Hari itu, Jesslyn sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya terus kembali pada pertemuan dengan Indra di depan restoran. Kata-kata pria itu, tatapan matanya yang penuh obsesi, dan sumpahnya untuk tidak melepaskan dirinya membuat hati Jesslyn berdegup tak karuan. Ia berusaha menenangkan diri dengan bekerja seperti biasa, melayani pelanggan, tersenyum pada mereka seolah segalanya baik-baik saja. Namun senyum itu palsu. Tangannya beberapa kali gemetar ketika menulis pesanan, pikirannya melayang jauh. Bahkan ketika seorang rekan kerja menegurnya, ia hanya bisa meminta maaf dengan suara parau. Malamnya, di ruang latihan balet, keadaannya tidak jauh berbeda. Musik lembut mengalun, para penari lain melompat dan berputar dengan anggun, sementara Jesslyn berulang kali kehilangan keseimban

