Bab 2

984 Words
Gin awalnya hanya ingin menikmati makan siangnya dengan tenang. Meski kantin penuh dengan murid-murid yang menatapnya aneh, ia tidak terlalu peduli. Baginya, selama ada makanan di depan mata, itu sudah cukup. Namun, ketenangannya terusik ketika Bayu dan teman-temannya mendekat dengan wajah penuh amarah. "Lo pikir gue bakal diem aja setelah kejadian tadi pagi?" Bayu menatap Gin dengan tatapan tajam. Gin yang masih makan tanpa membuka mata hanya mendesah pelan. "Hmm?" "Jangan pura-pura bego!" Bayu membanting tangannya ke meja, membuat beberapa orang di kantin menoleh ke arah mereka. "Lo yang nyerempet gue tadi pagi, kan?! Trus lo malah sok nggak kenal?!" Gin mengunyah makanannya dengan santai, lalu akhirnya membuka mata sedikit. "Hah… yang tadi pagi? Oh… yang lari kayak orang kesetanan itu, ya?" Bayu mengepalkan tangannya. "Kurang ajar!" Salah satu temannya, Jefry, ikut menimpali, "Lo juga udah ngehina band kita! Lo pikir kita nggak denger, hah?! Lo bilang band kita suram?! Maksud lo apaan?!" Gin mengerjapkan matanya. "Hah? Kapan gue bilang begitu?" Bayu semakin emosi. "Lo pikir lo siapa, hah?! Anak baru sok jago!" Melihat Bayu makin naik pitam, Gin hanya menghela napas dan mengangkat tangannya, seolah ingin menghentikan drama ini. "Gue nggak ada waktu buat ini. Kalian mau marah? Silakan. Gue mau makan." Tapi Bayu tak bisa terima. Dengan kasar, ia menarik kerah baju Gin. "Lo ikut gue ke belakang kantin!" Gin menatapnya malas. "Gue nggak ada urusan sama lo." Bayu tak peduli dan menyeretnya, sementara teman-temannya ikut mengiringi dari belakang. Gin tak melawan, hanya membawa piring makanannya sambil tetap mengunyah. --- Di Belakang Kantin Begitu sampai di area sepi di belakang kantin, Bayu mendorong Gin hingga punggungnya membentur dinding. "Lo udah buat kesalahan besar, bocah," ancamnya. Gin mendesah panjang, lalu menatap piringnya yang masih berisi setengah makanan. "Lo tahu nggak, gue udah cukup sabar…" Jefry mencibir. "Heh, sabar? Jangan banyak omong, anak baru!" Tapi saat itulah, dalam sekejap, Gin bergerak. Bugh! Dalam satu gerakan cepat, siku Gin menghantam perut Bayu, membuatnya terhuyung ke belakang. Sebelum Bayu bisa bereaksi, Gin mengayunkan kakinya ke arah Jefry yang mencoba menyerang, membuat pria itu jatuh terjengkang ke tanah. "Nggh…!" Jefry meringis, tangannya memegang perutnya yang terkena tendangan. Tiga orang lainnya terkejut, tapi mereka segera mencoba menyerang Gin bersamaan. Sayangnya, pergerakan mereka terlalu mudah ditebak. Dengan cekatan, Gin menghindari pukulan mereka satu per satu, lalu membalas dengan pukulan cepat ke dagu, d**a, dan perut mereka. Dalam waktu kurang dari satu menit, kelima orang itu sudah terkapar di tanah, tak berdaya. Gin hanya berdiri santai di atas mereka, masih memegang piring makanannya. "Hmm… masih bisa dimakan." Ia kemudian duduk di atas tubuh mereka yang bertumpuk dan kembali menikmati makanannya dengan tenang. Tesa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya tak lepas dari pemandangan di hadapannya—Bayu dan keempat temannya terkapar dalam keadaan mengenaskan, sementara Gin berdiri santai, menyisakan jejak kekacauan seolah-olah hal itu bukan masalah besar. Pria itu menatapnya sebentar dengan ekspresi datar. "Sampaikan maaf gue untuknya ya, jangan dipanjangin, oke?" ucapnya ringan sebelum melangkah pergi. Tesa masih terpaku. Ia tak tahu harus marah atau justru lega. Di satu sisi, kekasihnya