Karan meringkuk di sudut bilik hukuman. Ia pejamkan matanya. ‘Biarlah aku di sini sementara waktu agar bisa melepas lelah. Tubuhku memang sudah sangat letih. Ibu, di mana kamu. Aku ingin pulang ke rumah,’ batin Karan sambil setengah tertidur memeluk lututnya sendiri. Temannya yang tak bersuara yaitu si muka lancip hanya menatapnya dari ambang pintu bilik dan dengan setia menunggui Karan tertidur. Ia bergeming, Tidak juga ingin berdiri dekat dengan Karan. Hubungan keduanya masih belum jelas karena Karan juga tidak bisa berbuat banyak karena teman barunya itu sama sekali tidak ucapkan satu pun bahasa manusia. Sedang di tempat yang berbeda, tepatnya Cevza bagian selatan. Tampak seorang wanita yang sedang mengobati dirinya sendiri. Ia hancurkan dedaunan yang sudah ia kumpulkan dengan benda

