Friendship

1320 Words
Seiring waktu Rey mendapat banyak teman, baik cowok maupun cewek, baik yang alim maupun yang melenceng kelakuannya. Sejak kenal dengan teman yang kurang baik, ia sedikit banyak mulai terpengaruh. Rey dulunya sangat rajin ibadah, lima waktu tidak pernah sedikitpun terlewatkan. Yang namanya rokok sedikitpun tak pernah ia sentuh. Apalagi namanya narkoba jauh bangetlah pokoknya. Semenjak kenal dengan teman-teman yang suka akan hal-hal negative, Rey pun jadi terpengaruh. ia mulai belajar merokok dan lima waktu perlahan mulai ia tinggalkan. Puasa full sebulan tidak dijalankan, banyak bolongnya malah berbuat maksiat dengan hubungan s*x dan judi. Dan justru dari mereka juga Rey mengenal arti PK (Penjahat Kelamin). Kebetulan juga teman-teman yang ia kenal ini dari kalangan berada. Semakin lama persahabatan mereka semakin akrab. Rey dikenalkan oleh mereka tentang dunia mereka, padahal awalnya Rey hanyalah orang biasa. Ia melihat mereka dengan mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Semua modal mereka miliki. Sementara Rey? Jelas ga akan bisa ia menyaingi mereka. Mulai dari duit, pakaian, kendaraan, narkoba, wanita, semuanya dengan mudah mereka dapatkan. Padahal tampang mereka hanya biasa-biasa saja, malah kalau di banding dengan dirinya, masih menang Rey dikitlah … hehehe. Hanya ada satu seorang teman diantara mereka, yang kelihatan lebih menonjol. Menonjol yang ia maksud disini adalah dari segi fisik maupun materi. Sebut saja namanya Ahmad, blasteran keturunan Arab dan Banjar Kalimantan. Jadi bisa kebayangkan, gimana model si Ahmad ini. Body seperti model, orangnya cool abis, kulit putih, hidung model arab, pokoknya hampir perfect lah. Hampir semua modal dia miliki, fisikly ok, boil nya Esteelo bro. Jadi jangan heran kalau cewek melihat dia pasti klepek-klepek. Sayang, hanya ada satu kelemahan si Ahmad. Dia tidak berani dengan cewek, malah dengan pacarnya dia begitu tunduk banget (patuh). Kebetulan pacarnya saat itu juga orang Kalimantan, temannya waktu SMA juga. Itu yang Rey kenal dari sosok Ahmad sahabatnya. Hingga Rey berpindah ke kos baru tersebut, kos tempat anak-anak Kalimantan kumpul. Dulu anak-anak Kalimantan jika kuliah di Jawa sangat di segani. Karena dianggap rata-rata anak Kalimantan dari golongan borjuis, padahal itu tidak semuanya benar, seperti halnya seorang Rey. Hanya seorang anak penjual nasi kuning yang ingin mewujudkan mimpi ibunya. Rey pun semakin akrab dengan mereka, termasuk si Ahmad. Dari sekian teman, hanya si Ahmad yang ia rasa semakin lama ada yang ganjil pada dirinya. Hanya dia yang paling setia dengan pasangannya, setiap diuji dengan kenalan cewek baru, dia pasti menolak dan menjauh. Bahkan kesannya ia seperti ketakutan, seperti melihat demit valak. Padahal cewek yang di kenalnya rata-rata parasnya diatas kecantikan pacarnya saat itu. Jika saja Rey yang berada di posisi tersebut sudah pasti ia takkan menolak, malah ia pasrah dengan senang hati. Pernah suatu hari, ketika Ahmad lagi ribut dengan pacarnya. Habis-habisan si Ahmad di maki-maki oleh pacarnya dan itu terjadi di kos kami, persis di depan anak-anak kos yang lagi kumpul. Si Ahmad hanya tertunduk tanpa bisa mengeluarkan kata-kata sedikitpun, seperti kebo yang di coloki hidungnya. Padahal kalau dilihat cewek si Ahmad ini tidak cakep-cakep amat. Standar saja kalau menurut Rey dan teman-teman yang lain. Kadangkala si Ahmad pernah sampai di tampar oleh Diana, cewek si Ahmad tersebut. Rey dan teman-teman sekumpulan sudah sering menasehati si Ahmad agar menjauh atau putusin saja si Diana, tapi ia hanya terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Sampai berbuih mulut Rey dan teman-teman menasehati tetap saja dia diam seribu bahasa. Kami pancing dengan yang lebih baik dari Diana pun, tetap dia menolak, tidak b*******h. Suatu hari ketika Rey dan teman-teman sedang kumpul-kumpul di kos, ada yang berinisiatif untuk membantu si Ahmad. Karena teman-teman merasa iba, dan juga ada kecurigaan teman-teman pada hubungan Ahmad dan pacarnya. Hasil rembukan hari itu kami putuskan untuk mencari ‘orang pintar’ guna mendeteksi ada apa dengan si Ahmad teman kami. Namun hasil rembukan tersebut sengaja kami sembunyikan dari Ahmad. Agar dia tidak tersinggung. Rey dan teman semua bergerak menyebar info untuk mencari orang yang benar-benar memiliki ‘kemampuan’ yang dianggap mumpuni. Selang beberapa hari barulah mereka mendapatkan info yang benar-benar valid. Pergilah mereka  4 orang saja termasuk Rey yang mewakili teman-teman satu kos. Letak rumah ‘orang pintar’ tersebut cukup jauh jarak tempuhnya dari kos mereka. Kurang lebih 2 jam waktu yang mereka tempuh tuk mencapai rumah orang tersebut. Ditambah lagi medan yang harus di lalui itu cukup berat karena rumah orang tersebut terpencil sendirian. Setiba disana mereka langsung disuguhi pemandangan yang tak lazim. Seperti rumah dukun yang ada di film film horror. Di sekeliling rumah itu tak ada tetangga seorang pun kalaupun ada jaraknya cukup jauh. Belum lagi pepohonan besar disekitar rumah tersebut, menambah kesan seram. Namun karena sudah kepalang basah mau tidak mau harus mereka tuntaskan misi tersebut. Didalam mereka sudah disambut oleh seorang wanita tua. Walaupun hari itu siang hari, seorang nenek yang seharusnya terlihat biasa, malah jadi terlihat menyeramkan. Apalagi beliau tidak mengikat rambutnya yang panjang memutih, jadi menambah kesan seram. Kedua teman Rey jadi ketakutan, dan ragu mau melanjutkan. Hanya Rey dan satu temannya yang berani, sebut saja ia Edo. Sebenarnya Rey & Edo ada misi terselubung. Selain mencari tau mengenai kondisi si Ahmad dan pacarnya, mereka juga ingin minta ilmu pellet, ilmu yang di gunakan untuk menundukkan wanita. Pikir mereka itu hanya keisengan saja. Mereka berharap bisa beruntung mendapatkan cewek dengan cara instan. Akhirnya mereka bertemu dengan tuan rumah, namanya Mbah Bejo. Kalau sepintas di lihat umur beliau sekitar 70 an keatas. Tanpa basa basi mereka langsung mengungkapkan maksud kedatangannya. Belum selesai mereka cerita, si mbah langsung tertawa lepas. Mereka yang melihat tingkah si mbah langsung saling memandang. Akhirnya merekapun ikut tertawa juga dan si mbah yang melihat bocah-bocah di depannya tertawa langsung berhenti tertawanya. Alangkah terkejutnya Rey dan temannya ketika dibentak si kakek, seketika itu juga mereka terdiam. Kakek lalu melanjutkan dengan ritual magisnya. Di depannya sudah ada tempayan yang diatasnya ada berbagai rupa bunga dan dupa yang dibakar. Si mbah tampak komat kamit mulutnya, entah apa yang sedang di bacanya. Rey dan temannya hanya terdiam dan sesekali saling memandang. Setelah beberapa saat, mbah dukun tersentak tubuhnya, seperti ada reaksi dari dunia sebelah. Si mbah itu menyampaikan kepada Rey bahwa si Ahmad telah terkena guna-guna oleh pacarnya. “Tapi tenang saja, dengan air ini, kancamu pasti dang waras kok,” jawab si mbah dengan santainya. Dan terakhir si mbah memberi sebotol air yang telah di jampi jampi olehnya. Sebelum mereka pulang, mbah itu berpesan agar Rey dan lainnya jangan main-main dengan si pacar Ahmad itu. Karena akibatnya bisa fatal, terutama pada si Ahmad, begitu bunyi pesan si mbah. Kesimpulan sementara, si Ahmad di guna-guna oleh ceweknya, sesuai dengan dugaan Rey dan teman-temannya. Itulah hasil adventure Rey cs ke mbah dukun itu. "Terus mbah, piye ilmu yang saya minta tadi, iso po ra mbah?" tanya Rey tanpa ragu-ragu. "Wani piro??" alamak si Mbah kalau sudah main tarif begitu sudah pasti Rey dan Edo takkan sanggup. Apalagi Mbah mengira perantauan seperti kami yang dari Kalimantan di anggap anak-anak sultan. Rey sebenarnya tidak terlalu percaya dengan perdukunan, namun karena keadaan dan teman-teman juga tidak ada pilihan, ia terpaksa mengikutinya. Sampai tiba di kos, mereka menjalankan semua instruksi si mbah dukun tadi. Mulai menyiram kamar si Ahmad dengan air pemberian dukun tadi, hingga tempat botol minum Ahmad dicampurkan juga. Ada sedikit keanehan sewaktu mereka mengerjakan ritual tersebut. Setelah disiramkan air tadi, mendadak di kamar Ahmad tercium wangi aroma melati. Padahal sewaktu mereka masuk ke kamarnya tidak ada wangi apapun. Mereka semua mencium aroma tersebut, sampai bulu kuduk juga turut bergidik. Hingga malam pun tiba … Si Ahmad seperti biasa pulang dari jalan keliling bersama ayang nya. Rey Cs yang memandangi dia dari jauh mulai was was dengan pesan mbah tadi. Sementara si Ahmad tetap dengan gaya cool nya, ia belum mengetahui apa yang sedang dikerjakan teman-temannya. Kebetulan kamar kos nya di lantai 2. Semakin dia mendekati kamar kos nya, maka semakin kami khawatir dengan Ahmad. Rey dan teman-teman hanya berharap semoga tidak terjadi hal yang buruk pada sahabatnya. Namun harapan hanyalah tinggal harapan, dugaan mbah itu ternyata benar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD