Bab 2. Apa Ingin Berkenalan?

1060 Words
Hujan mengguyur deras malam itu. Jesslyn baru saja menyelesaikan latihannya. Hanya tinggal dia seorang diri di sana. Rekan-rekannya sudah lama pulang. Dia memang sengaja berlatih lebih lama malam ini, bukan hanya untuk menghindari perjodohannya dengan Levin Maxton, tetapi juga karena beberapa bulan lagi dia akan mengikuti lomba bergengsi. Dia tidak boleh melewatkan, kesempatan besar untuk mengubah hidupnya dan mewujudkan mimpinya menjadi bintang. Menikahi pria seperti Levin, yang dikenal sebagai penjahat dan masa lalunya yang kelam, tidak ada dalam agenda hidupnya. Seandainya ada, mungkin itu akan menjadi pilihan terakhir yang dia inginkan. Jesslyn berdiri di ambang pintu gedung latihan, menatap derasnya hujan yang tak kunjung mereda. Dalam hatinya, dia berharap ada taksi lewat atau hujan segera berhenti. Dia tahu, ayahnya pasti sudah menunggu di rumah, bersama dengan desakan keluarga agar dia menerima pertunangan dengan pria yang tidak pernah dia pilih. Namun, Jesslyn tak peduli. Dia tidak ingin menghancurkan impiannya demi memenuhi keinginan orang lain. Dia juga tidak ingin menghancurkan hidupnya sendiri. Angin malam berhembus menusuk kulitnya. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri, lengan terbuka itu menggigil. Dia benci hujan, karena hujan selalu membawa ketidakpastian dalam pikirannya. Jesslyn mundur beberapa langkah untuk menghindari percikan air, namun gerakannya terhenti ketika seseorang berdiri di sampingnya, membawa payung hitam besar. Tubuh pria itu tegap, wajahnya tampan dan bersih. Pria itu pun tidak tampak seperti pria biasa, dengan setelan jas mahal dan tato yang ada di lengan, pria itu sudah seperti penjahat yang dia benci. "Apa perlu tumpangan?" Tanyanya, suaranya tegas. Tatapannya tajam, seolah bisa menembus pikiran siapa pun. Jesslyn menoleh sekilas, namun segera menghindari kontak mata. Dia merasa asing dan tidak nyaman. Jesslyn menjauhi secara refleks. Dia terlihat cemas dan takut. Jangan-jangan pria itu adalah penjahat yang sedang mengincarnya. "Tidak menjawab, berarti kau menerima tawaranku," ucap pria itu lagi, dengan nada setengah bercanda tapi mengandung tekanan. "Aku tidak suka menerima tawaran dari orang asing," ujar Jesslyn dingin. "Dan aku tidak suka berbagi payung dengan orang yang tidak kukenal." Pria itu tersenyum samar, seolah sedang menahan tawa, "Tidak ingin berbagi payung dengan orang asing, eh?" Sepertinya Jesslyn lupa jika waktu itu dia menumpang payungnya tanpa berpikir jika mereka adalah orang asing. Pria itu adalah Levin Maxton. Jesslyn tidak menyadarinya. Gadis itu bahkan tidak mengenal wajah pria yang menjadi calon tunangannya sendiri. Kini dia bahkan tak mau melihat wajahnya. "Jika begitu, apa kau ingin berkenalan terlebih dahulu?" "Apa ini cara baru menggoda seorang perempuan, Tuan?" "Bagaimana jika aku katakan ya," Levin mendekatinya lalu sedikit membungkuk, "Apa kau tidak mau mengenalku, Jesslyn?" Pria itu berbisik di telinganya. Jesslyn terkejut. Dia berpaling dengan cepat. Pria itu tersenyum, Jesslyn justru semakin takut. "Kau..." gumamnya dengan nada terkejut. Hujan terus turun, membungkam dunia di sekeliling mereka untuk sesaat. Jesslyn melangkah menjauh, tapi langkahnya tertahan saat Levin berbicara lagi. "Kenapa? Apa jadi ingin mengenalku?" "Pe-penguntit!" Teriak Jesslyn. Dia melarikan diri, menerobos air hujan dengan begitu cepat. Dia tidak peduli lagi, dia harus segera lari dan menjauhi pria aneh itu. Levin tersenyum, menatap punggungnya yang menjauh. Lagi-lagi melarikan diri. Persis seperti apa yang dia lakukan dengan tidak menghadiri acara pertunangan mereka. "Kita akan segera bertemu lagi, Jesslyn," gumamnya. Tidak masalah, dia ingin lihat sejauh mana Jesslyn dapat melarikan diri darinya. Dia akan melakukannya