.....................
"Kamu kira siapa yang mendonorkan ginjal pada dirimu, Ana?"
Anandhiya memandangi langit kamarnya dengan kedua pelupuk mata yang mulai berair hingga pandangan wanita itu juga dibuat perlahan mengabur. Cahaya lampu kamar yang menerangi pun tak terlalu dapat dilihatnya.
"Cuma mimpi 'kan?" gumam Anandhiya pelan.
"Kenapa dia selalu hadir? Kenapa aku suka terus mengingat Surya? Padahal, dia sudah menghianatiku."
Bunga tidur yang dialaminya tadi terasa nyata. Ia bahkan masih sulit untuk memercayai jika semua hanya mimpi buruk belaka. Ucapan Surya dapat diingat dirinya dengan sangat baik. Entah mengapa, lantas timbul sedikit harapan Anandhiya yang mustahil terwujud.
"Andai benar saja Surya nggak selingkuh seperti dalam mimpiku. Pasti aku akan senang." Anandhiya pun melanjutkan monolognya dengan nada getir. Dan, kedua mata Anandhiya kembali berair. Ia kini mengisak kecil.
"Kenapa aku sulit melupakanmu. Padahal, kamu sudah tega berselingkuh di belakangku." Anandhiya tak kunjung usai mengungkap perasaan yang sebenarnya ia ingin kubur dalam-dalam. Namun, semakin kuat dirinya mengingkari, maka kian sukar dilupakan.
"Udah bangun, Na?"
Anandhiya buru-buru bangun dari posisinya yang tengah berbaring, lalu duduk bersila di atas kasur. Atensi Anandhiya tertuju ke depan, tepat pada sosok sang suami yang tengah berdiri gagah, namun memunggunginya.
"Udah," sahut Anandhiya singkat. Tak tahu harus mengeluarkan kata tambahan apa lagi sebagai jawaban
"Aku kira kamu akan tidur sampai pagi, Dhiya."
Anandhiya tetap menggeleng pelan, walau sudah tahu jika suaminya tak akan melihat. Titik fokus darinya pun tidak berpindah dari pria itu yang sedang berganti baju. "Aku belum mandi dan sembahyang."
"Nggak mungkin aku tidur sampai pagi."
Setelah selesai menjawab, Anandhiya lalu turun dari tempat tidur. Melangkah cepat menuju ke suaminya. Sedetik selepas berdiri di belakang pria itu, maka tak ada kecanggungan atau sungkan untuk Anandhiya memberi pelukannya. Mendekap dengan cukup erat.
"Danan," panggilnya kemudian dalam suara yang pelan, tapi terdengar begitu lembut. "Aku ingin bil—"
"Apa, Na? Tumben mau peluk. Udah nggak sabar ya pengin produksi anak? Sabar dulu, Sayang." Sengaja memang Danan memotong perkataan istrinya. Lontaran guyonan juga telah ia rencana keluarkan guna menggoda wanita itu seperti biasa yang suka dilakukannya.
Dan tidak dapat dimungkiri bahwa detak jantung Danan bertambah oleh perlakuan manis dari istrinya. Tak pernah ia duga sama sekali. "Sabar, Na. Nunggu malam dikit yah? Baru kita mulai proyek."
"Ngeselin emang ya, kamu." Anandhiya pastinya akan merasa kesal dengan candaan suaminya. Tetapi, ia belum melepaskan lingkaran tangan, masih memeluk.
Danan terkekeh. Sudah bisa menebak jika reaksi yang diterimanya akan negatif. Meski demikian, ia tetap senang bisa menggoda sang istri. Dan dengan cekatan, ia lantas membalikkan badan. Alhasil, dirinya serta wanita itu saling berdiri berhadap-hadapan.
"Danan." Anandhiya berucap lembut dan senyum lumayan lebar dipamerkannya. "Boleh nggak minta janji sama kamu?" Anandhiya bertanya kali ini dengan nada yang serius. Tatapannya pun menyiratkan hal sama.
Danan mengangguk. "Minta apa, Dhiya?"
"Jangan pernah selingkuh, aku tahu kamu player. Walau kita nikahnya pura-pura. Jangan ada pengkhianatan tolong." Anandhiya mengutarakan permintaan.
Kekehan tawa diloloskan oleh Danan. Cukup tak paham akan sikap istrinya malam ini. Sungguh, ia belum bisa mengerti. Meski demikian, Danan mengiyakan saja apa yang diinginkan istrinya dengan mudah.
"Aku nggak akan selingkuh, Na. Sekalipun dulu kamu suka bilang aku player." Danan menanggapi lalu.
"Lagian, kalau udah nikah. Aku mau setia dengan satu wanita. Istriku. Itu kamu, Dhiya," imbuhnya. Tidak ada kebohongan atau bualan yang dilontarkan Danan.
"Kata kamu pernikahan kita nggak pura-pura lagi 'kan, Na? Kok tadi ngomongnya gitu." Kini pertanyaan sarat akan kebingungan diloloskan oleh pria itu.
Anandhiya tersenyum. "Oh, kamu mau kita jadi nikah selamanya? Terus tinggal bareng serumah dan kita juga punya anak?" Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya dengan konyol. Ceritanya, ingin mengetes.
Danan mengembuskan napas jengah. "Iyalah, Na. Nggak usah nanya lagilah kalau misalkan paham," jawab pria itu sedikit ketus dan kesal.
Anandhiya tertawa. "Make me love you, Sayang. Then, I'm yours." Selesai mengucapkan kalimatnya dalam bahasa Inggris yang lancar, Anandhiya pun menjinjitkan kaki dan kian mencondongkan badan ke depan.
Cup!
Tubuh Danan seketika membeku selepas kecupan singkat di bagian pipi kiri diperolehnya secara tiba-tiba, dilakukan sukarela tanpa diminta. Sungguh, Danan tidak menyangka sama sekali mendapat hadiah indah. Debaran jantungnya semakin meningkat, terlebih lagi dipamerkan senyum cantik istrinya. Danan terpukau.
"Aku mencintaimu, Anandhiya. Love me," ucap pria itu lancar. Menyuarakan perasaan untuk sekian kali agar sang istri tahu cintanya yang besar.
..............