BAB 6 BANGUNLAH, AKU MENUNGGUMU

1099 Words
Rayu tersentak saat jemari Bagas yang ada dalam genggamannya terasa bergerak. Perlahan mata itu terbuka dan menatap Rayu. Tatapan yang semula nanar tiba-tiba saja berubah jadi penuh kerinduan. “Kenapa kamu masih di sini?” Tanya Bintang lirih. “Nggak usah bahas itu. Sekarang bagaimana keadaanmu?” Rayu melepaskan genggamannya pada jemari Bintang. “Aku lumayan baik-baik saja. Sepertinya dalam tidurku tadi, aku bermimpi tentangmu.” Bintang tersenyum menggoda. “Pikirkan kesehatanmu. Nggak usah gombal terus.” Rayu menggerutu. “Ada seseorang yang memintaku segera bangun karena dia sudah mulai lelah menungguku. Awalnya aku tidak peduli. Tapi dia selalu saja menangis dan membuat tidur panjangku terganggu.” Bintang melanjutkan ucapannya, tak menggubris ucapanku. “Makanya jangan terlalu lama tidur. Jadi kamu terlena dengan mimpimu.” Rayu mencibir. “Tapi aku yakin itu bukan mimpi. Suara itu begitu nyata aku dengar.” Bintang bersikukuh. “Lupakan saja apa yang kamu dengar. Nggak usah dipikirkan itu nyata atau mimpi. Sekarang yang paling penting adalah kesehatan kamu. Allah telah memberikan kesempatan kedua untuk hidupmu.” Ada getar kesedihan sekaligus kebahagiaan dalam suara Rayu. “Jangan lupa tentang kita. Aku pikir Allah juga memberikan kesempatan kedua pada hubungan kita. Eh salah, mungkin lebih tepat jika aku mengatakan kesempatan ketiga ya?”  Tak lama Rayu dan Bintang terjebak dalam mode diam. Tanpa tahu harus mulai bicara dari mana. Rayu gugup dan malu-malu. Bintang sibuk memandang dinding kamar rumah sakit yang bernuansa biru muda. “Sejak kapan kamu sakit?” Rayu kembali menyelami manik mata Bintang. “Sudah hampir empat tahun.” Bintang menjawab sendu. “Jadi waktu kita pertama bertemu dua tahun lalu itu kamu udah sakit? Kenapa nggak cerita?” Rayu menuntut jawab. “Untuk apa aku menceritakan semuanya? Meminta simpati dan belas kasihmu?” Bintang menatap Rayu tajam. Rayu diam. Memilin kedua jemarinya. Sementara Bintang kembali memejamkan mata. Larut dalam lamunan mengingat semua yang awalnya ingin dia sembunyikan dari Rayu. *** Bintang tak pernah berpikir akan bertemu Rayu dalam kondisi sakit. Banyak sekali impian yang ingin diwujudkannya bersama Rayu. Lebih dari satu dekade Bintang berjuang agar dapat menemukan gadis pujaan hatinya itu. Hidup bersama Rayu membangun sebuah keluarga bahagia adalah impian Bintang sejak lama. Sakit yang mendera sempat memupus semua harapan Bintang. Pertemuannya dengan Rayu membuat Bintang berada di ujung dua rasa: bahagia namun menyakitkan. Dokter sudah memvonis kemungkinan umurnya tidak akan lama. Bintang seperti sedang bertaruh dengan takdirnya. Entah takdir seperti apa yang saat itu menantinya dengan Rayu yang kembali hadir mengisi harinya. Membaca nama Rayu pada naskah yang diterimanya membuat Bintang melupakan sakitnya. Tiba-tiba saja musim cinta bersemi di hati Bintang. Bunga-bunga bermekaran. Detak jantung bertalu lebih cepat dari biasanya. Adrenalin berpacu tak terkendali. Dunia Bintang seolah menemukan porosnya: Rayu. Naskah menjadi senjata utama Bintang untuk dapat terus bertemu dengan Rayu. Meski pada kenyataanya naskah yang ditulis oleh Rayu sudah sangat rapi dan tidak membutuhkan banyak perubahan. Bandung-Jakarta menjadi sedekat Minggu ke Senin. Diam-diam Bintang pindah ke Jakarta. Melewati hari dengan menjadi lelaki bayangan untuk Rayu. Ada rasa senang ketika Rayu bersedia menemuinya sampai melupakan Bagas tunangannya. Ingat Bagas, ada nyeri yang menjelaga di hati Bintang. Sebagai laki-laki, Bintang tahu bagaimana tatapan Bagas yang begitu memuja Rayu. Bintang senang ada seseorang yang bisa membahagiakan Rayu sedemikian rupa. Namun cinta tak pernah mudah untuk mengalah. Bintang tak mampu mengendalikan keinginan untuk membawa Rayu kembali kesisinya. Segala cara dia coba agar Rayu melihat kembali padanya. Berhasil. Tanpa Rayu sadari, dia sudah mulai berpaling pada Bintang. Beberapa pertemuan mereka terjadi tanpa sepengetahuan Bagas. Ya, diam-diam Bintang mengamati Rayu. Bukan hal yang sulit karena Rayu masih saja sama dengan Rayu yang dia kenal semasa kecil dan remaja. Tidak banyak yang berubah dari Rayu. Apalagi kebiasan-kebiasannya. Nyari sama seperti yang Bintang ketahui. Tepukan halus di pipinya seketikan membuyarkan lamunan Bintang. “Hmmmm... “ Bintang berguman sambil membuka mata. Menatap dalam-dalam pada mata Rayu. “Bangun. Jangan membuatku khawatir lagi.” Rayu mulai merajuk. “Jadi akhirnya ada yang mengaku nih kalau sebenarnya menunggu aku bangun?” Bintang mengerling nakal. Tentu saja sikapnya itu langsung ditanggapi dengan sebuah cubitan yang mendarat manis di tangannya. Belum lagi wajah Rayu yang sudah memerah seperti tomat akibat menahan malu. “Awwwww... Kenapa sih harus cubitan? Kalau kamu kasih aku ciuman kan lebih enak. Atau malah jangan-jangan aku bisa langsung sembuh.” Protes Bintang. “Apaan sih. Jangan mimpi deh.” “Yu, aku ingin bicara serius.” Bintang berusaha menaikkam tubuhnya agar bisa bersandar. Sigap Rayu memeluk punggung Bintang dengan sebelah tangan lalu membantu lelaki itu menuju posisi yang diinginkan. “Tentang apa? Bukannya dari tadi kamu sudah bicara?” “Sini duduk lebih dekat.” Bintang meminta Rayu mendekatinya. Rayu pun akhirnya duduk di samping Bintang. “Kamu belum menjawab pertanyananku.” “Pertanyaan yang mana?” Rayu menatap tajam. “Kenapa kamu masih di sini? Kenapa menemaniku? Kenapa menunggu dan memintaku untuk bangun?” “Masih harus aku jawab ya?” Rayu bertanya ragu. “Harus. Karena ini sangat penting bagiku.” Bintang setengah memaksa. “Itu... Itu... karena aku mencintaimu.” Rayu menjawab nyaris tak terdengar di telinga Bintang. “Apa kamu yakin dengan perasanmu?” “Maksudmu?” “Ya, apa kamu yakin kalau kamu benar-benar mencintaiku? Atau jangan-jangan karena kamu kasihan saja padaku.” “Aku tidak pernah seyakin ini. Dari dulu juga kamu tahu bagaimana aku mencintaimu. Tapi kamu jahat. Kamu pergi begitu saja. Nggak pernah berusaha untuk memberikan kabar.” “Maafkan aku.” Bintang mulai menyesali tindakannya yang tidak pernah sekalipun memberi kabar pada Rayu. “Sudahlah. Kan yang penting sekarang kita sudah bisa bersama. Aku tidak apa-apa.” “Lalu Bagas bagaimana?” Bintang tentu saja tidak bisa melupakan sosok Bagas yang notabene adalah tunangan Rayu. “Kami sudah berpisah secara baik-baik. Bahkan dia yang memberikan nomor handphoneku pada kakakmu. Dia juga yang memilih untuk mundur karena dia tahu aku masih sangat mencintaimu.” “Jadi sekarang aku sudah tidak punya saingan lagi nih?” “Iya. Puas? “Sangat puas.” Lalu Bintang merengkuh Rayu. Membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Kali ini, dia ingin benar-benar bertarung dengan penyakitnya. Mengalahkan sakit yang selama ini kerap mengganggunya. Semua demi Rayu. Bintang tak mau kalah. Hidupnya bersama Rayu kelak terlalu berharga untuk ditukar dengan apapun. Perlahan batinnya merapalkan doa agar Tuhan membuat takdir baru untuknya: menghabiskan masa tua bersama Rayu dan anak cucu mereka. Ya, tak ada lagi keinginan Bintang saat ini selain sembuh lalu menjadikan Rayu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya kelak. Katakan dia serakah dan egois. Namun Bintang merasa dia pun berhak bahagia. Bukan menyerah pada sakitnya lalu menunggu maut menjemput. Bintang tidak akan pernah menyerah. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD