Lian mengerutkan dahinya, menatap istrinya heran. Kenapa tiba-tiba gadis itu mengatakan hal aneh? Apa dia sedang ngelindur? Lian menyentuh dahi Vega dengan punggung tangannya. Dan benar juga, suhu tubuh gadis itu sedikit hangat. “Kamu sakit?” tanyanya. Vega menggeleng cepat. Senyuman manis masih betah bertengger di bibir tipisnya. Senyuman yang membuat Lian berdebar. Pria itu segera membalikkan tubuhnya untuk menghindari senyuman gadis itu. Dia takut akan semakin terjatuh dalam pesonanya, pesona gadis yang sama sekali tidak mencintainya. Namun tubuh pria itu seketika menegang saat merasakan lengan kecil itu kembali memeluknya. Apalagi saat bibir tipis istrinya itu mengecupi kulit pundaknya beberapa kali. Lian mematung. “Aku sayang kamu. Aku sayang kamu, Li.” Lian mengerutkan dahinya.

