Bab 8. Kau Kurang Menarik

1039 Words
Yolanda mengenakan pakaian terbaiknya dan melangkah penuh percaya diri menuju kantor Levin Maxton. Sepatu hak tingginya berdetak mantap di lantai marmer gedung mewah itu. Dagunya terangkat tinggi, membentuk aura percaya diri yang hampir menyerupai kesombongan. Seorang resepsionis menghentikannya sebelum ia melangkah lebih jauh. “Nona, apakah Anda sudah membuat janji temu?” “Sampaikan pada Levin Maxton, Nona Walt ingin bertemu dengannya,” ucapnya lantang, nada suaranya cukup tinggi dan tegas. Beberapa menit kemudian, seorang asisten mendatanginya dan memintanya menunggu di ruang tunggu. Dalam diam, Yolanda tersenyum puas. Levin Maxton pasti senang dengan kedatangannya. Dia pun dipersilahkan untuk menemui Levin. Namun, asisten yang mengantarnya tidak menyadari bahwa wanita di hadapannya bukanlah Jesslyn, seperti yang dikira. Tanpa banyak bicara, Yolanda dibawa langsung ke ruang kerja pribadi sang penguasa bisnis itu. Levin Maxton berdiri di balik meja besar dari kayu hitam, mengenakan jas gelap yang membentuk siluet mengintimidasi. Ia menoleh saat pintu terbuka, matanya berbinar sejenak. Namun, segera berubah tajam saat melihat siapa yang datang. Bukan Jesslyn, dia tidak mengenal wanita itu. Ekspresi antusiasnya berubah, begitu juga dengan udara disekitarnya yang menjadi berat. Levin tersenyum miring. Apa yang dia harapkan? Seharusnya dia tahu, gadisnya tidak akan datang dengan gamblang untuk bertemu dengannya. Yolanda tak bisa melepaskan pandangannya dari pria itu, setelah berada di dalam. Levin Maxton. Nama itu kini menjadi bayangan nyata dari segala yang selama ini hanya hidup di dalam imajinasinya. Tampan dan gagah, jauh melampaui ekspektasi. Tubuh tegapnya berdiri kokoh, memancarkan kharisma seorang pria yang tak mudah ditaklukkan. Yolanda membayangkan bagaimana rasanya berada dalam dekapannya. Hangat, kuat, dan tak tergoyahkan. Pria itu seperti terukir dari marmer terbaik, nyaris tanpa cela. Bagaimana mungkin Jesslyn, menolak seseorang seperti Levin? “Nona Walt, apakah ayahmu yang mengutusmu datang?” Suara itu berat, dalam, dan terdengar begitu menggoda di telinga Yolanda. Ia terhenyak dari lamunannya, buru-buru menguasai diri. “Selamat pagi, Tuan Maxton,” ucapnya sambil tersenyum, melangkah anggun mendekat. “Aku harap kedatanganku tidak mengganggu.” Levin mendesah pelan, ekspresi wajahnya menampakkan kekecewaan yang jelas. “Sepertinya aku tidak meminta siapa pun datang hari ini. Apalagi dirimu.” Tentu, pikirnya, wanita ini pasti anak pertama Jason Walt. Ia mulai menduga, jangan-jangan pria tua itu dengan licik mendorong anak sulungnya mendatanginya agar dia berubah pikiran dan tidak lagi menginginkan Jesslyn. Betapa liciknya. “Memang tidak ada yang memintaku datang,” Yolanda mengangkat dagu, menyembunyikan rasa tersinggungnya. “Aku datang atas inisiatifku sendiri.” Levin menarik kursinya lalu duduk, menatap Yolanda datar. “Kau hanya membuang waktuku. Pergilah. Yang aku inginkan hanya Jesslyn, adikmu.” Yolanda maju selangkah, suaranya terdengar tegas. “Aku datang untuk mengatakan padamu bahwa pilihanmu salah.” Levin menaikkan alis. “Salah? Seperti apa menurutmu, Nona Walt?” Ia bersandar santai di kursinya, kedua tangan ditautkan di depan d**a. Gerakan sederhana itu membuat jantung Yolanda berdetak tak beraturan. Pria itu... terlalu memesona. Ia yakin, suatu hari, pria itu akan menjadi miliknya. “Jesslyn terlalu kekanak-kanakan,” ujarnya dengan nada merendahkan. “Dia tidak tahu cara menghargai pria sepertimu. Dia tidak pantas untukmu.” “Dan menurutmu, kau lebih pantas?” Levin menatapnya lekat-lekat. “Tentu saja,” Yolanda tersenyum percaya diri. “Aku lebih matang, lebih berpendidikan, dan tak terobsesi pada mimpi kekanak-kanakan seperti balet. Kau butuh seseorang yang bisa berjalan bersamamu, bukan gadis yang sibuk mengejar panggung.” Levin tetap tak bergeming. “Apakah ayahmu yang memintamu datang dan menawarkan diri? Atau Jesslyn yang menyuruhmu menggantikannya?” Yolanda terdiam sesaat, lalu menjawab pelan, “Jesslyn yang memintaku. Dia memohon agar aku mau menggantikan dirinya. Aku tak tega padanya, jadi aku datang. Tapi tolong, jangan marah. Aku hanya ingin kau tahu kenyataan, bahwa dia memang tak ingin bertunangan denganmu.” Wajah Levin menegang. “Luar biasa. Dia menganggap dirinya barang yang bisa diganti?” Yolanda menghela napas, lalu melanjutkan, “Aku tidak hanya datang untuk menawarkan diriku. Aku juga ingin memohon… agar kau berhenti menekan perusahaan ayahku. Kami tahu, pasti kau yang berada di balik semua itu.” “Berani sekali kau menuduhku. Apakah kau punya bukti?” Mata pria itu menyipit, ekspresi wajahnya berubah. “Maaf… bukan begitu maksudku. Tapi, bukankah memang begitu?” “Tidak,” jawab Levin tegas. “Belum saatnya. Tapi kelak, mungkin iya. Dan saat itu terjadi, aku tak akan menghindar.” Ia mencondongkan tubuh sedikit, suara dinginnya menusuk. “Selagi aku masih bermurah hati, pergilah. Jangan paksa aku berubah pikiran.” Yolanda masih bertahan. Dia datang itu dan dia tidak akan menyerah. “Tuan Maxton, tolong pertimbangkan aku. Aku jauh lebih baik dari Jesslyn. Bersamaku, kau tidak akan rugi.” Levin mendecih, lalu berdiri. “Aku tidak butuh yang sempurna. Apa yang aku inginkan, tidak bisa digantikan.” Dengan isyarat jari, ia memanggil asistennya. “Dia tidak menyukaimu, Levin!” seru Yolanda putus asa. “Untuk apa mengejar seseorang yang bahkan tak menginginkanmu?” Levin menatapnya tajam. “Ketahuilah, aku lebih menyukai wanita yang membuatku penasaran, dibanding yang menyodorkan dirinya dengan mudah. Wanita sepertimu mudah kudapatkan. Dan kau tahu? Aku akan menganggap semua ini sebagai lelucon.” “Jadi, kau menolakku?” Yolanda menggerakkan gigi, wajahnya memerah. “Ya,” jawab Levin tanpa ragu. “Kau kurang menarik bagiku. Seburuk apa pun kau memandang adikmu, dia tetap lebih menarik perhatianku. Pergilah. Dan sampaikan pada ayahmu, aku tidak melakukan apa pun pada perusahaannya. Tapi aku akan menemuinya. Bukan lagi untuk membicarakan pertunangan, tapi pernikahan.” Yolanda mengepalkan tangan, harga dirinya hancur berkeping-keping. Tak pernah ada yang menolaknya seperti ini. Ia berbalik, melangkah dengan kepala terangkat tinggi, menyembunyikan luka di hatinya. “Jangan menyesal karena memilih adikku yang bodoh itu!” ucapnya tajam, membuang muka saat pintu dibuka untuknya. Pria itu bodoh. Suatu saat nanti dia akan menyesal karena telah menolaknya. Yolanda Walt, wanita yang telah menawarkan diri dengan segala kelebihannya. *** Levin berdiri membelakangi jendela setelah kepergian Yolanda. Ada yang mengganggu pikirannya. Benarkah Jesslyn yang mengutus kakaknya datang? Apa itu hanya akal-akalan? Pria itu tersenyum tipis. Jesslyn Walt… wanita yang sulit ditebak. Justru itulah yang membuatnya ingin memiliki gadis itu sepenuhnya. Sesuatu tentangnya, cara dia berbicara, cara dia menatap dunia, begitu familiar. Seperti bayang-bayang masa lalu yang bangkit kembali dalam tubuh seseorang yang berbeda. Wajah itu, tidak bisa dilupakan. Mereka berdua, seperti pinang dibelah dua. Itulah alasan mengapa hatinya tak bisa berpaling dari Jesslyn Walt.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD