Bab 4

882 Words
Lelaki di Antara Hujan Pagi itu, Tesa mendengus kesal. "Kesel... kesel... kesel!" gerutunya sambil berjalan terburu-buru. Bayu, kekasihnya, tidak menjemput seperti biasanya. Kakinya masih terasa pegal akibat berjalan kaki kemarin, dan waktu sudah sangat mepet untuk berangkat ke sekolah. Tidak ada pilihan lain, ia harus naik angkot—yang berarti ia harus mengeluarkan uang. Di dalam angkot, Tesa terus menggerutu dalam hati. Satu hal yang paling ia takutkan: bertemu teman sekolah. Reputasi adalah segalanya. Ia tidak ingin ada yang melihatnya naik angkot, seolah-olah ia bukan siapa-siapa. Dengan cepat, ia mengangkat buku yang dibawanya hingga sejajar dengan wajahnya, berpura-pura membaca padahal tidak satu kata pun yang ia serap. Saat angkot melaju, matanya terus mengintai ke luar jendela, memastikan tidak ada siswa sekolahnya di sekitar. Begitu angkot mendekati sekolah, ia memilih turun 200 meter lebih jauh dari gerbang utama, lalu berjalan cepat, menyusuri trotoar dengan hati-hati. "Fiuhh... aman." Ia menarik napas lega setelah memastikan tidak ada yang melihatnya. Dengan langkah ringan, ia memilih jalan kecil menuju gerbang belakang sekolah, tempat yang jarang dilalui murid. Namun, suara yang tiba-tiba terdengar dari belakang membuatnya membeku. "Suka lewat pintu belakang juga ya?" Deg. Jantung Tesa berdegup kencang. Perlahan, ia menoleh dengan rasa takut. "Gin?" Pria itu berdiri di belakangnya dengan senyum santai. "Santai aja. Ternyata bukan cuma gue dan cewek itu yang sering lewat sini," ucap Gin enteng. Tesa menghela napas panjang. Untuk sesaat, ia benar-benar takut rahasianya terbongkar. Tapi kalau hanya Gin yang melihat, ia tidak terlalu khawatir. Lelaki itu tidak banyak bicara dan tampaknya tidak peduli dengan urusan orang lain. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Gin selalu aneh, tapi pagi ini ia terlihat lebih mencurigakan. Mata Tesa tertuju pada benda yang ditenteng Gin. "Lo bawa payung? Jakarta lagi panas-panasnya gini loh," tanyanya heran. Alih-alih menjawab, Gin hanya tersenyum simpul. "Lo suka parkir di belakang ya?" Tesa malah melontarkan pertanyaan lain, tak terlalu peduli dengan payung itu. "Hari ini lagi males bawa motor, jadi naik angkot. Berangkat kepagian, jadi nongkrong dulu di belakang," jawab Gin santai. "Kenapa?" Gin hanya tersenyum lagi. "Karena nanti siang sepulang sekolah ada sesuatu yang gue suka." Tesa mengernyit. Apa maksudnya? Tapi sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, Gin sudah berjalan lebih dulu ke kelasnya. Tesa menatap punggungnya dengan kesal. Cowok aneh. Meski begitu, tanpa sadar, rasa penasarannya terhadap Gin semakin besar. --- Keributan di Kelas Begitu tiba di kelas, Aini langsung menyambutnya dengan ekspresi panik. "Tesa! Ada berita heboh!" "Apaan sih, Ni?" Tesa duduk di bangkunya dengan malas. "Lo tau lima finalis Miss Willfield tahun kemarin, kan?" "Rita, Ana, Arin, Indah, dan tentunya gue, pemenangnya," jawab Tesa dengan bangga. "Nah, si Rita dan Ana keracunan makanan! Sekarang wajah mereka jadi keriput!" Tesa tersentak. "Apa?! Kok bisa?" "Katanya setelah makan bekal yang mereka bawa kemarin, tiba-tiba tubuh mereka panas dan harus izin pulang. Pagi ini mereka datang ke sekolah pakai masker, tapi tetap aja kelihatan kalau wajah mereka berubah. Hampir aja si Rita nekat loncat dari lantai tiga karena depresi!" Seisi kelas langsung heboh. "Ya ampun..." gumam beberapa murid. "Mereka makan sesuatu yang aneh?" tanya seorang murid. "Kemungkinan sih ada yang meracuni bekal mereka saat upacara kemarin," jawab Aini. Tesa termenung sejenak, lalu mengangkat bahu. "Bagus, dong. Berarti saingan gue di Miss Willfield tahun ini berkurang." "Kata siapa sih mereka kena racun?" tanya seorang murid, mulai penasaran. Aini mengangkat bahu. "Belum ada yang tahu pasti. Tapi dokter sekolah bilang gejalanya aneh. Wajah mereka mendadak keriput dalam semalam, kayak penuaan instan. Bahkan Rita sampai histeris pas lihat wajahnya di cermin!" Seisi kelas langsung gaduh. "Serem banget!" "Apa mungkin ada yang sengaja nyerang mereka?" "Atau ini efek samping perawatan wajah?" "Tapi mereka kan udah sering perawatan, kenapa baru sekarang kejadian?" Tesa diam, mendengarkan teori-teori yang bermunculan. Tapi di dalam hatinya, ia mulai merasa was-was. Kalau benar ada yang sengaja menyerang mereka, bukankah itu berarti ia bisa jadi target berikutnya? Kelas langsung sunyi. Semua mata tertuju padanya dengan tatapan curiga. "Bukan gue, ya!" buru-buru Tesa membela diri, menyadari ucapannya terdengar sangat mencurigakan. "Udahlah, ngaku aja, Sa. Lo gila popularitas," celetuk seorang teman. "Iya, kalo mau menang pake cara yang sportif, dong," tambah yang lain. "Lo ubah tuh cara pikir lo!" Tesa mengepalkan tangan, wajahnya memerah karena kesal. Namun, sebelum ia sempat membantah, seorang siswi lain, Riri, berlari masuk ke kelas dengan napas terengah-engah. "Gawat! Gawat!" Semua mata kini beralih ke Riri. "Arin dan Indah juga izin pulang! Mereka panas tinggi setelah makan bekalnya tadi pagi!" Kelas kembali geger. "Bukan gue! Tanya aja sama Gin!" seru Tesa spontan. Sekarang semua mata tertuju pada Gin, yang—seperti biasa—tertidur di bangkunya. "Zzzzzzzz..." Tapi di tengah tidurnya, tangan Gin terangkat dengan jempol mengacung. "Tuh kan! Gin bisa jadi saksi!" Tesa berkata penuh kemenangan. Namun, Aini masih memasang ekspresi curiga. "Kenapa cuma Gin saksi lo? Kok Bayu gak bisa? Biasanya lo berangkat sama dia." Tesa terdiam. "Bayu gak masuk sekolah hari ini, dan gue... sengaja lewat pintu belakang..." katanya ragu. "Kenapa?" Aini menyipitkan mata. Tesa menelan ludah. "Karena... takut ada yang lihat gue jalan sendirian." Kelas kembali hening. Lalu, tiba-tiba, Aini berkata pelan, "Jangan-jangan korban selanjutnya lo, Sa." Tesa merinding. Kata-kata Aini masuk akal. Jika pelakunya ingin menyingkirkan semua finalis Miss Willfield, maka target selanjutnya pasti dia. Satu hal yang pasti: dia tidak boleh lengah. Kecantikan adalah segalanya. Dan ia tidak akan membiarkan siapapun merusaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD