03

1434 Words
    Ketegangan terlihat nyata pada wajah tampan Surya. Atensi dari pria itu terus ditujukan ke pintu utama ruang kerja Dedhisya. Benar, ia kini sedang menunggu kedatangan Anandhiya, mantan tunangannya. Ingin sekali ia bertemu.  Dan kala, daun pintu mulai menunjukkan ada pergeseran, maka pria itu secepatnya bangun dari sofa. Lalu, berjalan segera ke arah sana. Tepatnya setelah mata Surya dapat bersirobok dengan manik cokelat teduh Anandhiya, pria itu tidak lupa mengulas senyum, meski hanya tipis saja.  "Hai, Ana." Surya menyapa dalam nada yang bersahabat, namun yang diperolehnya tidak sesuai harapan. Anandhiya tak memerlihatkan senyuman sama sekali, malahan tak membalas. Ia jadi sedikit merasakan kekecewaan.      "Jangan pergi, Ana. Kita perlu bicara," pinta Surya halus. Ia harus menjelaskan suatu hal dan meminta maaf atas kesalahannya yang sangat fatal di masa lalu.      Sementara, Anandhiya tidak ingin menggubris apa yang pria itu katakan. Fokusnya hanya diarahkan ke meja kerja Dhisya. Dan tiba-tiba saja, ia menjadi geram. "Ke mana dia?" Anandhiya bertanya dengan suaranya yang dingin.      "Dhisya di ruang rapat."     Decakan pelan nan sinis dikeluarkan oleh wanita itu tepat setelah Surya menyahutnya. "Dhisya berbohong padaku? Apa kalian ini sengaja bersekongkol. Benarkah?" Kesinisan Anandhiya tak berkurang. Tatapan menajam.  Anandhiya tidak akan menunggu balasan mantan pria yang dicintainya itu, bahkan ia tak terbersit keinginan untuk berada dalam satu ruang sama dengan Surya lebih lama lagi. Kumuakkannya pasti dapat menguak kembali jika berhadapan dengan pria itu, setiap mereka berdua harus berjumpa.      "Lepaskan!" Seruan yang lumayan keras Anandhiya loloskan saat tangannya dipegang tanpa izin oleh Surya.      "Kita berdua perlu bicara sebentar, Ana. Aku butuh penjelasan dari kamu tentang pernikahan kalian."      "Danan itu musuhku! Apakah kamu memang sengaja melakukan semua karena ingin membalas dendam padaku yang pernah selingkuh dulu? Benar?" Surya ikut meninggikan suaranya tanpa disadari. Ia jadi semakin emosi.      Kilatan amarah tampak jelas pada sepasang mata beriris cokelat Anandhiya. "Percaya diri sekali kamu! Aku menikah dengan dia karena aku memang cinta sama Danan. Apa kamu masih tidak bisa terima, hah?! Harusnya tahu kenyataan.”      "Apakah juga ada larangan, kalau aku tidak boleh menikah dengan pria yang kamu anggap musuh, Surya?" Anandhiya seakan-akan ingin menantang. Jika mantannya coba mencari masalah, ia siap meladeni.      "Benar. Tidak boleh! Dia tidak pantas untukmu!”  Emosi Anandhiya meningkat. "Lalu, apakah kamu pikir kalau kamu itu sudah lebih baik dari Danan? Jangan terlalu munafik! Kesalahan kamu terlalu fatal, Berengsek!”      "Masalah perselingkuhan. Aku sudah berulang kali minta maaf. Apa belum cukup? Aku sangat menyesal.” "Dan aku tidak akan pernah dapat rela kamu jadi istri orang itu! Danan tidak pantas buat kamu, Ana." Surya tidak kalah diselimuti oleh amarahnya. Ia cemburu wanita itu kini dimiliki orang lain. Terlebih lagi musuhnya.  "Lo nggak pantas bilang gue ini, nggak layak untuk Dhiya! Lo lebih baik intropeksi diri lo sendiri, Bung!”  Setelah mengenali betul siapa si pemilik suara, tidak lain adalah pria yang sekarang berstatuskan suaminya, maka titik fokus Anandhiya langsung saja tersita ke ambang pintu. Terlihatlah, sosok gagah Danan tengah berdiri di sana sambil menatap ke arahnya. Sungguh diluar dugaan.  Meskipun, masih dirundung kekagetan, namun atensi Anandhiya tidak teralihkan dari sosok suaminya. Ekspresi ketegasan yang dipamerkan pria itu, berhasil membiusnya hingga dua menit. Anandhiya pun lantas cukup terkejut, saat tangan kanannya digenggam Danan serta mendapat kecupan di kening. Tubuh Anandhiya mendadak kaku.  "Tanpa izin gue. Jangan berani lo temui lagi calon ibu dari anak gue. Kalau lo nggak ingin nambah masalah dengan musuh lo ini, Surya." Danan memperingatkan.  "Ibu dari anak gue? Kapan aku hamil?" Anandhiya berbisik di telinga suaminya. Sedikit tak setuju.  ....................................................................................     “Dhiya.” Danan memanggil dalam nada dialunkan dengan sehalus mungkin. Walau sebenarnya, ia tengah merasa heran melihat wanita itu ‘kalap makan’ siang hari ini.     Bayangkan, sang istri yang bertubuh kurus, bahkan cenderung terlihat langsing bagi ukuran pria seperti dirinya, memiliki selera makan yang tinggi. Danan sudah tahu fakta satu ini lama, sejak mereka berdua masih SMA.     “Dhiyaa,” panggilnya kembali. Sebab, belum ada respons diperoleh dari sang istri. “Anandhiya, Sayangg.” Danan mulai tak sabar. Ia tidak suka diabaikan. Tatapannya terus tertuju ke sosok sang istri, wajah cantik wanita itu tentunya.     Sementara, Anandhiya seketika menjadi sukses merinding, dikala mendengar Danan memanggilnya mesra. Ia belum terbiasa. “Apaa?” tanggap wanita itu seraya menaruh sumpit yang dipegang di atas meja makan restoran.     Danan pun memilih lebih dulu menggeleng, hanya sebanyak dua kali, tanda jika ia kurang sreg akan balasan dari istrinya yang singkat. Apalagi, terselip kentara nada galak.     “Belum kenyang juga, Na? Kamu udah makan empat mangkuk ramen,” tanya Danan lantas. Tepatnya, berusaha untuk mengingatkan. Menurutnya tidak baik saja, jika makan berlebihan, harus ada batasan yang meski diterapkan.     “Belum.” Anandhiya hanya meluncurkan sepatah kata sebagai jawaban sembari menggelengkan kepala.     “Aku mau tambah lagi,” ucap wanita itu terkesan cuek, dan tanpa berniat menatap balik sang suami yang tengah memandangnya. Atensi Anandhiya masih terpusat ke arah meja, yakni pada mangkuk ramen yang telah kosong.     Danan berdecak pelan. “Jangan nambah lagilah, Na. Nanti berat badanmu bisa naik dan melar.” Danan secara tidak sengaja meloloskan kalimat berbau sindiran. Meski, ia tak bermaksud demikian sesungguhnya.     Sudah pasti, Anandhiya menanggapi negatif perkataan suaminya barusan. Jelas juga, ia tersinggung. “Bodolah, mau melar atau nggak, aku nggak peduli,” jawab wanita itu seolah ingin acuh tak acuh. Namun yang ada malahan sebaliknya, Anandhiya menjadi semakin kesal sendiri.     “Bagiku juga nggak akan masalah punya istri gendut, Na.” Dan meloloskan godaan dilengkapi senyuman jahilnya seperti biasa jika sudah mengguyoni sang istri. “Walau ntar gendut, cantikmu nggak hilang, Na. Memesonalah tetap buatku.” “Cuma kamu dari tadi udah makan ramennya yang pedas. Nggak bagus aja, Na. Nanti lambung kamu bisa kena dampaknya. Kamu juga punya riwayat maag ‘kan?”     Sementara, selepas mendengarkan ucapan yang sang suami lontarkan begitu santai, maka Anandhiya buru-buru menunjukkan reaksi. Tidak hanya berupa pelototan mata saja, wanita itu lantas memerlihatkan kegemasan dengan segera mengambil sumpit yang tadi diletakkan di atas meja. Lanjut, diarahkan ke wajah Danan, tepatnya di bagian mulut.      “Sayang, aku nggak pernah terpesona sama kamu. Ketampanan kamu itu biasa aja dilihat.” Anandhiya tidak segan untuk membalas dengan kata-kata pedasnya. Sedangkan, sumpit yang dipegang saat ini sudah difungsikan menjepit mulut suaminya, walau tidak keras. Sebab, tak akan tega.     Dan kemudian, Anandhiya sedikit diselimuti rasa kaget, tatkala sumpitnya dirampas oleh pria itu. Ia pun ingin meluncurkan serangkaian kalimat sindiran kembali, namun ditahan. Anandhiya tidak ingin terlibat perdebatan dengan suaminya, mengingat mereka kini sedang tak di rumah. Jadi, ia harus menjaga kesopanan dan juga sikapnya.     “Yakin nggak pernah terpesona dengan kecakepan aku, Na? Dulu waktu kita SMA itu apa, dah?” tanggap Danan masih dilengkapi dengan pameran senyum jahilnya. Ia hanya mendapat gelengan kepala dari sang istri sebagai balasan.     “Ya, oke. Sekarang emang kamu belum terpesona. Tapi, lihat saja kedepannya. Pasti kamu bakalan menyadari ketampananku keseluruhan.” Danan berucap percaya diri.     “Kedepannya sampai kapan, ya? Pernikahan ini ‘kan cuma setahun doang. Kita nikah juga nggak benara—“     Demi apa pun, Anandhiya sungguh sangat kesal akan kata hendak dilontarkannya harus terpotong karena secara tiba-tiba sepotong dimsum masuk ke dalam mulut, tentu sang suamilah bertindak sebagai pelaku. Sungguh, ia kian jengkel.     Dan ketika, delikan baru sepuluh detik Anandhiya perlihatkan, wanita itu kembali dibuat kaget tatkala sosok sang suami berpindah duduk di sampingnya dan terukir ekspresi jahil yang sangat tak ia sukai. Tampak menyebalkan. Anandhiya lantas buru-buru mengunyah dimsum, ia ingin meluncurkan protes segera. Akan tetapi, kembali harus tertunda karena lagi-lagi harus mengalami kekagetan. Tangan kanan sang suami melingkar sempurna pada pinggangnya tanpa ada permintaan izin terlebih dahulu. “Singkirin tangan nakalmu cepat, Danan!” Anandhiya memeringatkan dengan raut wajah galaknya. Danan pun hanya mengangguk pelan. Namun, ia tak kunjung juga melakukan seperti yang sang istri perintahkan barusan. Danan semakin mendekatkan wajahnya, menipislah jarak yang memisahkan mereka berdua kini. “Cepat singki—“ Cup! Ucapan Anandhiya harus kembali terputus. Tubuh wanita itu pun jadi mendadak membeku akibat ciuman singkat di bagian kening yang diperolehnya dari sang suami, alhasil Anandhiya jadi kehilangan kemampuan berbicara. Ia hanya menatap balik sang suami yang tengah memandangnya. “Aku sayang kamu, Na. Kamu harus tahu itu.” Mendengar perkataan Danan, rasanya Anandhiya sulit untuk menelan ludah. Bahkan, seperkian detik juga berdampak pada napasnya yang tidak teratur. Anandhiya benar-benar masih asing dengan momen seperti ini. “Danan, aku nggak pa—“ BUGH! Untuk sekian kali, Anandhiya dilanda kekagetan. Bukan karena perlakuan mesra lagi yang dilakukan oleh sang suami, melainkan pukulan keras diterima oleh Danan dari mantan tunangannya yang kurang ajar. “Apa-apaan kamu, Surya!” seru Anandhiya marah. PLAK! Tangan Anandhiya menampar secara refleks pipi kiri mantan tunangannya. “Jangan sekalipun kamu mencoba menyakiti suamiku, Surya! Atau kamu terima akibatnya!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD