Pagi - pagi Nurhaidah sudah mengemas pakaian yang akan ia bawa kepondok pesantren, ia tidak meminta izin ibunya karena ia mengerti ibunya tidak akan mengizinkan jadi hanya dengan pergi tiba - tiba ibunya tidak bisa berbuat apa pun.
" tiinn, tiinnn Nur.... ayo berangkat" ucap om Panjul. om Panjul adalah ojek yang bekerja dipondok juga. Bergegas Nurhaidah keluar, ketika ia keluar ibu dan kakaknya terheran melihat nur bawa tas berisi pakaian.
" dek mau kemana kok bawa - bawa tas? " itu suara kakaknya dengan ekspresi heran dan ingin tahu
" mau tinggal dipondok kak " dengan memalingkan wajah nya Nurhaidah cepat - cepat keluar rumah.
sang ibu mencoba menahan tapi tekad kuat dihari Nurhaidah tidak dapat tersentuh bahkan dengan air mata ibu nya pun. sang ibu hanya menatap kepergiaan sang anak dengan sedih sambil berucap dalam hati " ya Allah, kesalahan apa yang ku perbuat hingga anak yang aku sayang pergi tanpa pamit dan izin dulu kepada ku, padahal ketika ia meminta dengan baik - baik pun pasti aku akan memberikan izin" sambil mengais dalam diam ibunya hanya bisa pasrah dengan keputusan anak bungsunya itu.
seminggu kemudian sang ibu sakit karena menahan rindu kepada anak yang telah meninggalkannya, tapi rasa marah dihati masih bersemayam membuat sang ibu ingin anaknya yang terlebih dulu menghubunginya.
Tapi sudah sebulan masih belum ada kabar dari Nurhaidah, mau tidak mau ibu Wati mengalah dengan ego nya.
" Santi kita tengok adik mu yuk?" sambil memotong sayuran ibu Wati berbicara kepada anak keduanya
" ibu kangen sama adik kamu san" lanjut Bu Wati
" besok saja ya Bu Santi antar ibu" Santi berbicara sambil menyusui anaknya.
dengan wajah cerah ibu Wati menjawab ucapan anak keduanya itu " beneran ya san kamu mau antar ibu besok"
" iya bu Santi janji, tapi ibu juga harus janji sama Santi ibu harus sehat "
" iya san ibu janji "
" ya Allah ibu seneng banget mau ketemu adik " sambil senyum berbicara dalam hati.
Keesokan harinya Santi benar - benar mengantar sang ibu menjenguk adiknya. Dari subuh sang ibu sudah bersiap - siap sudah tak sabar untuk menjenguk anak bungsunya itu.
" nur.... " om Panjul mengetuk pintu kamar Nurhaidah
" iya ,om sebentar "
" ini loh nur, ibu kamu Dateng sama kakak kamu "
nur terkejut melihat ibu dan kakaknya sudah ada didepan pintu kamar nya. melihat sang anak keluar dari kamar ibu Wati langsung memeluk sang anak.
" ibu...."
nur langsung mencium tangan wanita yang telah melahirkannya itu, ada rasa bersalah di hatinya karena pergi tanpa izin.
" masuk Bu, kak" sambil memberi jalan untuk ibu dan kakaknya masuk.
" nur, om tinggal ya"
" iya om makasih ya"
" iya sama - sama, Bu tak tinggal dulu ya Bu masih ada yang mau saya kerjakan" om Panjul berbicara sambil pamit karena masih ada yang ingin dikerjakannya.
" ohh iya pak, terima kasih " ibu Wati
" iya Bu sama - sama" sambil om Panjul berlalu meninggalkan kamar nurhaidah.
" kamu apa kabarnya dek?" tanya ibu Wati.
" Alhamdulillah Bu, sehat. gimana sama ibu?" tanya Nurhaidah
" ibu sempet sakit dek selama seminggu" seloroh sang kakak.
Nurhaidah terkejut dan merasa bersalah karena dia yang menyebabkan ibunya sampai sakit.
dengan menangis Nurhaidah meminta pengampunan sang ibu " Bu, maafin nur. nur tidak bermaksud buat nyakitin ibu"
" ibu tidak menyalahkan kamu nak, kamu sudah besar dan punya pendapat sendiri. ibu seharusnya yang minta maaf, seharusnya ibu mendukung kamu"
Sambil bertangisan kedua anak beranak itu berpelukan melepaskan sesak didada.