pelan-pelan. Gadis itu pasti akan datang padanya, dan memohon supaya pertunangan mereka dilanjutkan. Levin melangkah pergi, menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh. Sangat disayangkan. Padahal dia pikir dia dapat mengantar gadis itu. Jesslyn berhenti di halte bis. Nafasnya hampir putus karena dia berlari cukup jauh. Tubuhnya pun basah kuyup, air mengalir dari wajahnya. "Sial, apa dia mengejarku?" Ucapnya, di tengah nafas yang hampir putus. Jesslyn berpaling, untuk memastikan apakah pria aneh itu mengejarnya atau tidak. Tidak ada siapapun, dia sangat lega karena pria itu tak mengejarnya. Penguntit aneh, jangan sampai dia bertemu dengan pria itu lagi. "Zaman semakin aneh, padahal memiliki wajah yang tampan tapi sayangnya menjadi penguntit," pikirnya. "Awas jika bertemu lagi, aku tidak segan untuk menendang mu!" Ucap Jesslyn. Air yang mengalir di wajah di usap. Sekarang dia semakin kedinginan. Bodohnya, seharusnya dia tendang saja tadi, lalu rebut payungnya "Awas kau!" Ucapnya penuh dendam. Kini dia berteduh di halte, berharap ada bus lewat. Beruntungnya tidak lama, sebuah bus telah tiba. Takut pria aneh itu masih berada di sana, Jesslyn bergegas menaiki bus itu. Sepanjang jalan dia begitu waspada, ponsel yang berbunyi sampai membuatnya terkejut. Dia bahkan berteriak, sampai membuat beberapa penumpang melihat ke arahnya. "Maaf... Maaf," ucapnya. Semua itu gara-gara penguntit menyebalkan itu. Jesslyn segera mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari sang ayah. "Sudah begitu larut, kenapa kau belum pulang? Apa kau takut pria itu berada di rumah dan menunggumu?" "Aku memang takut Daddy membawanya ke rumah!" Ucapnya kesal. "Jangan bodoh, apa kau kira dia mau melakukannya?" "Bagus jika begitu, aku memang tidak mau bertemu dengannya!" "Dimana kau sekarang? Daddy akan meminta seseorang menjemputmu." "Tidak perlu. Aku sedang dalam perjalanan dan sebentar lagi aku akan tiba!" Jesslyn mengusap lengannya yang dingin. Seharusnya dia sudah duduk nyaman di dalam taksi, tapi gara-gara bertemu dengan penguntit itu, dia justru mendapat sial. "Baiklah, Daddy tunggu di rumah!" Setelah berbicara dengan putrinya, Jason menyimpan ponselnya tapi pada saat itu, Levin menghubunginya. Dengan tangan gemetar, Jason segera menjawab panggilan dari pria itu. "Tu-Tuan Maxton, apa ada yang terlupakan?" "Berikan aku nomor telepon putrimu!" Dia masih berada di sana, tanpa diketahui oleh Jesslyn. Dia sengaja tidak pergi karena dia ingin memastikan wanita itu pergi dalam keadaan selamat. "Nomor telepon?" Jason kembali bertanya, gugup. "Apa kau tuli? Berikan nomor telepon putrimu padaku sekarang!" "A-akan segera aku kirimkan, Tuan Maxton. Tapi apakah kau tidak mau menerima tawaranku dan memilih Putri pertamaku? Dia tidak keberatan, jika kau menginginkannya!" "Tidak ada tawar-menawar, Tuan Walt. Sudah aku katakan, yang aku inginkan hanyalah Jesslyn dan aku tidak suka kau menawarkan yang lainnya. Meski Putri pertamamu lebih cantik darinya, aku tidak tertarik sama sekali!" "Ba-baiklah. Aku akan berusaha membujuknya agar dia mau menerima pertunangan kalian," padahal Putri pertamanya bersedia dan tidak menolak karena dia tahu, menikahi Levin Maxton berarti hidupnya akan sejahtera. Tapi sayangnya Jesslyn justru tidak berminat. "Kirimkan nomor teleponnya sekarang juga!" Levin mengakhiri percakapan dan meminta anak buahnya membawanya pergi. Jason segera mengirimkan nomor ponsel Jesslyn. Entah untuk apa pria itu memintanya, dia tahu Jesslyn tidak akan pernah bisa lari darinya. "Nak, Daddy benar-benar tidak bisa membantumu," Ucapnya. Entah itu keberuntungan atau kesialan untuk putrinya, dia tidak tahu. Levin Maxton tidak mungkin melepaskannya. Dia hanya berharap yang terbaik untuk Jesslyn.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD