Setelah pertemuan itu terlepas sudah rasa rindu dan sesak didada, tidak ada lagi kecanggungan antara anak dan ibu. Nurhaidah bisa dengan nyaman bekerja dipondok pesantren itu.
satu tahun kemudian, keadaan dipondok sudah tidak kondusif untuk Nurhaidah. Dia sering difitnah dan diasingkan, padahal perjuangannya untuk pondok itu tidak sedikit. Dia rela mendurhakai ibunya demi kemajuan pondok tp yg dia dapat malah penghianatan.
Hingga suatu hari Nurhaidah bertemu seorang pemuda yang bekerja dipondok, tidak tahu asal muasal cinta itu datangnya dari mana. Hingga sepasang anak manusia ini menjalin cinta kasih.
Hampir satu tahun Nurhaidah menjalin kasih dengan sang pujaan hati, hingga suatu hari ia di sidang karena sering bertemu Ardi ( sang pujaan hati ) di luar lingkungan pondok.
" nak, apa bener kamu sering ketemuan sama laki - laki diluar lingkungan pondok" tanya kyai Burhan.
sambil menundukkan kepala Nurhaidah menjawab dengan suara yang pelan " iya, kyai."
" Masya Allah, nduk. kalau gitu Abah mintak kamu secepatnya menikah. saya Ndak mau ada penolakan, ini demi kebaikan kamu juga pondok"
sambil berlinang air mata Nurhaidah hanya menganggukkan kepala.
" walau pun kamu Ndak ngapa - ngapain hukumnya dosa nduk berdekat - dekatkan dengan yang bukan muhrim" lanjut kyai Burhan
" iya nur, nyai setuju sama Abah. kamu anaka perempuan walau pun kamu bukan anak kandung nyai tapi nyai tetap mengkhawatirkan kamu"
Nurhaidah tetap menundukkan kepalanya entah itu sebagai penghormatan, atau hanya karena sungkan dan takut.
" kalau orang tua kamu belum ada biaya Abah sanggup nikahkan kamu, walau pun tidak meriah setidaknya kamu dan dia sudah sah" - kyai Burhan
" memang siapa namanya nur, dan anak siapa?
trus anaknya paham agama tidak?"
ibu nyai terus menanyai Nurhaidah tanpa henti seperti seorang ibu yang tengah menginterogasi sang anak gadis.
memang selama ini Nurhaidah sudah dianggap anak oleh sang pimpinan pondok dan istri.
"kamu kenal dia dimana nur? " lanjut Bu nyai
" ketemu dipondok nyai, namanya Ardi santoso anaknya pak ibram Santoso Bu nyai. " - Nurhaidah
" ya sudah, nduk kamu telpon dia suruh temui Abah di pondok. Abah tunggu dia ba'da magrib" - kyai Burhan
" iya bah" jawab Nurhaidah masih dengan tertunduk.
" ya sudah nduk, lanjutkan pekerjaan mu tadi. ingat Abah tunggu ba'da magrib" - kyai Burhan
Nurhaidah hanya menganggukkan kepala dan keluar dari rumah kyai. keadaan dirumah kyai memang hening tapi setiap orang yang berada dirumah itu dipenuhi dengan pikiran masing - masing dengan masalah Nurhaidah.
Mungkin sebagian orang berpacaran adalah hal lumrah tapi tidak dengan kehidupan dipondok, itu sebuah kesalahan besar.
ba'da magrib " nduk, sudah kami beritahukan dia kan untuk temui Abah ba'da magrib??" tanya kyai burhan
" sudah bah, kak Ardi sudah dijalan" jawab Nurhaidah.
"assalamualaikum" ada suara salam dari luar, langsung disambut Nurhaidah dan dijawab sama semua orang
" waalaikumsalam, suruh masuk nyai" kata kyai Burhan
" iya bah, nur kamu kebelakang dulu Siapin minuman ya" sambil berdiri nyai Sukma berbicara kepada nur supaya nur untuk ke belakang dulu.
" assalamualaikum nyai, saya Ardi santoso. saya disuruh menemui kyai" sambil salam didada Ardi mengutarakan maksud kedatangannya kerumah itu.
