05

875 Words
“Lihat baik-baik videonya, Ana!” Perintah yang diucapkan sang ayah dengan keras membuat Anandhiya tak mampu menguasai diri ataupun menghilangkan ketegangan. Walau hingga detik ini masih memilih bungkam, nyatanya Anandhiya menurut. “Bagaimana menurutmu itu, Nak?” tanya Pak Handy dengan kegeraman yang kentara lewat suara berat beliau. Anandhiya pun tidak segera menjawab, masih serius memerhatikan putaran rekaman dari CCTV di kafe, siang kemarin. Anandhiya belum mampu menebak-nebak video tersebut dikirim oleh siapa kepada sang ayah. “Bisa-bisanya bersikap memalukan seperti itu!” Tarikan napas panjang dilakukan Anandhiya, tepat setelah ayahnya mengeluarkan u*****n marah. Ia tidak kaget sama sekali akan reaksi yang diterima. Hanya saja, Anandhiya menganggap jika ayahnya berlebihan kali ini. “Aku tidak bersikap memalukan, Pa.” Pembelaan diri jelas diluncurkan Anandhiya secara teran-terangan. “Apa Papa tidak lihat siapa yang mencari masalah? Menurut Papa, apa Surya tidak salah?” Serangan pertanyaan balik dilontarkan oleh wanita itu tanpa takut sama sekali.  “Jelas dia salah!” Pak Handy berseru geram.  “Walau dia salah, kamu tidak perlu melakukan hal yang memalukan seperti di video itu, Ana.” Beliau semakin meninggikan suara serta memberi penekanan keras di setiap kata. Amarah beliau juga kian bertambah.  Anandhiya memilih diam. Tak cepat menanggapi. Ia pun berpikir ulang akan ulahnya kemarin. Namun, di dalam hati kecilnya, Anandhiya merasa benar. Tidak salah akan tindakan dilakukannya sebagai balasan atas sikap arogansi Surya. “Apa kamu tahu akibat buruk yang kamu ciptakan karena peristiwa kemarin, Ana?” Pak Handy meluncurkan pertanyaan dengan kegeraman tak kunjung berkurang. “Jika efeknya tidak serius, makanya aku sampai Papa panggil ke kantor. Padahal, aku sudah berhenti dari waktu ini bekerja di perusahaan.” Anandhiya menjawab dengan lancar, tanpa sedikit pun ada rasa takut yang diperlihatkan. “Bagus jika kamu sudah menyadari, Nak.” “Lantas, tanggung jawab apa yang bisa kamu janji lakukan jika pihak perusahaan milik keluarga Surya menunda kerja sama pembangunan proyek hotel bintang lima?” “Papa sudah berinvestasi ratusan milyar, Nak. Papa tidak ingin rugi di sini hanya sikap burukmu, Ana.” Anandhiya pun membisu. Kemampuannya guna cepat menjawab hilang begitu saja. Terlebih, tatapan tajam dari sang ayah membuatnya mulai tidak nyaman. Akan tetapi, wanita itu berupaya tetap berdiri tegap dengan kedu kaki jenjangnya dan memandang balik sang ayah. Meski, mulai merasa bersalah. “Bagaimana, Anandhiya?” Pak Handy kehilangan rasa sabar karena putri beliau tak menyahut segera.  “Lalu, apakah yang harus aku lakukan, Pa? Berikan perintah kepadaku supaya nanti aku tidak salah bertindak lagi, Papa.” Anandhiya menjawab selang lima detik pasca indera pendengarannya bisa mengerti akan tuntutan dari sang ayah yang mesti dipenuhi. Ia pasti tak dapat mengelak. “Minta maaf kepada Surya agar tidak merusak kerja sama perusahaan Papa dengan keluarganya. Tunjukkan sikap bertanggung jawab atas kesalahan yang kamu lakukan.” Pak Hendri terus memusatkan pandangan ke sosok putri beliau yang masih berdiri di depan meja kerja dalam sorot mata serius. “Papa sudah memperbolehkanmu membatalkan pertunangan dengan Surya.” “Dan, memberikan izin padamu menikah bersama pria yang bukanlah pilihan Papa. Jadi, satu kali saja Papa minta bantuan darimu, Nak.” Suara Pak Handy telah bisa sedikit dilembutkan. Terselip permohonan juga yang teralun tegas. Anandhiya mengangguk pelan. “Oke, Pa.” “Aku akan meminta maaf ke Surya,” ucap wanita itu berjanji. “Aku harus tetap bertanggung jawab atas kejadian kemarin yang sudah aku lakukan pada Surya.” “Aku tidak ingin egois atau sampai membuat kerja sama Papa dengan perusahaan keluarganya jadi batal,” imbuh Anandhiya dalam suara serta ekspresi begitu serius. “Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku, Ana. Aku yang harusnya minta maaf denganmu.” Anandhiya secara cepat menolehkan kepala ke arah pintu utama ruangan kerja sang ayah. Di sana, sosok mantan tunangannya terlihat. Anandhiya pun seketika jadi dirundung oleh keterkejutan. Terlebih lagi, Surya kini semakin berjalan menuju ke arahnya. Anandhiya tanpa disadari sendiri malah memundurkan langkah kakinya. Tak ingin terlalu dekat. “Aku yang harus benar-benar meminta maaf sama kamu karena kesalahan besarku dulu, Ana. Sekarang, rasa sesal terus menghantuiku,” ucap Surya dengan serius seraya cepat mengambil posisi berlutut di depan Anandhiya. “Aku masih sangat mencintaimu, Ana. Aku ingin benar-benar meminta maaf, dulu pernah lari dari tanggung jawabku. Tolong beri aku kesempatan memperbaiki, Ana.” “Tanggung jawab apa yang kamu maksudkan, Surya? Jelaskan kepada saya.” Pak Handy langsung menunjukkan reaksi atas perkataan pemuda itu yang tak beliau pahami. “Maafkan saya, Om. Dulu Ana pernah hamil. Saya minta dia untuk menggugurkan kandungan. Tapi, dia tidak mau dan memilih tetap mempertahankan anak kami.” “Sekarang anak kami yang dititipkan Ana di panti asuhan sudah berada dengan saya.” Surya menambahkan.  “Berani sekali kalian melakukan perbuatan yang tercela dan juga memalukan!” Pak Handy berseru penuh amarah. “Bohong! Aku belum pernah hamil ataupun melahirkan seorang anak, Pa. Percaya padaku.” Anandhiya memohon. Pak Handy menajamkan tatapan beliau. “Jika apa yang dikatakan Surya bohong. Bisa kamu jelaskan alasan kepada Papa, kenapa kamu dulu pernah minta tinggal di Singapura selama 1,5 tahun, Nak? Apa alasannya?!” “Aku ikut menjaga kakak Surya yang sakit di sana, Pak. Anak dititipkan di panti asuhan, bukan buah hatiku. Tapi, anak dari kakaknya Surya yang sudah meninggal.” Tak ragu Anandhiya membongkar rahasia, demi menghindari terjadi kesalahapahaman ayahnya yang berkelanjutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD