Dua Pria Tak Dikenal Menghadang Perjalanan Denis

1207 Words
Marcel dengan serta-merta langsung menceritakan tentang apa yang baru saja ia alami kepada sahabatnya itu. "Aku diberhentikan dari pekerjaanku, Den," ungkap Marcel lirih. Mendengar perkataan dari Marcel, Denis tampak kaget. "Diberhentikan?!" "Iya, aku diberhentikan oleh tuanku," kata Marcel sambil tersenyum-tersenyum. Denis mengerutkan kening, seakan-akan tidak percaya dengan perkataan Marcel. "Masalahnya apa, Cel?" tanya Denis tampak penasaran. Marcel hanya tersenyum-senyum, kemudian menarik napas dalam-dalam. "Aku dipecat karena urusan hati sama seorang gadis yang sangat aku cintai. Dia tiada lain, putri semata wayangnya Tuan Tau Chun Ho," tandas Marcel di antara deru napasnya. Sekilas terlihat jelas dari bola matanya ada bulir bening membumbung hanya dengan satu kedipan saja, bulir bening itu jatuh dan menetes membasahi wajahnya. Denis memahami apa yang tengah dirasakan oleh sahabatnya itu. Sehingga, ia pun mulai memberikan nasihat agar Marcel tidak terlalu mendalam larut dalam kesedihan. "Kamu tenang saja! Jodoh, kematian, dan rizki. Itu semua sudah menjadi ketentuan Tuhan. Percayalah dan yakin! Bahwa kekasihmu tentu merasakan hal yang sama, berjuanglah demi cinta kalian!" kata Denis penuh kebijaksanaan, menasihati sahabatnya dengan setulus hati. "Iya, Den. Aku pun berpikir demikian," imbuh Marcel menghela napas dan bersandar di sopa. Satu jam lamanya Denis berbincang santai dengan Marcel. Setelah hampir menjelang sore, ia pun langsung pamit kepada sahabatnya itu, dan berjanji akan kembali berkunjung esok harinya. **** Sekitar pukul lima sore, tampak sebuah mobil sedan mewah berwarna merah mengkilap berhenti di bahu jalan tepat di depan kediaman Marcel. Dari dalam mobil tersebut tampak seorang gadis cantik berkulit putih dan bermata sipit tengah bersiap untuk keluar dari mobilnya. "Semoga Marcel baik-baik saja, dan tidak terlalu merasa sakit hati dengan perbuatan ayahku," desis gadis cantik itu langsung keluar dari dalam mobil. Gadis cantik tersebut adalah Alexa yang di kesempatan sore itu hendak menemui Marcel di kediamannya sesuai dengan apa yang ia janjikan melalui pesan singkatnya. Langkah Alexa begitu indah dipandang mata, lekuk tubuh yang ramping terbalut t-shirt merah muda dan mengenakan celana jins abu-abu menambah keindahan penampilannya kala itu. Siapa pun prianya yang menyaksikan pemandangan seperti itu, sudah barang tentu akan tergoda. Tiba di depan pintu rumah sederhana milik sang kekasih, Alexa langsung mengangkat tangan kanannya. Secara perlahan ia mulai mengetuk daun pintu rumah itu, "Tok ... tok ... tok ... Marcel!" ucap Alexa lirih, berdiri di depan pintu sambil menggenggam sebuah plastik kantung besar yang di dalamnya terdapat sebuah kotak makanan yang sengaja ia bawa untuk Marcel. Marcel tak lekas menyahut, ia pura-pura tidak mendengar ucapan dari kekasihnya itu. Sehingga Alexa pun menjadi penasaran dan kembali mengetuk pintu rumah tersebut. Meskipun demikian, Marcel tetap diam dan tidak menyahut. "Marcel ke mana, yah?" Alexa bertanya-tanya sendiri. "Jangan-jangan, Marcel sedang tidur di kamarnya?" desis Alexa sambil mendorong pintu dengan harapan pintu rumah itu tidak terkunci dari dalam. "Pintunya tidak dikunci, tapi orangnya tidak menyahut panggilanku?" kata Alexa mengerutkan keningnya. "Marcel! Ini aku Alexa, Sayang!" Alexa mulai melangkah perlahan masuk ke dalam rumah sederhana itu. Ternyata saat itu Marcel sudah bersembunyi dekat pintu. Setelah Alexa masuk sepenuhnya ke dalam rumah, Marcel langsung memeluk erat tubuh Alexa. Sebuah pelukan yang sangat mengagetkan Alexa yang baru saja berjalan beberapa langkah masuk ke dalam rumah tersebut. "Astaga, Marcel!" hardik Alexa mendelik ke arah Marcel. Marcel hanya tersenyum, kemudian langsung mengangkat tubuh Alexa dan membawanya menuju tempat duduk yang ada di ruangan tengah rumah itu. Setelah mendudukkan Alexa, Marcel tertawa lepas sambil mencubit pipi kekasihnya itu. Hal itu memancing emosi Alexa, hingga pada akhirnya ia pun memukuli pundak Marcel dengan bantal kecil. "Kamu jahat banget, jantungku hampir mau copot!" ujar Alexa memukuli Marcel. Kemudian, ia menghentikan pukulannya dan langsung memeluk erat tubuh pria tampan itu. "Aku kangen kamu, Sayang," desis Alexa manja. Dengan serta-merta, Marcel pun balas mendekap erat tubuh Alexa penuh rasa cinta. Sentuhan bibirnya pun mendarat sempurna di kening Alexa. Kemudian membelai rambut halus kekasihnya itu sambil berkata lirih, "Baru beberapa jam saja, rasa rindu ini sudah membelenggu jiwa. Apalagi kalau sebulan tidak bertemu, mungkin aku akan sakit jiwa." "Maafkan aku ya, Cel. Aku tidak bisa mencegah ayah!" ucap Alexa lembut. "Tidak apa-apa, Sayang! Aku tidak marah pada ayahmu. Dan harus kamu ketahui, bahwa ini semua adalah awal ujian bagi perjalanan hubungan cinta kita!" kata Marcel sambil tersenyum manis. Alexa pun tampak semringah dan merasa senang dengan kalimat yang terlontar dari mulut kekasihnya itu. Seakan-akan, pria tampan itu tidak sedikitpun menyimpan rasa dendam dalam dirinya, meskipun sudah diperlakukan tidak adil oleh Tuan Tau Chun Ho–ayah Alexa. "Oh, iya, hampir lupa. Aku bawakan makanan kesukaan kamu," kata Alexa membuka kresek merah dan langsung meraih kotak makanan di dalamnya. "Kamu makan ya, Sayang?" tanya Alexa menyerahkan kotak makanan tersebut kepada Marcel. "Sebenarnya aku sudah makan. Tapi—," Marcel menghentikan ucapannya, karena ia terkejut dengan isi makanan di dalam dus kotak itu. "Tapi kenapa, Cel?" timpal Alexa memandang wajah Marcel yang tampak terkejut menatap makanan dalam dus kotak itu. "Tapi bohong!" jawab Marcel disertai tertawa lepas, "Ha ... ha ... ha ...." Sontak Alexa mencubit hidung Marcel tampak begitu gemasnya. "Ya, sudah. Kamu makan dulu!" kata Alexa tersenyum manis memandangi wajah tampan pria yang sudah membuatnya luruh itu. "Ini makanan spesial bagiku, terima kasih ya, Sayang." Marcel kembali mencium kening Alexa. Setelah itu, ia langsung menikmati makanan tersebut diiringi pandangan bola mata indah yang penuh kasih sayang dan cinta. Keberadaan Alexa di kediaman Marcel tidak begitu lama. Karena saat itu, ia ditelepon oleh Aditia, dan diminta untuk segera pulang. Karena di rumahnya sudah ada Listi dan Viara yang datang berkunjung untuk melakukan pembicaraan penting dengan Alexa terkait kerjasama bisnis online properti yang tengah digeluti oleh Alexa. Dengan demikian, Alexa pun langsung pamit kepada kekasihnya, meskipun dirinya masih ingin berlama-lama di rumah tersebut. Namun, karena urusan bisnis, maka Alexa pun segera berlalu dari kediaman Marcel. **** Di tempat terpisah, Denis sedang terlibat perdebatan sengit dengan dua orang pria pengendara sepeda motor yang tiba-tiba saja melakukan penghadangan terhadap laju mobil yang dikemudikannya. Entah siapa mereka? Hal tersebut menumbuhkan rasa kesal dalam diri Denis, sehingga ia pun segera keluar dari mobilnya dan memaki-maki dua orang pria yang mengendarai sepeda motor itu. "Kalian ini siapa? Apa maksudnya menghadang laju mobilku?" bentak Denis penuh amarah. "He, tenang dulu! Kau jangan dulu emosi, Kawan!" jawab salah seorang dari mereka tersenyum sinis sambil bertepuk tangan. Sikapnya sungguh menyebalkan, Denis tampak kesal dan ingin rasanya menghajar dua orang pria tersebut. Namun, ia masih berusaha untuk meredam amarahnya. "Kami ini mendapatkan tugas dari bos kami untuk menawarkan pekerjaan untuk Anda," kata pria itu sedikit melangkah mendekati Denis. "Aku tidak paham dengan maksud kalian, sebaiknya kalian tidak menghalangi jalanku!" kata Denis tidak mau peduli dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang dari dua pria itu. "Hei, bersikaplah dengan sopan!" bentak pria yang satunya lagi sedikit kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Denis. Denis meluruskan pandangannya arah pria tersebut. Lalu berkata, "Bicara apa kau?" Denis mulai terpancing amarahnya mendengar bentakan dari salah satu pria itu. "Nyali Anda memang besar sekali. Tapi sayang, Anda sudah bersikap lancang!" tegas pria itu. "Menyingkirlah! Atau aku akan ambil tindakan tegas kepada kalian!" bentak Denis tak mau kalah. Akan tetapi, kedua pria tersebut tidak mengindahkan perkataan dari Denis. Sehingga menumbuhkan rasa emosi dalam d**a Denis. Dengan demikian, Denis langsung mengambil keputusan untuk mengusir kedua pria tersebut dengan caranya sendiri. Tanpa terduga, tangannya melesat hinggap di wajah pria yang ada di hadapannya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD