"Rish, kamu mau ambil libur hari apa? Kamu kan sudah satu minggu kerja, jadi, sudah bisa ambil jatah libur," tutur salah seorang teman kerjanya. Rachel, gadis manis yang berusia satu tahun lebih muda dari Risha.
Berfikir sejenak, lalu dia menjawab, "Kalau boleh, aku mau ambil libur di hari Kamis ajah Hel, biar bisa libur bareng sama Vania," jawab Risha.
Sengaja ia mengambil jatah libur di hari Kamis, karna sahabatnya libur di hari itu juga.
Setiap karyawan dapat jatah libur, seminggu sekali, dan harus diambil di hari kerja, bukan hari Weekend. Karna biasanya toko ramai pada waktu Weekend.
"Ok, nanti aku bilang sama bu Boss. Lagian hari kamis enggak ada yang ambil jatah libur," jelas Rachel, sambil mencatat jadwal libur yang akan diambil oleh Risha.
"Siiippp!" Risha hanya mengangkat jari jempolnya, sebagai tanda persetujuannya.
***
"Rish, pulang bareng yuk," ajak Rachel, sambil merangkul bahu Risha.
"Boleh deh, kalau kamu enggak repot." Terkekeh, dan dengan perasaan malu-malu Risha menjawab.
Risha orangnya tidak enakan kalau sama orang yang belum terlalu dia kenal. Dia beteman dengan Rachel baru satu minggu ini, karena dia memang anak baru di tempat kerjanya, sedangkan Rachel sudah lebih dahulu masuk ketimbang Risha.
Mereka baru akrab tiga harian ini, Risha yang agak pemalu, berusaha menjaga jarak dengan teman-temannya. Bukan karna sombong atau belagu, tapi karna masalalu yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Susah percaya pada oranglain apalagi orang yang baru dia kenal. Menjadi pendiam, dan berusaha menghindar dari kerumunan orang. Sedikit tertutup, dan jengah bila bertemu dengan lawan jenis. (Eh tapi bukan berarti dia menyukai sesama jenis yaa... Tentu tidaaak!).
Mereka pulang bersama, karna jadwal shift mereka sama.
Bersiap-siap untuk pulang, merapihkan barang-barang yang akan mereka bawa, setelah selesai menyusun laporan penjualan.
Karyawan di sana selalu membuat laporan harian, setiap pergantian shift, agar tidak ada selisih hasil penjualan. Setelah rapih dengan laporan, mereka berpamitan pulang pada teman yang lain, yang berganti shift dengan mereka.
Di toko tersebut hanya ada enam orang karyawan empat orang perempuan, dan dua orang laki-laki. Bukan termasuk toko besar, tapi toko itu termasuk toserba, atau toko serba ada, jadi walaupun terlihat kecil, akan tetepi lengkap di dalamnya.
Dan dalam satu shift ada tiga orang karyawan.
Risha, Rachel, dan Adam, mereka masuk shift pagi hari ini, masuk jam 08:00 s/d jam 16:00. Sedangkan Vera, Lina, dan Dika, dapat shift siang hari ini, mulai dari jam 14:00 s/d jam 21:00.
Karna sekarang hari sabtu, maka tidak ada jatah libur. Dan berlaku juga untuk besok.
Setelah keduanya berpamitan pada teman-temannya, lalu mereka menuju parkiran yang terdapat motor matic milik Rachel. Tak lama setelah mereka keluar, Adam, teman satu shift dengan merek ikut keluar, menuju ke motor capung yang dia punya.
"Rish, Hel, kalian pulang bareng?" Sambil memakai helm Adam bertanya pada ke dua wanita cantik tersebut.
"Ia Bang, aku pengen mampir ke tempat Risha, ia kan Rish?" Rachel beralih menatap Risha.
"Iya." Hanya itu jawaban yang diberikan Risha, disertai dengan senyuman—indah miliknya.
"Ya udah, kalian hati-hati ya," Adam memberikan perhatiannya kepada mereka.
"Ia Bang, makasih," hanya Rachel yang menjawab, sedangkan Risha hanya tersenyum tersipu malu. Bukan lantaran tersipu karna menyukai lawan jenisnya, tapi tersipu, yang benar-benar malu.
Setelah medapatkan jawaban, kemudian Adam menyalakan motor, lalu pergi mengendarai motornya, dan sedikit menundukkan kepala, tanda pamitnya.
Begitu juga dengan Rachel dan Risha, merekapun ikut pergi, meninggalkan parkiran tersebut.
"Rish, nanti kamu yang arahin ya jalannya!" Setengah berteriak, takut temannya yang berada di boncengan, tidak mendengar apa yang dia ucapkan.
"Ia, itu depan belok kiri ya...Terus lurus, enggak jauh dari pos ronda kontrakan aku, Hel," jawabnya, sekaligus memberi arahan pada Rachel.
"Nah, itu Hel yang cat warna biru, itu kontrakan Aku." Menunjuk—rumah kontrakan tiga pintu yang di seberang pos ronda.
Sampai di halaman depan, karna memang kontrakannya masih memiliki sedikit halaman. Lalu turun dan membuka helm yang mereka kenakan. Lalu menuju teras, dan Risha berniat membuka pintu yang masih dikunci. Dan keduanya masuk.
"Duduk dulu Hel, maaf ya begini adanya." Tersenyum canggung, menyuruh temannya duduk di lantai, yang berlapis karpet karakter Masha di ruang multifungsi, bisa jadi ruang tamu, ruang TV, juga jadi ruang makan. "Aku naruh tas dulu ya," lanjutnya, sambil melangkah masuk menuju kamar dan dapur.
Rachel hanya memberi anggukan sebagai jawaban.
Keluar dengan membawa dua gelas teh hangat, menyuguhkannya pada Rachel, lalu dia ikut duduk di sebelah Rachel.
"Minum Hel, maaf cuma ada air aja, enggak ada makanannya." Meringis sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Ya ellah Rish, nyantai aja kalii... Sama, aku juga kaya gini keadaannya, kita kan sama-sama merantau. Nyari duit, bukan nyari kemewahan," Rachel menjawab sambil terkekeh geli, dan Risha pun ikut tertawa.
Memang benar adanya, mereka Perantauan, datang ke Kota ini, untuk mencari nafkah, hidup seperti ini tidak mengapa, asal bisa membantu keluarganya di kampung, itu sudah lebih dari cukup. Risha merantau, mencari pekerjaan karna ingin membantu orangtuanya, karna ayahnya yang sedang sakit, ibu nya tidak bisa lagi bekerja, karna harus mengurus ayah Risha, yang harus berobat jalan.
Sedangkan Rachel, bekerja karena ingin melanjutkan kulyahnya, yang sempat tertunda beberapa tahun.
"Oia Rish, katanya kamu tinggal berdua sama sahabat kamu? Kemana dia?" tanya Rachel yang celingukan mencari sahabat Risha, karna dari dia sampai di sini, hingga sekarang, dia tidak melihat keberadaannya.
"Iya Hel, aku berdua sama dia di sini, dia belum pulang, paling bentar lagi juga pulang," jelas Risha. Dan mereka mengobrol, dengan obrolan-obrolan random, mulai dari pekerjaan, keluarga, juga tentang bagaimana mereka menjalani hari-hari mereka menjadi perantauan di Kota besar ini.
Obrolan mereka diintrupsi oleh suara motor yang memasuki pekarangan kontrakan. Vania yang datang, dia baru pulang dari tempatnya bekerja.
"Eh... ada tamu," ujar Vania, ketika memasuki rumah, diiringi dengan—senyuman hangat.
"Kenalin nih Ni, dia Rachel. Temen gawe gue," ujar Risha ke pada Vania, sambil menunjuk ke arah Rachel. "Hel, ini Vania, sahabat aku," lanjutnya, memperkenalkan dua gadis cantik tersebut.
Rachel dan Vania berjabat tangan, saling memperkenalkan diri masing-masing.
Ngobrol-ngobrol sedikit, dan kemudian Rachel pamit pulang. Tak terasa ternyata matahari sudah berganti tugasnya dengan bulan.
"Aku pulang ya Rish, Van. Sorry ya, ganggu istirahat kalian." Pamit Rachel pada Risha dan Vania.
"Santuy lah, tapi lu jangan kapok ya main ke sini, enggak dikasih makan." Tergelak mereka dengan jawaban Vania.
Risha dan Vania mengiringi Rachel ke depan, sampai dia menaiki motor.
"Hati-hati di jalan ya Hel," ujar Risha ketika Rachel hendak menghidupkan motornya.
"Ia Hel, jangan ngelamun kalau lagi bawa motor ya, nanti bisa-bisa motor lu nasibnya sama kaya nasib motor gue," seloroh Vania mengingatkan Rachel, sekaligus menyinggung orang yang ada di sebelahnya. Sambil menunjukan keadaan motornya yang babak belur, belum diobati.
Risha mencebikkan bibir, sedangkan Vania dan Rachel tertawa puas.
Setelah puas tertawa, Rachel ahirnya meninggalkan kontrakan.
***
"Lu, masih punya hutang sama gue Rish," ucap Vania ketika mereka sedang menikmati pecel ayam yang mereka beli di warung tenda pinggir jalan, sebagai santap malam mereka.
"Ia, gue inget banget. Motor lu belum gue benerin, enggak diingetin juga, gue inget banget!" Mendengus kesal, sambil menyuap nasi uduk yang dia beli.
"Bukan utang itu Arishaaa...!!" Kesal Vania karena Risha tak mengerti maksudnya.
Salah siapa coba, bilangnya hutang, lah... kirain hutang duit.