Brak brak brak
Suara Diandra menggedor gedor pintu kamar Andrew, wanita itu merasa cemas sedari tadi pasalnya setelah Andrew menarik Aruna ke kamarnya setelah itu mereka belum keluar sampai sekarang.
Kalau ada apa apa kan berabe, kasihan Aruna nantinya. Ah mana belum dibuka buka pintunya membuat Diandra makin cemas.
"Buka pintunya atau mama dobrak?" Teriak Diandra masih terus menggedor pintu kamar anaknya.
Sementara itu, Aruna yang terganggu suara mamah Diandra langsung terbangun. Pertama kali membuka matanya langsung dihadapkan dengan wajah Andrew, ah kalau mandangin dia mah ga ada habisnya udah kelamaan kasihan mamah Diandra kayaknya dari tadi pasti kecapekan.
"Ih bangun om," ucap Aruna membangunkan Andrew , pelukan Andrew terlalu kencang membuatnya tidak bisa keluar dari lingkungan tangan laki laki itu.
"Sebentar lagi sayang," jawab Andrew.
"Om, mamah marah tuh" ucapnya.
"Ha?" Tanya Andrew linglung.
"Mamah marah dari tadi katanya mau dobrak pintu kalau ga dibukain" ujar Aruna polos.
Andrew langsung berlari untuk membuka pintu kamarnya. Benar kata Aruna mamahnya sudah terlihat marah dengan kedua tangannya yang di taruh di pinggang 'Ya Tuhan, habis lah aku' batin Andrew berteriak.
"Siapa yang nyuruh pintunya di kunci?" Marah mamahnya "sini Una, kamu sama mamah aja" panggil Diandra pada Aruna.
Ah lagi lagi Andrew yang salah, padahal nggak ngapa ngapain juga, cuma cium nggak lebih mamahnya suka rese emang. Menyebalkan!!!
"Kamu tadi diapain sayang?" Tanya Diandra pada Aruna.
"Om Andrew,,,"mimik wajah Aruna berubah sedih, dia ingin menggoda Andrew biar dimarahin sama mamahnya. Siapa suruh nyuri ciuman pertamanya, dia kan nggak siap pokoknya dia kesel sama om omo tua bangkitan itu.
"Tanggung jawab Andrew! Kamu ngapain anak mamah?" Marah Diandra.
"Aku yang anak mamah!! Dari kapan Aruna lahir dari rahim mamah coba?" Kesal Andrew.
"Udah jangan banyak cakap kamu! Aruna kamu apain? Tanggung jawab!!" Tekan mamahnya ingin penjelasan.
"Nggak Andrew apa apain aelah mah, sama anak sendiri ga percaya coba!" Kesalnya.
"Bohong..."ucap Aruna, makin memanasi Diandra.
"Nggak bohong Lo, cuma cium ga lebih ya ampun" kesal Andrew.
"Tuhh kan, katanya ga ngapa ngapain tapi main sosor mahh!! Ih kesel Aruna tuh" rengek Aruna pada Diandra.
"Makanya cepetan nikahin Aruna biar bisa melakukan lebih!" Ucap Diandra menasehati.
Setelah itu dua wanita itu langsung meninggalkan Andrew yang masih kesal, lihat Aruna dia menengokkaan kepalanya dan langsung menggoda dengan menjulurkan lidah nya 'wleee'
***
"Gimana sayang? Kamu udah jadian?" Tanya Diandra.
"Udah mah, saran mamah emang top banget" jawab Aruna, mamah Diandra memang menyarankan untuk membuat Andrew cemburu, dia tau kalau sebenarnya Andrew udah suka sama Aruna tapi dia masih bingung dan galau dengan perasaannya.
Sekarang Andrew sudah jujur dengan perasaannya dan bahkan mengajak Aruna untuk menjalin hubungan dengannya.
"Una" panggil Andrew langsung memeluk tubuh Aruna, bahkan tanpa tau malu dia menyandarkan kepalanya tepat di lekuk leher gadisnya itu.
"Ih om apaan sihh" kesal Aruna, dia masih risih dan tidak terbiasa dengan tingkah Andrew yang berubah mirip koala ini. Gelendotan aja bisanya,nggak ingat kali ya dulu aja nolak nolak Aruna.
"Huh, dulu aja nolak sekarang kek monyet gelantungan sama Aruna" sindir Diandra "mamah mau masak buat makan malam ya sayang, nanti kamu makan malam disini aja" pesan Diandra langsung diangguki oleh Aruna.
Andrew bukannya pindah malah menggerakkan lidahnya di leher Aruna, membuat gadis itu merasakan sensasi yang aneh.
"Ih ngapain sih om geli, kalau ada yg lihat gimana!" Ucap Aruna dia ingin melepaskan dirinya dari Kungkungan om om m***m ini.
"Ih jangan sedot sedot dong om ngapain sih ya ampun, aku aduin mamah ya!!!!" Ancam Aruna dan langsung membuat Andrew takut.
"Mainnya anceman," ucap Andrew.
"Ih leher aku kamu apain si om, sakit tau di sedot sedot emangnya es lilin" kesal Aruna.
Ini nih kalau pacaran sama Aruna kayak gini, anak itu masih polos banget dan ketemu sama Andrew yang mesumnya nggak ketulungan. Diumurnya yang segini sudah tidak waktunya lagi dia pacaran seperti ini. Dia ingin segera membangun rumah tangga hanya dengan Aruna.
"Namanya kiss Mark sayang," bisik Andrew.
"Kiss Mark apa?" Tanyanya polos, Andrew langsung mengeluarkan ponselnya. Dia berselancar di internet dan mencari apa yang namanya kissmark. Setelah mendapatkan nya dia langsung memperlihatkan kepada Aruna.
"Ih leher aku merah kek gini ya om? Coba lihat buka kamera" Andrew langsung berpindah ke kameranya dan di alihkan kaca depan. Aruna melihat lehernya yang memang sedikit merah, untung saja Andrew baru sebentar kalau lama dan kelihatan bisa mati dia, besok dia kan sudah mulai orientasi.
Ngomong ngomong tentang orientasi, dia baru ingat tugasnya belum dikerjakan sama sekali.
"Ihh keesel aku baru inget, tugas aku belum sama sekali ku kerjain!!! Gara gara om nih ngajak tidur segala" marah Aruna memukul lengan Andrew.
"Ngajak tidur? Siapa Aruna?" Tanya Abelano.
"Papa, papah dari mana kok gak keliatan?" Tanya Aruna.
"Habis main golf sayang, tadi kamu bilang Andrew ngajak kamu tidur? Kamu diapain sayang?" Selidik Abelano, membuat Andrew kesal ah lagi lagi gara gara Aruna dia mendapat amukan lagi ini pastinya.
"Tadi niatnya mau bikin tugas buat mos besok, malah diajak tidur siang hehe kan Aruna jadi lupa" jawab Aruna polos.
"Tidur?" Abelano mengernyitkan dahinya, definisi tidur dalam kamus orang dewasa seperti Andrew itu apa?
"Tidur Pah tidur bukan ena ena" jawab Andrew.
"Ena ena apa om?" Tanya Aruna penasaran.
"Ya Tuhan, gini nih kalau punya pacar masih bocah" kesal Andrew.
"Kalian jadian?" Tanya Abelano,dan langsung diangguki anaknya. "Akhirnya kamu bisa jadi anak kita juga sayang" ucap Abelano senang.
Setelah mengucapkan itu Abelano pamit, dia ingin membersihkan dirinya karena sudah berkeringat habis olahraga.
"Buatin ya om? Tugasnya?" Rayu Aruna.
"Ada syaratnya," ucap Andrew jaman sekarang mana ada yang geratis coba? Kencing di WC umum aja bayar 2 rebu.
Andrew menunjuk pipinya, minta bayaran dengan ciuman dari Aruna. Aruna malu, ah rasanya dia ingin kabur aja sekarang.
"Ih ga mau" tolak Aruna, dia malu kali belum pernah melakukan itu.
"Ga jadi aku buatkan ya?" Andrew menakut nakuti Aruna.
"Ih ngeselin," Aruna ngambek, dia bahkan mengalihkan arah pandang dan duduknya membelakangi Andrew.
'ya Tuhan gemas sekali' batin Andrew.
Andrew langsung memegang leher Aruna dan mencium bibirnya. Memang ga tau malu nih om satu ini, di tempat terbuka kayak gini nyosor terus. Ya Tuhan, dari siapa Andrew mempelajari semua ini? Pacaraan aja nggak pernah!! Apa jangan jangan.... Ah author udah seudzon aja nih sama dia :(((.
"Aduhhh" teriak Andrew karena punggung nya terasa pedas karena sebuah tabokan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan mamahnya sendiri, mamahnya kan ratu tega.
"Sosor terus ya ampun, kasihan anak mamah nanti takut sama kamu Andrew!!!" Marah mamahnya.
"Andrew kan ga tahan, mamah si ga paham. Urusan anak muda ini" kesal Andrew.
"Anak muda apaan, udah tua gini. Buruan kerjain tugas Aruna! Awas aja kalau Macem macem! Mamah libas nanti" ancam Diandra sambil mengancung kan spatula miliknya.
"Udahh buruan buatin om" rengek Aruna, akhirnya membuat Andrew tidak tahan dan langsunv membuatnya. Dari pada Aruna mewek nanti dia langsung berhadapan dengan mamahnya lagi.
Andrew jadi mikir ini yang jadi anaknya siapa? Kok dia yang tersiksa?.
"Ambil gunting sama pensil di kamar," perintah Andrew dan diangguki Aruna.
"Nanti buatnya kayak gini ya?" Ucap Aruna memperlihatkan contoh tugasnya.
"Iya sayang iya" jawab Andrew, bukannya dia melihat itu lebih jelas malahan dia melihat media pengirim pesan Aruna, dia melihatnya dan bahkan terkejut.
Ini asrama cowok apa gimana banyak banget cowok yang ngechat kekasihnya itu. Dia mengscroll dari atas ke bawah dan banyak pesan yang belum di buka Aruna.
Setelah itu dia pindah melihat media sosial kekasihnya, membuka DM dan ya lagi lagi pasti tau lah banyak permintaan pengiriman pesan buat kekasihnya.
"Ah ya ampun, banyak buaya mendekat" kesal Andrew.
"Kenapa om?" Suara Aruna mengagetkan Andrew, dia buru buru memindahkan ke slide yang contoh tugas yang akan di buatnya.
"Gak papa kok, mana pensilnya" setelah itu Andrew langsung membuatkannya.
Sedangkan Aruna dia di samping Andrew dan menonton kartun dengan sangat seru, ah ya ampun kalau di lihat orang bukan seperti kekasih tapi jatuhnya kayak anak dan bapak ini. Apalagi tingkah Aruna yang kekanakan seperti ini, tapi bagaimanapun itu Andrew menyayangi kekasih kecilnya.
Bersambung