Alvin membawa Ayla berkeliling taman yang sedikit kumuh itu, tak juga banyak pengunjung yang berdatangan disana. Hanya beberapa pasang remaja seusia dengan mereka, duduk berdampingan memenuhi bangku panjang disepanjang taman. “Dulu tempat ini pernah Berjaya dimasanya.” Kata Alvin. “Oh iya,” jawab Ayla singkat. “Iya,” katanya sambil merilik Ayla melaui ekor matanya. “Dulu aku pernah berjanji sama seseorang disini.” Katanya lagi. Dan Ayla hanya mengangguk, belajar memahami. “Kita kesana yuk.” Ajaknya, sambil jari telunjuknya, menunjuk pada sebuah menara kuno yang berada diujung taman. Tampak sedikit beberapa lapisan luar tembok bangunan tersebut yang terkelupas, juga lumut-lumut memenuhi setiap sisinya. Terlihat begitu menyeramkan, apa lagi hari semakin petang. Ayla meneguk ludah,

