Tepat jam duabelas siang, Veanna baru saja bangun dari tidurnya. Wanita itu memijat pangkal hidungnya yang masih terasa pusing. Wanita itu mendengus, menatap pintu kamarnya dengan jengkel. Semalam obrolan mereka tidak hanya berhenti di satu titik. Dimana Briand yang menginginkan anak dari rahim Veanna itu sendiri. Meskipun semalam Veanna juga menjelaskan jika selama menikah tidak akan ada sentuhan apapun diantara mereka. Veanna juga mengingatkan pria itu kalau Briand tidak akan menyentuhnya untuk memiliki anak. Karena pria itu tidak pernah mencintai dan bisa menerima Veanna dalam pernikahan ini. Lalu semalam? “Aku ingin mencoba memulainya lagi.” Kalimat itu terdengar tulus, bukan karena amarah bukan juga karena paksaan. Dan untuk pertama kalinya pria itu mencoba memperbaiki sesuatu yan

