Sandra menangisi ponselnya yang mati dengan air mata buaya. Indri tak henti-hentinya minta ma’af seperti baru aja ngelakuin kejahatan terbesar. “Udahlah, Sand, nggak usah ditangisin gitu. Bisa beli lagi kan hpnya.” Celetuk Desy yang dari tadi mual mendengar tangisan buaya Sandra. “Aku tuh nggak nangisin hpnya.” “Terus?” tanya El dan Indri bebarengan. “Pas Indri jatuh aku mundur. Terus p****t aku nabrak pinggiran bak mandi.” Cerita Sandra tanpa dosa. “Sakit banget, sumpah!” Desy menahan tawa dengan membungkam mulutnya. “p****t kamu berdarah nggak, Sand? Coba sini aku periksa.” Kata Indri yang selalu sigap. “Nggaklah! Ini cuma nabrak, Ndri, nggak ditusuk pisau.” Sandra mencoba menjaga jarak dari Indri karen

