Kenapa Nar" tanya Ibunya kemudian duduk disamping Kinarsih.
" Itu Bu..si Bapak biasalah pemikirannya itu Lo, kadang tidak aku mengerti".
" Sudahlah namanya orang tua maklumin saja ya..." Sang Ibu berusaha menenangkan Kinarsih.
" Ya sudah Bu...aku mau istirahat dulu ya..titip anak-anak." Pamit Kinarsih kemudian beranjak kekamarnya.
Ibunya hanya mengangguk lantas berlalu menuju ke warung untuk mengawasi Cucu -cucunya bermin. Baru saja perempuan paruh baya itu menghenyakan p****t dikursi teras warung, dikagetkan dengan suara rem yang berdecit dan suara benda jatuh.
Ciiiiittttttt...... bruggggggg.....
Seketika si wanita itu berlari kearah sumber suara. Begitu sampai ditempat dia sangat terkejut, mendadak kakinya lemas dan badanya bergetar menyaksikan apa terjadi.
" Argaaaaaaaaa......" Jeritnya langsung terduduk lemas melihat cucunya terkulai disisi jalan setelah terlempar karena tertabrak motor barusan. Sementara si pengendara berusaha segera bangun berusaha untuk menolong Arga.
Si Edi yang duduk di teras samping mendengar jeritan segera berlari menghampiri.
" Ada apa ini...kenapa ini...kamu tabrak cucu saya..." Hardiknya pada pengendara motor tersebut.
" Maaf pak lebih baik kita bicara nanti, saya mau bawa anak ini ke puskes dulu supaya bisa ditangani..maaf" jawab salah satu pengendara motor tersebut segera mengangkat tubuh Arga dan segera berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Edi tak kalah kalut dia berlari kearah motor sambil berteriak memanggil Kinarsih tanpa memperdulikan istrinya yang masih shock dengan apa yang terjadi. Sampai beberapa tetangga menghampiri untuk menolongnya.
" Kinar...kinar dimana kamu...anak kamu tertabrak motor dibawa ke puskes" teriaknya sambil menghidupkan mesin motor.
Kinar berlari keluar " apa pak..Arga kenapa bisa ditabrak" tanyanya panik.
" Sudahlah ayo, kita bahas nanti" teriak Edi kembali dari atas motor. Kinar lngsung menaiki motor dan mereka melaju menuju puskes.
Ketika sampai Kinarsih langsung berlari menuju ruang anaknya diperiksa.
" Bu...bagaimana keadaan nak saya.." tanyanya panik.
" Tidak apa-apa mbak, dia hanya shock saja, dan ada luka kecil saja. Tidak terlalu serius"
" Syukurlah..." Ucap Kinarsih sambil menghampiri anaknya.
Diluar tampak sedang berkacak inggang sambil marah - marah dengan kata yang kurang enak didengar. Padahal kedua pengendara sepeda motor itu sudah minta maaf dan menjelaskan kronologi kejadiannya. Tapi sepertinya Edi tidak peduli. Sampai Kinarsih menghampiri karena mendengar keributan.
" Sudah pak....sudah..malu pak..." Kata Kinarsih sambil menarik lengan Bapaknya.
" Tidak bisa ini harus diperkarakan..bagaimana kalau terjadi apa - apa dengan cucuku"
" Tidak pak...Arga tidak apa- apa hanya shock saja" Kinarsih berhenti sejenak." Oh ya bagaimana kronologinya mas" tanya Kinarsih pada pengendara motor tersebut.
" Sebelumnya kami minta maaf mbak, karena saya tidak bisa menahan keseimbangan sehingga menabrak anaknya mbak, soalnya tiba- tiba dia berlari dari balik pagar dan saya kaget,berusaha ngerem tapi tetap saja kurang cepat karena tingkungan dan mendadak" jelas pengendara motor tersebut.
" Oh gitu, kalau gitu saya juga minta maaf ya mas, namanya anak-anak harap dimaklumi. Anak saya tidak apa-apa silahkan melanjutkan perjalanan" kata Kinarsih dengan sopan menyadari anaknya juga bersalah. Lain halny denga Edi yang masih berkacak pinggang dengan menahan marah. Di masih tidak terima.
" Kalau begitu kami permisi mbak, maaf sekali lagi" kata pengendara motor sambil tersenyum.
" Tidak bisa...harus ganti rugi..tidak tanggung jawab..." Hardik Edi tidak terima.
" Sudah pak....silahkan pergi mas" Kinarsih menahan lengan Bapaknya dan mempersilahkan mereka pergi.
" Kamu ini Kinarsih...bagaimana Arga, enak saja tidak kasih ganti rugi. Siapa yang kan bayar biayanya nanti" sambungnya kemudian.
" Sudah pak... Arga juga salah, dan aku masih ada uang, bapak tidak usah kuatir" sahut Kinarsih sambil berlalu masuk kedalam ruangan dimana Arga berada.
Edi masih mondar-mandir sambil bergumam sendiri. Dia masih kesal. Apalagi Kinarsih tidak memperdulikannya.