Karan bangkit dari rebahannya. Untung saja, ia belum tertidur tadi. Sepertinya, mereka sudah lebih dari satu jam berada di bawah cahaya bulan. Qizvy menyilangkan tangannya sebagai tanda maaf. Tentunya setelah ia berada cukup dekat dengan Karan sehingga gerakannya tertangkap oleh netra sahabatnya. “Tidak masalah. Aku suka bersantai di sini. Lain kali, kita bisa lakukan hal yang sama lagi. Ayo, kita kembali ke kamar!” Keduanya beriringan menyusuri setapak sebelum tiba di lorong menuju barak mereka. Selasar yang mereka lewati sudah sepi. “Sepertinya sudah hampir tengah malam, jadi sepi seperti ini. Biasanya, masih ada yang berkeliaran kalau belum pukul dua belas.” Qizvy mengangguk. Memang ia akui, situasinya sangat berbeda dengan malam sebelumnya saat mengintai ruang bawah tanah. Mere

