Bab-01

1071 Words
Selesai acara Veanna melepas gandengan tangannya pada suaminya dengan dingin. Ternyata benar kata orang, pernikahan yang dipaksa tidak akan membuahkan hasil. Tapi disini karena perjodohan dan warisan mereka memilih melakukan hal ini. Ya, Briand Nathaniel adalah korban kakeknya sendiri yang memaksa Brian menikah dengan Veanna, cucu dari Liam yang katanya kakek mereka adalah sahabat sedekat nadi dulu. Itu sebabnya jika Brian dan Veanna tidak mau menikah mereka keluar dari rumah mereka tidak membawa apapun. Briand sebagai pengusaha nomer tiga di kota ini, sedangkan Veanna adalah pengusaha dan artis papan atas nomor dua di kota ini. Pernikahan yang sudah terjalin selama lima tahun ini tidak membuahkan hasil. Kakek mereka berharap cinta akan tumbuh diantara mereka, tapi sayangnya tidak sama sekali. Briand mencintai wanita lain yang katanya dulu adalah kekasihnya sebelum dia menikah dengan Veanna. Dan hal itu tidak masalah untuk Veanna, toh pernikahan mereka ini terpaksa dan wanita itu sama sekali tidak memiliki rasa apapun terhadap pria itu. Ditambah lagi selesai pertemuan ada sedikit yang menggangu pikiran Veanna. Kedua kakek tua itu meminta Veanna untuk cepat hamil, mereka menikah sudah hampir lima tahun tapi kenapa sampai saat ini kenapa Veanna belum juga hamil? Dan mereka meminta Veanna untuk tidak menunda kehamilan lagi, karena usia mereka sudah cukup tua, dan mereka tidak tahu kapan mereka akan mati. Dan mereka akan jauh lebih tenang jika Veanna bisa memberikan keturunan untuk mereka. Setidaknya jika mati pun tidak masalah asalkan mereka bisa melihat cucu mereka lebih dulu. Dan hal itu mampu membuat Veanna pusing, sedangkan selama lima tahun ini mereka tidur secara terpisah. Bagaimana mungkin Veanna bisa hamil anak Briand? “Veanna.” Panggil Briand yang nyelonong masuk ke kamar Veanna. “Bisa tidak kalau masuk kamar orang ketuk pintu dulu? Bagaimana jika aku sedang ganti baju?” Brian menatap malas. “Aku tidak akan tertarik dengan tubuh kerempeng mu itu.” “Katakan apa yang membuatmu datang ke kamarku?” ucap Veanna tanpa basa basi. “Kakek memintamu untuk hamil, aku tidak akan tidur denganmu. Kamu bebas mau hamil dengan siapa aku tidak akan peduli.” Veanna tersenyum kecil. “Jadi kamu membebaskan aku untuk memilih pria mana yang akan tidur denganku?” “Ya … itu urusanmu, aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu hamil. Aku mencintai Sherly, dan aku sudah berjanji jika aku tidak akan menyentuh wanita lain selain Sherly.” Sejujurnya Veanna juga tidak peduli, toh, dia juga enggan disentuh oleh Briand. Tapi pria itu begitu membenci Veanna karena menurut pria itu perjodohan ini terjadi karena ulah wanita itu sehingga Briand tidak bisa bersatu dengan wanita yang dia cintai sekarang. Jika saja bisa memilih waktu itu Veanna juga sudah menolak dan tidak ingin menikah dengan Briand. Tapi kedua kakek mereka yang memaksa hingga Briand benar-benar membencinya. Pria itu pergi dari kamar Veanna dan membanting pintu kamar itu hingga berbunyi nyaring. Veanna hanya menatapnya saja dengan sebal. Apa dia tidak berpikir jika sikapnya itu bisa saja menghancurkan rumah ini dengan cepat. Melepas pakaian yang dia kenakan, ponsel Veanna berdering menampilkan id call dari managernya. Alis wanita itu terangkat dengan heran. Ada apa ini? “Ya kenapa?” *** “Aku sepertinya belum membutuhkannya!!” Ucap Veanna. Shandra mendengus, “Kamu membutuhkan pengawal. Kamu tau siapa kamu saat ini? Semua orang bisa saja mencelakai kamu kapan saja.” Sejujurnya Veanna paling tidak suka hidup dikekang, dia tidak suka bodyguard seperti ini. Dia hanya artis jika dia ingin menjadi artis, jika tidak juga tidak. Jadi, seperti status artis dia tergantung mood. Dan entah kenapa Shandra berpikir jika dia membutuhkan pengawal. Jujur saja dia bisa bela diri, jika pun terjadi sesuatu belum sampai orang jahat itu menyentuh Veanna, sudah jelas akan kabur duluan. Tapi kali ini … “Ayolah Veanna, dia akan menjagamu.” Wanita itu memutar bola matanya malas. “Kamu tau tidak aku sedang banyak masalah. Lalu kamu memintaku datang hanya untuk memilih satu pengawal?” Shandra cemberut. “Lupakan saja masalahmu itu, toh, suami tidak berguna mu itu akan menjadi beban pikiranmu.” Itu memang benar, tapi masalahnya bagaimana bisa seorang wanita hamil tanpa seorang pria? Dia bukan amoeba yang bisa membelah diri, dia hanya seseorang manusia yang dipandang rendah dan lemah oleh banyak orang. Belum juga Veanna mengatakan apapun, Shandra sudah lebih dulu menarik tangan Veanna untuk pergi ke ruangan sebelah. Disana banyak sekali orang berdiri dengan gagahnya, tatapan tajam, raut wajah dingin dan juga tegas. Alis Veanna terangkat sebelah, sebelum akhirnya memilih berjalan menuju murai kebesaran milik Shandra. Ya, ruangan ini adalah ruangan kerja Shandra karena Veanna jarang sekali datang kesini. Dan wanita itu juga bingung untuk apa juga dia harus menggunakan pengawal. Sejujurnya ini tidak perlu, tapi mungkin saja di masa depan dia memang membutuhkan pengawal. Satu persatu Shandra pun menjelaskan asal usul pengawal itu, dari agensi mana dan kelebihannya apa. Semuanya hampir saja, ada yang sudah pernah mengawal pengusaha kaya raya hingga anak raja sekalipun. Dan jujur saja baru kali ini dia tidak terima tertarik sama sekali, dia hanya melirik sekilas dan kembali melihat pangkal hidungnya yang pusing. “Veanna ayolah … .”dengus Shandra. Wanita itu menatap Shandra dengan jengah. “Kau ingin aku memilih siapa?” “Kamu sukanya yang mana?” Wanita itu mengangkat wajahnya menatap satu persatu wajah pria di depannya dengan seksama. Secara fisik semuanya sama, berotot, d**a yang kekar, tangan bisepnya membuat pikiran Veanna melayang kemana-mana. Dengan segera dia menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir pikiran kotornya. Yang membedakan hanya satu, warna kulit mereka saja. Ada yang hitam, ada yang sawo matang dan ada juga yang kuning Langsat. Veanna tersenyum kecil saat satu mata tertuju pada barisan paling akhir. Seorang pria yang menatap lurus kedepan tanpa melakukan apapun. Dia cukup tenang, bahkan pandangan nya pun benar-benar ke depan. Tidak seperti yang lain yang masih bisa melirik ke arah Veanna dan Shandra melalui ekor mata mereka. “Siapa namamu?” Ucap Veanna menunjuk orang itu. Shandra langsung mengikuti arah tunjukkan itu dengan kening yang mengkerut. “Yang paling ujung?” Tanya Shandra untuk memastikan, dan mendapat anggukan dari Veanna. “Itu namanya Christopher. Biasa dipanggil Christ, kau ingin dia?” Veanna berpikir sejak, sejujurnya ada banyak hal yang dia pikirkan tentang pria itu. Tidak hanya pengawalan untuk dia bekerja atau pergi kemanapun katana statusnya yang artis. Tapi tentang satu hal yang terjadi mengganjal pikiran Veanna. Apa mungkin dia mau? Kalaupun menolak jelas tidak mungkin. Gaji mereka mungkin besar, tapi yang namanya uang siapa sih yang tidak mau? “Ya … aku pilih dia.” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD