Bab 1 – Anak Berandalan di Lampu Merah
Di kota Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur, ada satu nama yang selalu muncul di majalah bisnis setiap bulan: Arka Mahendra. CEO muda dari perusahaan teknologi raksasa Mahendra Digital Group. Umurnya baru tiga puluh dua tahun, tapi kekayaannya sudah cukup untuk membeli gedung apartemen tempat orang-orang bergosip tentang dirinya.
Publik mengenalnya sebagai pria dingin, perfeksionis, dan nyaris tidak punya kehidupan pribadi. Setiap foto yang beredar selalu memperlihatkan wajah datarnya dengan jas mahal dan jam tangan yang harganya bisa membeli rumah.
Namun, tidak ada yang tahu satu rahasia penting.
Arka bosan.
Sangat bosan.
“Pak Arka, ini jadwal meeting Anda minggu ini,” ujar asistennya, Rena, sambil menyerahkan tablet.
Arka melirik sekilas.
“Meeting investor.”
“Ya, Pak.”
“Peluncuran aplikasi.”
“Betul.”
“Wawancara media.”
“Sudah dijadwalkan.”
Arka mengembuskan napas panjang.
“Hidup saya membosankan sekali.”
Rena berkedip.
“Maaf?”
“Saya merasa seperti robot.”
“Kalau begitu, mungkin Bapak perlu liburan.”
“Saya sudah coba. Dua hari di Bali malah meeting online enam belas jam.”
Rena menahan tawa.
Arka memutar kursinya menghadap jendela kantor di lantai lima puluh.
“Rena.”
“Ya?”
“Menurutmu kenapa saya belum menikah?”
Rena langsung salah tingkah.
“Karena… Bapak terlalu sibuk?”
“Salah.”
“Karena standar Bapak terlalu tinggi?”
“Salah lagi.”
“Karena…”
“Karena semua perempuan yang mendekat cuma suka uang saya.”
Rena diam.
Arka melanjutkan dengan nada dramatis.
“Mereka tidak melihat saya sebagai manusia. Saya hanya ATM berjalan.”
“Bapak terlalu banyak menonton drama.”
“Dan saya ingin mencari perempuan yang menyukai saya apa adanya.”
Rena mulai curiga.
“Pak Arka…”
“Saya akan menyamar.”
“Jangan bilang…”
“Saya akan menjadi anak berandalan.”
Rena hampir menjatuhkan tablet.
“Hah?!”
Arka tersenyum puas seperti penjahat menemukan ide jenius.
“Aku akan hidup seperti rakyat biasa.”
“Pak…”
“Saya akan mencari cinta sejati.”
“Pak Arka, terakhir kali Bapak bilang punya ide bagus, kantor hampir kebakaran karena drone kopi otomatis.”
“Tapi viral.”
“Karena meledak.”
Namun Arka sudah tidak mendengarkan.
Malam itu juga, CEO paling berpengaruh di Indonesia mendadak menghilang dari radar sosialita.
Keesokan harinya, seseorang dengan jaket kulit murahan, celana jeans sobek, dan rambut sedikit acak-acakan turun dari motor tua di pinggir jalan Blok M.
Itu Arka.
Dan ia terlihat seperti anak tongkrongan yang baru putus cinta tiga kali berturut-turut.
“Ini lebih sulit dari yang saya kira,” gumamnya sambil mencoba menyalakan motor butut yang terus mati.
BRAK!
Motor itu mendadak roboh.
“Woi! Kalau nggak bisa naik motor jangan gaya!” teriak seseorang.
Arka menoleh.
Di depan sebuah warung kopi kecil berdiri seorang perempuan memakai kaus oversized hitam dan celana cargo. Rambutnya dikuncir asal, wajahnya cantik meski tanpa make up.
Perempuan itu sedang memegang spatula.
“Lihat apa?” katanya galak.
Arka terpaku.
Cantik.
Sangat cantik.
Tapi juga menyeramkan.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Arka.
“Bantu? Motor lu nyaris nimpa gerobak gue!”
“Ah.”
“Dan cara lu pakai jaket tuh norak banget.”
Arka tersinggung.
“Ini jaket mahal.”
“Kelihatan palsu.”
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arka Mahendra dibully oleh penjual kopi pinggir jalan.
Anehya… dia malah tertarik.
“Nama gue Arka,” katanya.
Perempuan itu menyipit.
“Nama gue Naya.”
“Senang kenal.”
“Gue nggak.”
Lalu ia masuk lagi ke warung.
Arka berdiri bengong.
Ia tersenyum kecil.
“Wah,” gumamnya.
“Ini baru menarik.”
Lanjut Bab 2...