Jesslyn masih berdiri di antara dua pria yang saling menatap dengan pandangan penuh kebencian. Dia belum bisa membuat keputusan. Udara malam terasa kental, seolah menahan napas menyaksikan tragedi yang akan terjadi. “Jesslyn, kemarilah.” Suara Indra terdengar lirih tapi tegas, menggema di antara desir angin dan deru mesin yang masih menyala. Tangannya masih terulur, matanya memancarkan harapan terakhir yang tersisa. Namun Jesslyn tak bergeming. Matanya basah, dan suaranya gemetar ketika ia akhirnya berkata, “Indra… tidak. Aku tidak bisa.” Indra menatapnya tak percaya. “Apa maksudmu?” Air mata jatuh di pipinya. “Semua ini… sudah berakhir. Kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Pergilah sebelum semuanya terlambat.” “Tidak!” seru Indra, langkahnya maju setapak. “Kau bilang kau menci

