“Halo, Tante Karla,” sapa Lady Fi dengan senyumnya yang mirip beruang. Sandra menggumamkan sesuatu semacam umpatan. Sialan! Halo, Lady Fi.” Tante Karla mencium pipi kanan dan pipi kiri Lady Fi. “Nah, Sand, ini cucunya pemilik pabrik Gula. Pabriknya banyak, lho.” Kata Tante Karla sengaja untuk membuat Sandra insecure. “Oh, hai, Sand,” Lady Fi melambaikan tangan dengan manja seolah-olah tak mengenal Sandra. “Perlu ditekankan di sini aku pewaris tunggal pabrik gula nenekku.” Lady Fi menambahkan. Ya Tuhan, demi apa bibir Lady Fi seperti abis disengat tawon. Gumam Sandra. Lady Fi dan Sandra berjabat tangan. Sandra memang nggak pernah berubah dari dulu. Dia nggak pernah mempermasalahkan Lady Fi yang menganggap dirinya pewaris tung

