Zevho sudah menanti di ruang keluarga pemilik rumah. Rencana nyonya rumah untuk mempertemukan peramal wanita itu dengan kenalannya ternyata bukan isapan jempol belaka. Ia bersemangat siapkan cemilan juga, untuk pertemuan mereka. Tentu saja awalnya ia akan ikut duduk bersama, tetapi lalu ia akan tinggalkan mereka saling bicara dari hati ke hati. Zevho tidak lagi repot-repot untuk mencari tahu pribadi yang akan ia temui karena ia anggap apa yang akan terjadi di antara mereka, semata-mata perjumpaan untuk menjalin pertemanan. Tidak akan ia hanyut dalam rencana nyonya pemilik rumah yang terdengar begitu optimis akan kecocokan di antara mereka. Pria yang dinanti akhirnya tiba juga. “Halo Rex. Aku senang kamu bisa mengatur waktu untuk bertandang ke gubukku ini.” “Tessa. Maafkan aku yang se