babak belur, harga dirinya sebagai ketua geng band di sekolah ini jatuh di hadapan orang-orang. Namun, di sisi lain, entah kenapa, dalam hatinya ada perasaan aneh yang menyelinap. Perasaan yang tidak seharusnya ada. Dia tertarik. Gin Kazama… siapa sebenarnya dia? Kenapa dia bisa menghajar lima orang sekaligus seolah itu hanya hal kecil? Apa dia dulunya preman? Anak seorang petarung? Atau… dia hanya orang biasa yang terlalu jenius dalam segala hal? Tesa menggelengkan kepalanya keras. "Enggak mungkin," gumamnya. Sadar dari lamunannya, ia buru-buru menghampiri Bayu yang masih terbaring lemah. Wajah pria itu lebam, darah mengalir dari sudut bibirnya, dan satu giginya tampak hilang. Tesa menggigit bibirnya, berusaha menahan rasa malu. "Bayu... lo nggak apa-apa?" tanyanya setengah malas, tapi cukup untuk menunjukkan kepedulian. Bayu mengerang, matanya terbuka sedikit, tapi sorotannya penuh amarah. "Anj**ng… dia… harus bayar…," geramnya, meski suaranya terdengar lemah. Tesa mendesah. "Mending lo ke UKS dulu, daripada makin malu dilihat orang," ucapnya ketus. Bayu mencoba duduk dengan bantuan temannya yang lain. Matanya penuh dendam, tapi jelas ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini. Tubuhnya terlalu lemah. Sementara itu, Gin sudah menghilang dari pandangan, meninggalkan kantin dengan santai seolah tak ada yang terjadi. Hari itu, nama Gin Kazama mulai beredar di seluruh sekolah. --- Keesokan harinya Di kelas 3-A, suasana kelas masih ramai membicarakan insiden kemarin. Beberapa murid yang melihat langsung adegan "pertarungan" di belakang kantin tak berhenti mengagumi Gin. "Gue nggak nyangka anak baru itu sekuat itu," kata seorang murid berbisik. "Iya, padahal dia cuma tidur doang pas pelajaran!" timpal yang lain. "Kasihan Bayu sih, tapi... ya salah dia juga, sih." Tesa duduk di bangkunya, pura-pura tak mendengar pembicaraan itu. Tapi sebenarnya, telinganya menangkap setiap kata yang diucapkan. Ia melirik ke arah meja Gin di pojok kelas. Seperti biasa, pria itu duduk dengan santai, kepalanya menunduk di meja, seolah benar-benar tidur. "Apa dia nggak merasa bersalah sama sekali?" pikirnya. Namun, ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Gin Kazama… kenapa dia selalu terlihat mengantuk? Apakah dia benar-benar tidur sepanjang waktu? Atau dia hanya pura-pura? Tesa menggigit bibirnya. Entah kenapa, semakin banyak pertanyaan tentang Gin yang berputar di kepalanya. --- Jam istirahat. Tesa sengaja tidak pergi ke kantin seperti biasa. Kali ini, ia memilih berjalan keluar kelas dan mencari seseorang. Benar saja. Di taman belakang sekolah, di bawah pohon rindang yang agak tersembunyi, Gin duduk bersandar pada batang pohon dengan mata tertutup. Tesa mendekat, berdiri di hadapannya dengan kedua tangan di pinggang. "Lo beneran tidur?" tanyanya. Gin tidak menjawab. Tesa memutar matanya kesal. "Woy!" Masih tidak ada reaksi. Akhirnya, dengan kesal, Tesa menjulurkan jari telunjuknya dan mendorong dahi Gin. "Bangun, dasar pemalas!" Gin membuka satu matanya perlahan, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. "Apaan sih?" gumamnya malas. Tesa mendengus. "Gue mau nanya sesuatu." Gin menguap dan menggaruk kepalanya. "Tanya aja," katanya, lalu kembali menyandarkan kepalanya ke pohon. Tesa melipat tangannya di d**a. "Lo sebenarnya siapa, sih?" Gin hanya tersenyum tipis. "Cuma murid pindahan biasa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD