, tetapi kita tidak bisa hanya berdiam di dalam tembok Keraton. Aku ingin tahu bagaimana keadaan orang-orang di luar ibu kota." "Jadi ini semacam perjalanan pelatihan untukmu?" Mada menoleh dengan nada menggoda. Haya menghela napas. "Kurang lebih begitu. Tapi aku juga ingin mencari tahu lebih dalam soal serangan siluman yang semakin sering terjadi." "Benar juga," ujar Nara, mengelus dagunya. "Jika siluman semakin kuat dan sering menyerang, pasti ada sesuatu yang terjadi di luar sana. Kita harus mencari tahu penyebabnya." Sementara mereka berbincang, rakyat ibu kota yang mereka lewati melambai dan menyapa mereka dengan penuh hormat. Nama Haya kini telah tersebar luas sebagai Putra Mahkota, dan banyak orang yang ingin melihatnya lebih dekat. "Hidup Putra Mahkota!" "Semoga perjalananmu membawa berkah, Pangeran Haya!" Haya menanggapi dengan senyum dan anggukan kecil. Mada, yang berada di sampingnya, hanya bisa terkekeh. "Sekarang kau benar-benar terkenal." Haya menoleh dengan wajah sedikit kesal. "Ini lebih merepotkan daripada yang kukira." Setengah hari berlalu, dan mereka akhirnya tiba di perbatasan kerajaan Majapahit. Perjalanan yang biasanya memakan waktu tiga hari berhasil mereka tempuh dalam waktu singkat berkat kecepatan dan ketahanan kuda-kuda mereka. Dari kejauhan, mereka bisa melihat sebuah kubah energi yang melindungi Majapahit, pancarannya berasal dari kristal besar di Keraton kerajaan. Kubah ini adalah salah satu alasan mengapa Majapahit tetap damai. Energinya mampu menangkal gangguan makhluk siluman. "Luar biasa..." gumam Tanu, terpesona melihat cahaya dari kubah tersebut. "Itulah mengapa Majapahit bisa tetap tentram. Namun, di luar kubah, semuanya tidak sesederhana ini." ujar Nara. Matahari mulai tenggelam, dan mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah desa kecil dekat perbatasan. Kepala desa yang mengenali mereka menawarkan pondok untuk mereka menginap. Malam itu, pondok kecil yang diberikan kepala desa menjadi tempat mereka beristirahat. Api unggun menyala di tengah ruangan, menciptakan kehangatan yang nyaman setelah perjalanan panjang mereka. Saat waktu tidur tiba, Mada tanpa pikir panjang merebahkan dirinya di sebelah Haya, persis seperti waktu kecil mereka dulu. Namun, kali ini, reaksi Haya berbeda. Wajahnya langsung memerah, dan tanpa berkata apa-apa, ia buru-buru bangkit dan berpindah tempat. Mada mengerutkan kening. "Kenapa kau pindah? Dulu tidak masalah kalau kita tidur bersebelahan." "Wajar saja Mada. Seorang pangeran tidak mungkin tidur di sebelah rakyat jelata seperti kau, meskipun kau adalah pengawalnya." Sura, yang melihat itu, tertawa kecil. “Apa kau bilang? Haya bukan orang yang seperti itu” Balas Mada. "Pangeran Haya, Ingat Mada! etiket kerajaan!" Tanu mengangguk setuju. Namun, Nara yang memperhatikan ekspresi Haya hanya tersenyum tipis, seolah menyadari sesuatu yang tidak dipahami oleh yang lain. "Baiklah, baiklah. Tapi ini masih terasa aneh bagiku." Mada menghela napas. Haya tidur dengan memisahkan diri dari yang lain, entah kenapa sekarang jika berdekatan dengan Mada ada rasa aneh yang menyelimutinya. Tidak, bukan karena Haya sekarang pangeran dan Mada adalah bawahan. Tapi ada sebuah perasaan yang tak bisa dijelaskan dan itu sangat aneh karena waktu kecil Haya tak pernah merasakan hal itu terhadap Mada. Meski memikirkan semua itu, untungnya Haya masih bisa tertidur walaupun menjadi yang terakhir memejamkan mata. *** Keesokan paginya, mereka melanjutkan perjalanan menuju perbatasan luar Majapahit dan memasuki hutan yang lebat. Semakin jauh mereka melangkah, semakin terasa perbedaan suasananya. Udara menjadi lebih dingin, dan suara burung serta hewan liar terdengar lebih jarang. Tiba-tiba, semak-semak di depan mereka bergetar. Dari bayangan pepohonan, beberapa siluman berbentuk serigala besar dengan mata merah menyala muncul, menggeram ganas. "Bersiap!" seru Mada, segera menghunus pedangnya. Pertempuran pun dimulai. Sura maju dengan kekuatan fisiknya, menebas siluman pertama yang menerjang. Nara menggunakan sihirnya untuk menciptakan jebakan akar yang mengikat kaki musuh, sementara Tanu dengan tombaknya berusaha menahan serangan dari sisi lain. Haya dan Mada bergerak cepat, menebas setiap siluman yang mendekat dengan kerja sama yang selaras. Saat pertempuran hampir usai, terdengar suara teriakan anak kecil tidak jauh dari sana. "Tolong!" Mereka segera menoleh dan melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar belasan tahun, dengan pakaian lusuh dan membawa beberapa ranting kayu bakar. Di belakangnya, seekor siluman besar berbentuk harimau hitam siap menerkamnya. Tanpa ragu, Mada melompat ke depan, menghalangi siluman tersebut dan menangkis cakarannya dengan pedangnya. "Kami akan menahan ini! Lindungi anak itu!" seru Haya. Nara segera menarik anak itu ke belakang, sementara Sura dan Tanu membantu Mada untuk menghabisi siluman terakhir itu. Dalam hitungan menit, pertempuran berakhir. Anak kecil itu masih gemetar, memegangi baju Nara dengan ketakutan. "Sudah aman sekarang," kata Nara lembut, berusaha menenangkan bocah itu. "Aku... aku hanya mencari kayu bakar... Aku tidak tahu siluman itu ada di sini..." isaknya. Haya berlutut di hadapan anak itu. "Tidak apa-apa, kau selamat sekarang. Kami akan mengantarmu pulang." Mereka akhirnya membawa anak itu kembali ke desanya, dimana warga desa menyambut mereka dengan penuh rasa syukur. *** Di pusat Keraton Majapahit, terdapat sebuah tempat suci yang terbuka, dikelilingi oleh pilar-pilar batu kuno yang menjulang. Di tengah ruangan itu, sebuah Kristal Jiwa berdiri dengan cahaya berkilauan, memancarkan energi yang menenangkan namun penuh kekuatan. Kristal inilah yang menopang pertahanan kerajaan dari serangan siluman, menjaga perbatasan Majapahit tetap aman dari ancaman makhluk buas. Sang Raja berjalan perlahan menuju Kristal Jiwa, diikuti oleh Mahaguru yang tetap setia di sampingnya. Dengan gerakan perlahan dan penuh hormat, Raja mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya ke permukaan kristal yang terasa hangat. Tiba-tiba, pikirannya terserap ke dalam penglihatan yang tak terhitung jumlahnya. Ia melihat kehidupan rakyatnya, manusia, hewan, dan tumbuhan, semuanya tersambung dalam jaringan energi yang sama. Namun, semakin lama, ia mulai melihat bayangan gelap yang bergerak liar. “Siluman.” Jumlah mereka semakin banyak, dan pergerakan mereka semakin masif. Mereka tidak lagi sekadar makhluk buas tanpa tujuan, tetapi bergerak dalam pola yang tampak terkoordinasi. Raja membuka matanya dan menarik napas dalam. "Mahaguru," suaranya tenang namun tegas. "Siluman semakin menggila. Aku khawatir ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Kerajaan kita masih beruntung karena dianugerahi kristal jiwa, salah satu kristal pencipta dunia ini." “Lalu apa yang membuatmu resah paduka?” Tanya Mahaguru. “Kekuatanku masih terlalu kecil, aku hanya bisa melakukan perlindungan dari kristal jiwa hanya sampai batas kerajaan kita saja, dan aku tak tahu ini akan bertahan sampai kapan.” Jawab sang raja. "Apa yang harus kita lakukan, Baginda?" Mahaguru mengangguk pelan. "Atur pertemuan dengan tiga kerajaan, Prangwesi, Trowangsa, dan Bhairawa. Kita perlu bekerja sama untuk membasmi ancaman ini sebelum terlambat." Mahaguru membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan, meninggalkan Raja yang masih berdiri di depan Kristal Jiwa, pikirannya dipenuhi kekhawatiran. *** Sementara itu, di perbatasan, Haya dan yang lainnya telah mengantar anak kecil yang mereka selamatkan kembali ke desanya. Begitu tiba di desa, ibu anak itu langsung berlari dan memeluk putranya erat, air mata kebahagiaan membasahi wajahnya. "Terima kasih... Terima kasih telah menyelamatkan anakku!" isaknya penuh rasa syukur. Warga desa berkumpul, menyambut para pahlawan muda itu dengan rasa hormat. Kepala desa yang sudah tua dan bijaksana melangkah mendekati mereka, menatap dengan rasa hormat yang mendalam. "Kami berhutang budi kepada kalian," ucapnya. Saat dia memandang perlengkapan bertarung mereka yang lengkap, sang kepala desa melanjutkan ucapannya. "Namun, jika boleh, aku ingin meminta bantuan sekali lagi." "Apa yang terjadi, Pak Tua?" Mada menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Kepala desa menghela nafas panjang. "Akhir-akhir ini, banyak orang yang menghilang dari desa ini. Bahkan anak-anak yang mencari kayu dekat kubah pelindung pun tidak aman." "Itu berarti siluman mulai berani mendekati wilayah kita." Sura mengerutkan kening. Kepala desa mengangguk. "Kami menemukan jejak-jejak aneh di hutan. Orang-orang yang selamat mengatakan bahwa siluman serigala kini telah membentuk koloni dan berkumpul di suatu sarang yang belum pernah ditemukan sebelumnya." "Kalau begitu, kami akan menuntaskan semua ini." Mendengar hal itu, mata Haya berbinar penuh tekad. Tanpa ragu, mereka segera bersiap untuk berburu dan menemukan sumber ancaman yang telah lama meneror desa. *** Sebelum berangkat, Haya mengeluarkan sebuah keris kuno dari balik pakaiannya. Mada mengenali keris itu karena keris itulah awal mula pertemuan mereka. Ia duduk bersila dan menempelkan ujung keris itu ke dahinya. Cahaya kebiruan samar muncul dari keris. Ternyata, keris itu dibuat dari pecahan Kristal Jiwa, dan memiliki kemampuan yang sama dengan kristal di Keraton, meskipun dalam jangkauan yang lebih terbatas. Dalam sekejap, Haya bisa melihat apa yang tersembunyi di balik hutan. Gerombolan siluman serigala terlihat bergerak cepat menuju sebuah desa. Haya membuka matanya dengan kaget. "Ada desa lain dalam bahaya! Kita harus segera ke sana!" Tanpa membuang waktu, mereka bergegas melaju dengan kecepatan penuh, kuda mereka berderap melintasi jalan berbatu menuju desa yang terancam. Namun, saat mereka tiba... semuanya sudah terlambat. Desa itu kini hanyalah reruntuhan yang terbakar. Rumah-rumah roboh, tubuh-tubuh warga berserakan di tanah. Asap hitam membumbung ke langit, membawa bau daging yang terbakar. Tanu mengepalkan tangan, matanya bergetar melihat pemandangan mengerikan itu. "Kita terlambat..." Namun, Haya tidak menyerah begitu saja. Ia kembali menggunakan kerisnya untuk melacak arah para siluman yang bertanggung jawab atas p*********n ini. "Mereka menuju ke utara... ke dalam gua!" Mereka segera melanjutkan perjalanan dengan tekad yang membara. Mereka pun tiba di sebuah Gua dimana itu kemungkinan besar adalah sarang dari para siluman srigala. Di dalam gua yang gelap dan lembab, mereka menemukan puluhan makhluk buas itu menggeram dan menyerang mereka tanpa ragu. Namun kali ini, Mada dan kawan-kawan jauh lebih siap. Sura melompat ke udara, menebas siluman dengan ayunan pedang yang kuat. Nara mengendalikan sihirnya untuk menciptakan jebakan yang menahan pergerakan musuh. Tanu, meskipun ketakutan, dengan gagah berani mengayunkan tombaknya, menghalau serangan yang datang bertubi-tubi. Mada dengan pergerakannya yang cepat, menebas kepala setia[ siluman yang ia lewati dengan cepat. Dan Haya mengeluarkan kerisnya, menciptakan kubah energi untuk melindungi para pengawalnya dengan skala kecil. Namun, semakin dalam mereka masuk, semakin banyak jumlah siluman yang menyerang. Mereka mulai terdesak. Tanpa sengaja, mereka memasuki bagian tengah sarang. Di sana, duduk di atas sebuah altar batu yang diselimuti aura hitam, seorang makhluk bertubuh manusia namun memiliki bulu yang sama dengan serigala. Mukanya tersenyum tipis dengan moncong serigala dan giginya yang tajam. Ia memiliki mata merah menyala, cakar besar, dan tubuh yang berotot dengan bulu tebal menutupi sebagian tubuhnya. Namun yang paling mengejutkan, makhluk ini bisa berbicara. Ia tersenyum lebar, menunjukkan taring tajamnya. "Berani sekali manusia memasuki sarangku..." Suara beratnya menggema di dalam gua. Haya dan yang lainnya menatapnya dengan mata terbelalak. Ini pertama kalinya mereka bertemu siluman yang bisa berbicara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD