Entah karena alasan apa tiba-tiba saja aku berada ditempat ini. Di Parkiran SMA tempat Amanda bersekolah. Aku tahu sejak tadi Asisten dan supirku sedang mengulum senyum. Tapi aku sendiri tidak mengerti kenapa gadis itu bisa membuatku sepenasaran ini.
"Boss mau disini saja? Kenapa nggak turun dan temui Nona Amanda. Boss biasanya akan langsung menemui orangnya jika penasaran dengan sesuatu kan?"
"Jangan berisik Steven! Kamu sebaiknya diam saja!" ketusku tanpa menoleh. Aku yakin sekali, Asiten dan Supirku yang gemar ikut campur urusan pribadiku itu pasti sedang mati-matian menyembunyikan senyuman mereka.
Tidak lama kemudian gadis yang aku tunggu keluar dari Sekolah dengan tampang yang lesu. Dia berjalan di pinggiran trotoar sambil sesekali mendesah. Melihat dari poninya yang sedikit kependekan, sepertinya dia memotongnya sendiri. Begitupun dengan gaya rambutnya yang sudah tidak suram seperti sebelumnya. Aku menduga, Amanda sepertinya sudah memiliki semacam tekad untuk merubah takdirnya. Para gadis sering melakukan perubahan semacam itu ketika sedang bertekad akan sesuatu, karena dulu Sena pernah sampai mewarnai rambutnya ketika putus dengan berandalan Rayhan yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.
"Kelihatannya ada sesuatu yang berubah dari Nona Amanda, Boss!"
"Aku tahu."
"Menurut pengalaman tetangga saya, katanya kalau orang yang sedang depresi melakukan perubahan secara fisik, itu adalah pertanda kalau dia hendak melakukan seasuatu yang ekstreme. Tetangga saya sebelum bunuh diri dia merapihkan rambutnya dan bahkan mewarnainya, dia juga membeli baju baru yang cantik dan..."
"Dian Steven! kamu kalau nggak bisa bicara hal yang baik sebaiknya kam... Ya Tuhan dia masuk ke toko baju!" aku tadinya hendak menyangkal semua ucapan Steven dengan buru-buru memotong ucapannya yang menyeramkan itu. Tapi aku langsung sedikit histeris melihat Amanda berbelok ke toko baju yang lumayan mahal.
"Saya sedikit khawatir Boss. Bukankah kalau dia sampai melakukan hal itu, anda bisa disebut sebagai tersangka pembunuhan? Karena orang yang diam saja ketika dia tahu orang lain sedang kesulitan bahkan sampai mengancam nyawa, maka dia sama saja dengan pembunuh." balasan Steven semakin membuatku frustasi. Karena itu sambil menggerutu aku keluar dari Mobil dan membanting pintunya, kemudian masuk ke toko baju itu. Amanda terlihat sedang melamun sambil memegang sebuah Cardigan berwarna Pink di pojokan toko yang tidak ramai. Aku kemudian mengambil beberapa setel pakaian wanita dan sengaja berjalan di sebelahnya. Berharap dia memanggilku sehingga aku memiliki alasan untuk bicara dengannya. Tapi Amanda diam saja seperti dia tidak menyadari keberadaanku. Karena itu aku mendengus. Dan ternyata dengusan itu membuat Amanda menoleh.
"Om Bima! Kok om ada disini sih? Beli baju buat siapa?" tanyanya sambil melirik beberapa setel baju wanita yang ada di tanganku.
"Bukan urusan kamu saya beli baju untuk siapa." balasku pura-pura acuh.
"Tapi Om, kalau aku boleh memberi saran. Sebaiknya jangan model yang itu. Maaf tapi baju yang om pilih semuanya terlihat kampungan." ucapnya sangat kurang ajar.
"Jangan mengomentari selera orang seperti itu. Ini bukan kampungan, hanya selera kita saja yang berbeda."
"Baiklah, aku tahu om sudah tua dan aku masih kecil. Itu kan yang mau om tekankan?" balasnya semakin membuatku kesal. Tapi anehnya aku terhibur dengan ocehannya yang tidak kenal takut itu. Padahal selama ini siapapun yang bicara di hadapanku selalu penuh kehati-hatian. Tapi anak itu berbeda.
"Apa yang anak kecil sepertimu lakukan di toko baju? Saya lihat-lihat dari tadi kamu cuma bengong. Kamu tidak berpikir untuk membeli baju yang akan kamu gunakan untuk melakukan sesuatu yang buruk kan?"
"Bagaimana om bisa tahu kalau aku merencanakan sesuatu? Wuaahhh, kemampuan om Mafia memang tidak bisa diremehkan." ucapnya sambil tersenyum lebar. Tidak menyadari bahwa aku lumayan syok dengan jawabannya barusan. Sepertinya aku memang harus memasukkan orang ke kediaman Hanara untuk mengawasinya. Bagaimana kalau dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya seperti yang dikatakan Steven? Bukankah aku juga akan dianggap sebagai pembunuh?
***
Pertemuan singkat dengan Amanda di toko Baju, lumayan membuat aku jadi banyak pikiran. Apalagi setelah aku pulang, anak buahku yang aku suruh mengawasi kediaman Hanara melaporkan kalau gadis itu baru saja melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan yaitu melakukan perlawanan terhadap keluarga Hanara. Aku memijit kepalaku yang terasa pening. Perubahan Sikap Amanda benar-benar menggangguku. Bagaimana kalau dia benar-benar akan melakukan hal yang nekad kedepannya?
"Boss, bagaimana kalau menerima tawaran Nona Amanda saja? Tidak ada ruginya menjadikannya tawanan bukan? Menurut saya, Nona Amanda tidak benar-benar diabaikan oleh ayahnya. Anda tidak lupa dengan jumlah uang besar yang ada di rekeningnya bukan? Setiap bulan Tuan Hanara mengirimkan uang dalam jumlah yang besar ke rekening pribadi Nona Amanda dengan menggunakan akun Bank Palsu. Itu artinya Ayah Nona Amanda mungkin saja sedang mengalami tekananan dari pihak luar yang membuatnya tidak bisa menunjukkan kasih sayang pada Nona Amanda." Steven memberikan saran. Aku tidak paham, kenapa dia seperti semangat sekali menjodohkan aku dengan Amanda padahal itu bukan urusannya.
"Kalau dia menyayangi Amanda, mana mungkin dia mau menjual putrinya sendiri pada si Tono b******n itu padahal dia tahu seperti apa Tono itu."
"Tapi kan pernikahannya masih beberapa bulan lagi karena menunggu Nona Amanda lulus. Itu artinya belum pasti. Anda selalu mengatakan di dunia ini tidak ada yang pasti jika belum terjadi bukan? Karena itu setiap melakukan penyelidikan anda selalu berusaha sampai akhir meskipun di pertengahan jalan anda sudah menemukan petunjuk yang meyakinkan. Bukankah kondisi Nona Amanda sekarang sama halnya dengan misi yang belum sampai akhir. Itu artinya masih ada banyak hal yang tidak pasti." Steven ini benar-benar sangat pandai berbicara. Tapi semua yang dia katakan memang masuk akal.
"Kenapa kamu terlihat semangat sekali Steven! Padahal kamu tahu dia itu masih bocah! Atau jangan-jangan kamu punya dendam pribadi padaku sehingga kamu mendorongku untuk melakukan kegiatan tidak senonoh seperti menikahi gadis dibawah umur. Apakah kamu berencana menjeratku ke dalam penjara menggunakan pasal itu?" ucapku mengutarakan kecurigaan. Asitenku yang sedikit menyebalkan itu malah tertawa sampai sudut matanya berair.
"Sepertinya bergaul dengan Nona Amanda memberikan dampak positif pada Boss. Akhirnya saya melihat sisi Boss yang sedikit kekanakan seperti sekarang." balas Steven masih dengan sisa tawa sebelum berlari keluar karena pajangan di tanganku melayang ke arahnya dan mengenai pintu yang tadi dia lewati. Dari ruanganku, masih bisa aku dengar suara tawanya yang menyebalkan itu.
Tapi aku sungguh jadi sangat kepikiran dengan Amanda hingga pulang ke rumahpun, aku masih sangat kepikiran. Dan ketika jam menunjukkan pukul tiga pagi dan mataku baru saja terpejam beberapa menit, ponselku berdering beberapa kali dan membuatku lumayan kesal. Ada nama Adrian disana.
"Ada seorang gadis bernama Amanda yang datang ke rumahku dalam keadaan luka-luka. Katanya dia mengenalmu dan ingin kamu..." belum sempat Adrian menyelesaikan ucapannya, aku sudah mematikan sambungan telponnya kemudian menyambar kunci mobilku dan melaju menembus hujan deras pagi ini dan petir yang menyambar. Pikiranku ccampur aduk sekali. Ada apa dengan Amanda? kenapa dia terluka? siapa yang melakukannya? dan masih banyak pertanyaan lain yang terasa sangat menyiksa di dalam kepalaku. Aku sebelumnya selalu mengejek sikap Adrian dan para laki-laki Klientku dalam menghadapi istri-istri mereka. Tapi sekarang aku jadi memahami, rasa khawatir ternyata bisa mengalahkan logika dan bahkan bisa lebih berkuasa pada tubuh ini dibanding otak dan pikiran. Karena tubuhku bergerak masuk ke mobil masih menggunakan Piama demi gadis cerewet yang baru ku kenal beberapa hari tanpa diperintah otakku. Sebenarnya ada apa denganku?
***