" waalaikumsalam, oh iya silahkan masuk Abah juga sudah nunggu didalam. mari" ajaka nyai Sukma kepada Ardi
" baik nyai" dijawab Ardi sambil mengikuti nyai Sukma untuk masuk kedalam kediaman kyai Burhan
kyai Burhan menyambut Ardi dengan baik, " ayo masuk - masuk"
" iya kyai " jawab Burhan gugup
" Ndak usah gugup biasa aja ketemu saya toh saya kan Ndak makan orang" canda kyai Burhan untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang
jantung Nurhaidah berdegub kencang mendengar guyonan kyai untuk Ardi. entah lah dia merasa seperti sedang ingin dihakimi. padahal kyai Burhan hanya ingin yang terbaik untuk Nurhaidah
" nyai, tolong keluarkan minum dan makanan ringannya ya kasihan nak Ardi mungkin haus karena perjalanan lumayan jauh" tetap dengan tersenyum kyai Burhan berbicara supaya keadaan tidak kaku dan canggung.
" tidak usah repot - repot kyai dan Bu nyai" jawab Ardi saat ini Ardi sudah merasa relax karena guyonan kyai Burhan .
" tidak repot kok, tunggu sebentar ya" jawab nyai Sukma
" iya nyai" Ardi menjawab sambil menganggukkan kepalanya
Tanpa ba - bi - Bu, kyai Burhan berbicara mengenai maksudnya memanggil Ardi kepondok .
" tidak usah tegang, saya hanya ingin mengenal laki laki pujaan hati Nurhaidah, Nurhaidah sudah saya anggap putri saya sendiri."
" iya bah," sambil tertunduk Ardi menjawab perkataan kyai Burhan. perasaan tegang yang tadi mulai mencair timbul lagi karena ucapan kyai Burhan.
" sekarang ini sedang sibuk apa nak Ardi?"
" Alhamdulillah bah saya ini lagi bantuin kakak bangun rumah orang" - Ardi
sambil manggut manggut kyai bertanya lagi " sudah berapa lama kenal Nurhaidah ?"
" satu tahun setengah kyai" - Ardi
" kira - kita kapan rencana mau melamar Nurhaidah?" langsung kyai menanyai Ardi tepat dan padat . membuat Ardi salah tingkah ditanyai seperti itu oleh kyai Burhan. "Duh, gimana jawabnya ya. bukannya nggak mau halalin neng nur tapi uang saya masih belum cukup" ardi berkata pada diri nya sendiri tanpa sadar dia diperhatikan oleh kyai karena yang ditanyai tidak jawab - jawab kyai menanyakannya sekali lagi
" nak Ardi gimana, kapan?" tanya kyai lagi
" kalau kamu berani buat jatuh cinta anak gadis orang kamu juga sudah harus bisa bertanggung jawab untuk menikahinya" lanjut kyai.
" maaf kyai, saya sebenarnya ingin cepat - cepat halalin neng nur hanya saja masih belum cukup dana kyai"
" kalau kyai mau menunggu sebentar lagi insha Allah 6bulan lagi saya siap nikahin neng nur" dengan mantap dan percaya diri Ardi menjawab pertanyaan yang paling sulit untuk kaum laki - laki katakan ketika ditanyai kapan menikahi sang pujaan hati.
" ini nak Ardi diminum tehnya dan ini cemilannya dimakan" potong nyai Sukma.
" iya Bu nyai" angguk Ardi menanggapi taearan Bu nyai Sukma.
" iya nak Ardi minum saja dulu, pembicaraan kita santai tapi maknanya berat" jawab kyai Burhan sambil mengambil sebekong teh yang disiapin oelh Bu nyai Sukma.
" jangan galfok sama saya ya, saya kalau minum teh buatan nur atau nyai ya segini " seloroh kyai Burhan
" iya kyai" jawab Ardi tersenyum canggung lalu mengikuti kyai untuk minum teh buatan Nurhaidah.
memang teh buatan Nurhaidah ini sangat mantul makanya baik kyai Burhan maupun bu nyai Sukma selalu ketagihan ketika minum teh buatan Nurhaidah.
setelah selesai menegguk teh buatan Nurhaidah kyai Burhan melanjutkan pembicaraan yang tertunda karena datangnya teh buatan Nurhaidah.
" masalah biaya kamu tidak perlu khawatir hanya saja kamu sudah siap belum menikahi nurhaidah? " Todong kyai Burhan langsung.
maaf ya reders ku, karena aku masih baru jadi masih perlu banyak belajar mohon bimbingannya??