"Kenapa nggak masuk dalam dunia politik? Saya lihat kamu pintar negosiasi."
"Mas tahu pekerjaan saya, kan? Memang saya meminta pekerjaan seperti apa di Indonesia? Entertaint? Apa mereka bisa menerima saya di usia sekarang? Mereka akan memilih usia belasan dibanding kepala dua, tapi saya yakin dengan bantuan mas saya bisa masuk disana dengan mudah."
Rangga tersenyum tipis mendengar kalimat Viona, wanita dihadapannya bukan wanita yang bisa dikendalikan, tidak jauh berbeda dengan Aya ketika seusia wanita dihadapannya. Mereka saling menatap dalam diam, seakan memikirkan kalimat yang sesuai untuk diungkapkan, tidak boleh ada satu kesalahan kalimat yang dikeluarkan dari bibirnya jika ingin semuanya lancar.
"Saya bisa melakukan permintaan kamu setelah berbicara dengan pemilik H&D Group." Rangga membuka suaranya.
"Susah bicara dengan orang dari dunia politik. Saya yang meminta bantuan, seakan tidak mau rugi menginginkan hal lain dan keinginan mas yang harus dilakukan terlebih dahulu. Saya tidak mendapatkan jaminan jika berhasil melakukan apa yang mas minta. Sayangnya saya hanya mengenal Dona dan orang tuanya, saya tidak dekat dengan keluarga itu secara dalam." Viona mengatakan dengan nada tenang.
Rangga hanya terdiam mendengarkan kalimat yang dikeluarkan Viona, sadar jika semuanya tidak akan mudah "Saya akan membuat kamu bermain film."
Viona mengangkat alisnya mendengar kalimat Rangga dengan nada yang tidak terlalu yakin "Pembicaraan kita ini tidak akan menemukan titik tengah, jadi lebih baik dihentikan saja. Kita tidak mendapatkan solusi yang sesuai dengan keinginan, saya yang meminta terlebih dahulu."
Viona berdiri, melangkahkan kakinya menuju jendela dimana pemadangan kota dengan lampu gemerlap terlihat jelas. Hotel yang dipilih bukan hotel murah, berkali-kali datang kesini sudah membuat Viona tahu semua sudut dari hotel ini. Rangga berdiri disamping Viona tanpa membuka suara, melakukan hal yang sama dan keheningan menemani mereka saat ini.
"Istri mas tahu kalau mas disini?" Rangga menganggukkan kepalanya "Satu ruangan dengan wanita, dimana apapun bisa terjadi."
"Saya bisa membuat alasan, lagipula daritadi kita hanya bicara dan tidak melakukan hal lain." Rangga menjawab tanpa menatap Viona, tatapan yang tetap lurus kedepan dimana lampu-lampu bersinar terang.
Viona tersenyum tipis mendengarnya "Tidak sekarang, tapi tidak tahu kedepannya. Beberapa menit atau jam kemudian, sesuatu yang terjadi kedepan tidak ada yang tahu."
Rangga mengangguk setuju "Apa kamu sedang berubah haluan? Negosiasi berubah menjadi godaan, kamu bukan wanita yang seperti itu."
Viona mengalihkan pandangan "Wanita seperti apa yang ada dalam pikiran mas?"
Rangga melakukan hal yang sama dengan mengalihkan pandangan untuk menatap Viona tepat di kedua matanya "Wanita cerdas, bukan w*************a. Kecerdasanmu itu yang membuat pria tertarik."
"Apa mas juga?" Viona melangkah sangat dekat kearah Rangga, tubuh mereka bersentuhan.
"Ya, saya tertarik dan akan membuat kamu menjadi milik saya."
"Bagaimana dengan keluarga mas? Saya tidak mengarah kearah sana, lagipula mas adalah type yang setia."
"Saya akan melakukan itu jika belum menikah. Sayangnya saya sudah menikah. Image yang saya buat saat ini adalah suami sempurna di mata orang luar, dimana artinya selalu ada untuk keluarga dan terlihat mesra dengan istri."
Viona meletakkan tangannya di lengan Rangga "Apa yang terlihat diluar belum tentu sama dengan didalam. Bukankah kalian sering melakukan itu semua? Akan lebih aman jika memiliki satu wanita yang menemani apabila pasangan tidak bisa. Semua akan aman pastinya, orang sekitar akan menganggap jika itu adalah kekasih atau kepercayaan mas."
Rangga mengangkat sudut alisnya "Apa kamu menawarkan menjadi asisten saya?"
Viona menggelengkan kepalanya, melepaskan tangannya dari lengan Rangga "Aman memang tapi terlalu resiko. Saya nggak mau mengambil resiko itu, karir saya bisa hancur disini nantinya, bukan hanya karir tapi sanksi sosial dimana keluarga saya tidak akan sanggup menghadapinya."
Rangga tersenyum tipis mendengar jawaban Viona, wanita cerdas dalam berpolitik. Keinginannya harus tercapai, dekat dengan pemilik H&D Group. Wanita ini mungkin tidak membawa sampai dekat, tapi dia bisa mengenalkan pada ring pertama dari perusahaan itu. Ring pertama baginya sudah cukup, setidaknya maju ke panggung politik membutuhkan nama besar, walaupun disekitarnya banyak nama besar yang mengelilingi.
"Saya akan membantu kamu masuk ke Indonesia dengan pekerjaan yang sesuai. Apa kamu bisa melakukan apa yang saya pinta?"
"Buktikan dulu!" Viona mendekati Rangga, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Jarak yang dekat membuat mereka bisa menghidu aroma masing-masing, bibir mereka hampir bersentuhan tanpa ada niat untuk menghentikan semuanya. Viona memberanikan diri mengecup singkat bibir Rangga, tangan Rangga memegang dagu Viona memberikan ciuman lembut di bibir tanpa ada niat Viona membalas ciuman yang dilakukan Rangga.
"Kamu memulai, tapi kamu tidak memberikan respon sama sekali." Rangga menatap dalam Viona.
Viona meletakkan tangannya di d**a Rangga, membelainya secara perlahan "Bukankah semuanya terlalu cepat? Apa yang saya lakukan hanya kecupan bukan ciuman. Pembicaraan kita tidak akan mendapatkan titik temu, jadi akan lebih baik diakhiri."
Rangga memegang tangan Viona dengan genggaman lembut "Saya akan hubungi kamu jika berhasil mendapatkan pekerjaan untukmu, tapi saya berharap kamu bisa membuat saya berkenalan dengan orang yang berada di H&D Group."
"Kita lihat nanti."
Melepaskan genggaman tangannya, menatap kembali pemandangan kota yang ada disamping. Rangga melakukan hal yang sama, tidak ada yang membuka suara seakan keheningan adalah suara yang akan membawa mereka memahami pertemuan ini.
"Kalau begitu saya pamit." Viona membuka suaranya.
Rangga hanya diam, tangannya menggenggam tangan Viona lembut "Kamu harus siap ketika nanti saya hubungi."
Viona menganggukkan kepalanya "Mas nggak perlu khawatir."
Rangga tidak bisa menahan dirinya, membalikkan tubuh Viona dan mencium bibirnya yang kali ini berbeda dibanding sebelumnya. Rangga menuntut balas atas ciuman yang dilakukannya, menggigit bibir Viona agar membuka dan membalasnya, bibir Viona terbuka yang tidak disiakan Rangga dengan memasukkan lidahnya kedalam, ciuman mereka semakin dalam dengan saling bertukar saliva. Merapatkan tubuh mereka tanpa melepaskan ciuman, dorongan pelan dilakukan Viona yang akhirnya ciuman mereka terlepas, menghidu udara seakan telah lari marathon.
"Saya harus pulang, terlalu lama kita bersama tanpa ada kepastian." Viona membuka suaranya terlebih dahulu "Boleh pinjam kamar mandi? Saya mau merapikan penampilan."
Langkah kakinya menuju ke kamar mandi di kamar ini, masuk kedalam dengan menutup pintunya, menatap penampilan depan cermin, hembusan kasar dikeluarkan mengingat ciuman mereka dan sama sekali tidak menyangka jika Rangga sangat ganas. Melihat sikapnya yang lembut dan tenang, pastinya tidak menyangka jika pria itu bisa ganas hanya dengan ciuman dan mungkin juga ranjang.
"Saya pulang dulu, mas." Viona berdiri dihadapan Rangga yang menatap ponsel.
"Saya tertarik sama kamu, saya tidak pernah mengatakan ini pada wanita lain. Kamu tahu arti dari ciuman tadi kan? Kita sudah dewasa dalam mengartikan ciuman yang baru saja terjadi, saya harap pemikiran dan perasaan kita sama."