Suara dering ponsel memecah keheningan pagi. Jesslyn menggerakkan tubuhnya perlahan, mengerjap pelan sambil menggeliat kecil di bawah selimut hangat. Levin membuka matanya, mengerang pelan dan menatap jam dinding. Pukul delapan pagi. Mereka rupanya kembali tertidur usai semalam larut dalam gairah dan pelukan panjang yang tak berkesudahan. Kehangatan tubuh Jesslyn masih terasa, membuat Levin enggan melepaskan dekapannya. Namun tak seperti biasanya, pagi itu hatinya terasa gelisah. Levin menatap wajah istrinya yang masih memejamkan mata. Dia menyibakkan helai rambut dari wajah Jesslyn dan menunduk untuk mengecup dahinya, perlahan, lembut, penuh perasaan seolah dia sudah mencintai Jesslyn. “Aku harap kau benar-benar sedang mengandung anak kita,” bisiknya nyaris tanpa suara. Tangannya be

