............ Jam makan siang telah dimulai 15 menit lalu, tapi Danan belum bisa mengisi perut keroncongannya dengan makanan di food area yang disediakan kantor. Ia memilih lebih dahulu menyerahkan dokumen kepada mertuanya. "Sett, nervous." Danan bergumam dengan suara beratnya yang dikeluarkan sangat pelan kala sudah berdiri di depan ruangan direktur utama, ayah dari Anandhiya. Danan pun mengurungkan niatan mengentuk daun pintu sampai rasa groginya berkurang sedikit. Ia memang masih kerap saja seperti ini. Ya, gugup bertemu sang ayah mertua. Walau, untuk sekadar urusan pekerjaan. "Kenapa di sini, Nak? Tidak masuk?" Kekakuan seketika menjalari kedua tangan beserta juga kaki-kaki Danan ketika suara lembut milik sang ibu mertua menyapa masing-masing gendang telinganya. Tak dapat menyembu

