“Papah gak mau tau, pokoknya kamu harus ambil kuliah S1 lagi! Kuliah jurusan manajemen bisnis. Biar nanti kamu bisa gantiin papah buat nerusin perusahaan ini” tegas Agustian Budi Prasetya, papah dari Ricky Prasetya.
“Ricky gk mau pah. Ricky sama sekali gak minat sama jurusan itu. Kan ada kak Noval pah, dia kan lulusan S1 manajemen bisnis. Dan.. setahu ku dia ingin sekali mengelola perusahaan papah” sahut ku sambil memutar mata males.
“tapi papah mau nya kamu aja yang ngelola perusahaan ini, Rick. Papah gak yakin sama kakak mu yang hobbynya keluyuran terus pulang malem itu” papah menyenderkan badannya di sofa, sambil membuka kacamatanya. Terlihat wajah lelahnya yang seharian disibukkan dengan pekerjaannya. Terlihat juga papah sangat pusing dengan kelakuan kak Noval, yang benar-benar tidak bisa di andalkan itu.
.
Jadi Noval itu kakaknya Ricky, Noval Prasetya. Mereka berasal dari keluarga Prasetya. Sebenarnya Noval ini anak angkat, mereka mengadopsi Noval saat Noval masih berusia kira-kira 2 bulanan gitu. Soalnya ada seseorang yang meletakkan Noval di depan rumah Agus dan istrinya. Dan saat itu Ricky belum ada. Orang tuanya sudah sangat lama menantikan kehadiran buah hati, namun selama 4 tahun usia perniakahan mereka, mereka belum juga di berikan keturunan. Tentunya kehadiran Noval sangat membuat mereka bahagia, dan mereka sangat menyayangi Noval serta begitu memanjakannya.
Ketika umur Noval menginjak 3 tahun. Kebahagiaan mereka semakin bertambah, karena mereka di berikan keturunan yang dari hasil mereka sendiri.
Namun, mereka kini hanya tinggal bertiga, karena mamah mereka, Suci Anjani, meninggal akibat kecelakaan tunggal 7 tahun lalu.
Semenjak kematian Anjani, Noval bisa disebut jadi anak jalanan, yang hobbynya keluyuran gak jelas, dan selalu pulang larut malam, bahkan pernah tidak pulang selama dua hari. Hal ini tentunya yang membuat Agus kekeh tidak mau menyuruh Noval untuk mengelola perusahaan miliknya.
.
“tapi Ricky memang gak bisa, pah. Ricky mana paham masalah begituan” jawabku, seraya berpaling badan, hendak menaiki anak tangga, menuju kamar yang terletak di lantai dua.
“makanya, harusnya dari awal kamu itu kuliah jurusan manajemen bisnis, bukan malah jurusan musik. Sudah berapa tahun kamu menganggur setelah wisuda. Hn?” teriak papah dari ruang teve.
“pah, tolong.. toloong banget. Sekali aja ngertiin perasaan Ricky, pah. Ricky gak mau terus-terusan di paksa kayak gini” mendengus kesal, tetapi masih tetap berbicara sesopan mungkin. Ku urngkan niatku untuk masuk kedalam kamar, aku harus menyelesaikan jika obrolan yang di bahas menyangkut masalah mengelola perusahaan.
Karena apabila ku diamkan saja, papah pasti berpikir untuk tetap membujukku, sampai aku mengiyakan permintaannya, untuk mengelola perusahaan itu.
“Ricky mau bekerja di bidang yang memang Ricky minati, pah. Papah kan bisa suruh kak Noval. Coba papah bicara dulu ke kak Noval, dia pasti sangat antusias kok pah, mendengar permintaan papah untuk gantiin mengelola perusahaan itu” membungkukkan badan agar terlihat sejajar dengan papah yang sedang duduk di sofa, seraya membujuk papah.
“papah cuman minta kamu kuliah lagi, lalu terusin perusahaan papah. Kalau kamu gak mau, yasudah. Papah tarik semua fasilitas yang papah kasih ke kamu” dengan nada santai, lalu berjalan menuju kamar.
“pah..” memanggil dengan suara lirih.
“yasudah, begini saja. Kalau kamu tetap tidak mau. Maka dalam bulan ini kamu harus dapat pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang kamu inginkan” mendengar hal itu, akupun sangat senang, karena itu artinya papah tidak akan membujukku lagi untuk menggantikan mengelola perusahaan miliknya.
Tapi..” kata-kata papah tertahan, menatap ada panggilan masuk di handphone miliknya.
“tapi apa pah?” lalu papah menatapku kembali.
“tapi kalau kamu gak bisa, kamu harus turutin kata-kata papah buat kuliah manajemen bisnis” kemudian papah berjalan ke luar sembari mengangkat telpon.
“iya pah, aku yakin pasti aku akan dapat kerjaan bulan ini. Makasih ya, pah” lalu berlari ke arah papah, sambil menghamburkan pelukan.
Agus hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya yang satu ini. Tentu dia tidak bisa untuk mengatakan tidak kepada Ricky. Karena bagaimanapun juga, Ricky ini merupakan anak kandungnya. Dan dia anak satu-satunya yang selalu patuh kepada orang tuanya, tetapi tidak untuk hal ini. Maka dari itu dia memberikan kesempatan kepada Ricky untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang seniman, khususnya di bidang musik.
Karena sejatinya, sekeras-kerasnya orang tua, mereka pasti tetap menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
***
Hari ini, hari pertama aku mengajar di SMA Indah Pertiwi. Meskipun masih menjadi guru honorer dengan gajih yang tidak seberapa, di bandingkan dengan gajih guru tetap. Tapi aku akan membuktikan kepada papah, bahwa aku bisa hidup mandiri, dengan mengandalkan gajih yang aku terima setiap bulannya.
Aku bergegas mengambil kunci mobil. Tak lupa ku bawa gitar klasik yang selama beberapa tahun ini menjadi temanku. ku lihat jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 05.55 AM. Ku percepat mobil, agar sampai ke sekolahan sebelum pukul 07.30 AM. Karena hari ini hari Seniin, tentunya pasti akan macet sekali jika aku berangkat agak siang sedikit.
Sialnya. Ketika sudah berada di depan gerbang sekolah, ternyata sekolahan masih sepi. Ku lihat jam di pergelangan tangan yang masih menunjukkan pukul 06.36.
“ah.. ini mah malah kepagian” memukul stang mobil.
Lalu pak satpam membukakan pintu gerbang, sambil melemparkan senyumnya pada ku. Aku pun tersenyum tipis, ku kemudikan mobilku memasuki gerbang sekolah, lalu ku parkirkan mobil ku di parkiran sekolahan.
Memang benar, hanya ada aku saja disini. Aku berjalan melewati setiap koridor, membaca tulisan-tulisan yang menempel di Mading. Memasuki ruang guru, menaruh tas di atas meja yang sudah tercantum nama ku disana, lalu mendudukkan b****g ku di kursi. Ku keluarkan handphone milikku, sambil membuka aplikasi social media. Ku scroll sampai bawah. Tetapi jempol ku terhenti, ketika aku melihat sebuah foto wanita dengan wajah blasteran Indonesia-France itu.
Wanita itu namanya Putri, Carissa Putri, teman kuliahku dulu. Aku sangat mengaguminya sejak awal kami bertemu di sebuah pantai di Jogja. Dia merupakan cinta pertama ku.
Selalu teringat, dan tak pernah terlupakan, saat-saat pertama kami bertemu dulu.