BLIND-TWENTY EIGHT

1506 Words
Pandangannya tak lepas dari sosok mungil yang kini tengah berjalan di belakangnya. Sejak kaki menapak keluar rumah, bocah itu menunduk dan tenggelam dalam diam. Benar, hari ini Jooheon memutuskan untuk berangkat bersama Changkyun menuju sekolah. Ia menolak saat Hyun Woo menawarkan untuk mengantar dengan mobilnya, dengan alasan takut terjebak macet nantinya. Pada kenyataanya, ia hanya ingin berangkat berdua saja dengan Chang Kyun. Ya, dia ingin melakukan pendekatan pada bocah itu dan mencairkan suasana kaku di antara mereka. Namun, sepertinya rencananya tak berjalan semulus yang diinginkan. Melihat bocah itu memilih mengekor di belakangnya seperti biasa dari pada jalan beriringan. Huh, dan itu membuatnya benar-benar merasa risih! Bagaimana tidak? Disaat kau sedang menikmati perjalanan indahmu menuju halte harus diusik dengan bunyi ketukan tongkat di belakangmu disertai bisik-bisik orang yang mengatakan jika kau tidak peduli dengan orang buta di belakangmu. Ck! Menyebalkan tahu! Jangan membuat suasana hatinya rusak di pagi yang indah ini. Joo Heon menghentikan langkahnya secara mendadak lantas memutar tubuhnya 180°. "Astaga!" pekik Chang Kyun terkejut ketika wajahnya tiba-tiba membentur sesuatu yang tak lain adalah d**a Joo Heon yang berdiri tegak di hadapannya. "Hyung, ada apa?" "Berikan padaku," perintah Joo Heon kemudian merebut tongkat di genggaman Changkiyun. Hal itu sontak membuat Chang Kyun terkejut dan berusaha mengambil tongkatnya dari tangan Joo Heon. Dirinya berusaha menggapai Joo Heon namun hanya udara kosong yang di dapatnya karena Joo Heon sendiri sudah melangkah menjauh tanpa bersuara apa pun. "Hyung, t-tolong kembalikan," Chang Kyun berujar panik ketika menyadari Joo Heon tidak berada di hadapannya lagi. Ia panik, tentu saja. Bukan masalah ia tak bisa berjalan tanpa tongkat. Hanya saja, sudah menjadi kebiasaan jika ia selalu menggenggam benda tersebut setiap bepergian. Satu hal lagi yang menambah kepanikannya adalah, itu tongkat yang baru dibelikan Nyonya Lee semalam karena yah, kalian tentu tahu apa yang terjadi dengan tongkat sebelumnya. "Joo Heon Hyung..." Chang Kyun mulai melangkah maju dengan sedikit limbung. Tangannya meraba sesuatu di depannya namun sekeras apa dia mencoba, Joo Heon benar-benar tak ada di sana. Chang Kyun heran, kenapa suasana di sekitarnya mendadak sepi? Padahal sebelumnya ia mendengar beberapa langkah kaki di area tersebut, mengingat penghuni kompleks perumahan tersebut juga terdapat beberapa orang yang memiliki anak yang masih duduk di bangku sekolah. "H-hyung ..." cicit Chang Kyun semakin lirih ketika tak menemukan keberadaan Joo Heon. Chang Kyun akhirnya terdiam mematung setelah beberapa saat berputar di tempat dan mendapati udara kosong tanpa bisa menemukan posisi sang kakak. Sekarang ia bingung harus melangkah kemana untuk menuju ke halte bus. Ia lupa menghitung berapa kali dia berputar tadi, sehingga tidak tahu harus melangkah. "Ayo." Sebuah tangan tiba-tiba menggenggam tangan Chang Kyun dan menariknya. Hal itu tentu saja membuat Chang Kyun terkejut. "Hyung," panggil Chang Kyun bingung. Joo Heon terkekeh. "Aigoo, apa kau takut aku akan meninggalkanmu?" tanya Joo Heon yang lantas mengusap pucuk surai Chang Kyun. Ya, sedari tadi Joo Heon sengaja menjahili Chang Kyun dengan mengambil tongkat milik bocah tersebut kemudian menjauh guna menciptakan jarak di antara mereka. Menempatkan diri di belakang tiang listrik dan mengamati apa yang akan terjadi. Jahat memang, tapi Joo Heon tidak serius melakukannya kok. Sungguh, ia jadi merasa bersalah saat mendapati Chang Kyun kebingungan dan panik mencari dirinya. Dia melihat wajah memerah bocah itu seakan tangisnya akan meledak kapan pun. Alhasil dia akhirnya menghentikan kegiatan mari ganggu Chang Kyun. "Hyung, kenapa kau meninggalkanku?" tanya Chang Kyun yang membuat Joo Heon menghentikan langkahnya. Joo Heon menoleh pada lawan bicara. "Eiy ... benarkah? Sejak tadi aku di sini," sahut Joo Heon. "Lalu mengapa kau diam saja saat aku memanggilmu?" Bukannya menjawab, Joo Heon malah tertawa keras hingga membuat Chang Kyun mengerutkan keningnya dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Joo Heon dibuat gemas dengan tingkah adiknya yang entah mengapa terlihat sangat menggemaskan. Hingga tanpa sadar tangannya bergerak untuk mengusap surai bocah itu dan membuat rambut sang empu kembali berantakan. "Hyung, hentikan. Kau membuat rambutku berantakan," protes Chang Kyun kemudian berusaha menyingkirkan tangan Joo Heon dari kepalanya. Oh, lihatlah wajah Chang Kyun yang memerah dengan pipi mengembung menahan kesal. Benar-benar menggemaskan. "Omo! Aku baru tahu jika kau sangat menggemaskan." Tak mau berhenti sampai di situ, Joo Heon lantas mencubit kedua pipi Chang Kyun dan menggerakannya ke kanan dan kiri. Hal itu tentu saja membuat Chang Kyun meringis kesakitan. "Aw ... Hyung, sakit ..." rintih Chang Kyun lantas menepis tangan Joo Heon dari pipinya, kekuatan Joo Heon memang bukan main. Menyadari hal tersebut, Joo Heon segera menghentikan kegiatannya dan berganti dengan menangkup dan mengusap lembut kedua pipi Chang Kyun yang berubah merah karenanya. "Ah, maaf. Aku tak bermaksud," ujar Joo Heon menyesal. "Hyung, bukankah kita akan terlambat?" tanya Chang Kyun membuat Joo Heon segera melepaskan tangannya dari pipi bocah itu. "Ah, kau benar! Kenapa baru bilang sekarang?" ungkap Joo Heon terkejut lantas menggenggam tangan Chang Kyun dan menariknya untuk meninggalkan tempat tersebut menuju sekolah. Meski sedikit terseret akibat tarikan dari Joo Heon, tapi Chang Kyun memilih diam tak memberikan protes. Tanpa bisa dicegah, senyum kecil kini terukir di bibir bocah tersebut. Perlahan namun pasti, seberkas cahaya mulai menerangi kegelapan yang menyelimuti bocah itu. #BLIND# Dari awal masuk hingga turun dari bus, tangan Chang Kyun tak lepas dari genggaman Joo Heon. Beberapa pasang mata bahkan secara terang-terangan memandang aneh pada mereka. Tentu saja Joo Heon menyadarinya, namun ia lebih memilih acuh dan fokus pada namja di sampingnya yang sedari tadi memaparkan senyum di wajahnya. "Ayo, aku antar sampai kelas," ajak Joo Heon kembali menarik tangan bocah di genggamannya. Namun, langkahnya terhenti ketika sesuatu menahan gerakannya. Ya, Chang Kyun melepaskan tangannya dari Joo Heon. "Tak usah Hyung, cukup sampai di sini saja. Aku bisa menuju kelasku sendiri," tolak Chang Kyun secara halus. "Eheyy ... tidak bisa begitu, sudah aku bilang, kan bahwa aku akan memulainya dari awal? Inilah awalnya, aku akan mengantarmu sampai ke depan pintu kelasmu setiap pagi dan akan menjemputmu tiap pulangnya," terang Joo Heon kembali menggenggam tangan Chang Kyun erat. Keduanya kembali melanjutkan langkah mereka dengan Joo Heon yang memimpin di depan dan Chang Kyun di belakangnya. Pagi yang tenang pun mendadak ramai dengan kasak kusuk kedekatan keduanya. Beberapa dari siswa mulai membicarakan tentang apa hubungan antara mereka dan sebagian menyimpulkan jika keduanya adalah saudara dan sebagian lainnya memekik tak percaya ketika melihat senior/junior idola mereka berjalan dengan bocah buta yang jenius. Jangan lupakan fakta bahwa Jooheon saat ini menyandang sebagai ketua dari klub futsal yang memang beranggotakan namja dengan paras tampan bahkan kepopulerannya mengalahkan tim basket sekolah tersebut. "Ya, ya, ya! Lihat, mengapa Joo Heon Sunbae bisa bergandeng tangan dengan dia? Sejak kapan mereka dekat?" Salah seorang siswi memekik heboh. "Oh my gosh, aku tidak percaya jika mereka sedekat ini," sahut siswi di sampingnya sembari mengusap kening. "Hei, apa Joo Heon punya saudara? Setehuku dia anak bungsu," salah satu siswa yang seangkatan dengan Joo Heon. "Benarkah? Lalu siapa dia?" Sekiranya begitulah apa yang dibisikan oleh beberapa penghuni sekolah tentang mereka. Meskipun telinganya mengalami hal yang kurang mengenakan, tapi Chang Kyun dapat dengan jelas apa yang mereka katakan. Hal itu membuatnya sedikit merasa aneh, bocah itu hanya pasrah saat Joo Heon dengan semangat menarik tangannya hingga depan pintu kelas. "Singkirkan kakimu, Bocah!" hardik Joo Heon saat mendapati Soon Young yang tengah menjulurkan kakinya di depan pintu. "Oh! H-hyung, mengapa kau di sini?" tanya Soon Young kelabakan, pasalnya ia segaja melakukan hal tersebut agar ketika Chang Kyun tiba, bocah itu akan tersandung dan jatuh akibat ulahnya. Siswa lain yang dapat melihat pasti akan menghindari kakinya, sedang Chang Kyun akan terjatuh. Bodoh memang, padahal ia melakukannya tiap hari tapi bocah itu selalu saja terjatuh seakan baru pertama kali mengalaminya. Hal ini benar-benar membuat Soon Young terkejut dan kehilangan kata-kata saat melihat Joo Heon berdiri di hadapannya dengan tangan Chang Kyun di belakang tubuhnya. Kali ini ia tertangkap basah oleh Jooheon yang ternyata hari ini mengantar Chang Kyun hingga kelasnya. Jin Woo yang semula berdiri di sampingnya ikut terkejut dengan kehadiran mereka. "Eo ... hahaha, apa kabar, Jooheon Hyung?" sapa Soon Young lantas menarik kakinya untuk memberi jalan bagi keduanya. Joo Heon tak membalas ucapan Soon Young dengan death glare-nya lantas menarik tangan Chang Kyun dan membawa bocah itu untuk duduk di bangkunya. Oh, ia tahu bangku di mana bocah itu duduk dari Doyoung. Omong-omong pemuda bergigi kelinci itu belum terlihat batang hidungnya pagi ini, dan suasana kelas tersebut masih cukup sepi. "Sudah sampai! Duduklah, aku akan menjemputmu pulang nanti," tegas Joo Heon kemudian berbalik untuk menuju kelasnya sendiri. "Hyung," panggil Chang Kyun yang membuat pemuda itu menoleh. "Ada apa?" "Terima kasih, kau seharusnya tidak perlu repot-repot mengantarku sampai kelas," ujar Chang Kyun dengan kepala menunduk. Tersenyum, Joo Heon tersenyum dan mengusap kepala Chang Kyun pelan. "Tidak, ini tidak merepotkan sama sekali. Aku senang bisa melakukannya untuk Dongsaeng-ku," tuturnya lembut. "Okey, selamat belajar dan sampai jumpa siang nanti," lanjut Joo Heon sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan tempat tersebut. Oh, sebelum itu juga, dirinya sudah memberikan ancaman mematikan pada Soon Young lewat gerakan tangan yang melintang di leher jika mereka kembali mengganggu Chang Kyun. Kedua bocah itu hanya pasrah dan mengangguk sebagai jawaban. Mengenaskan, tak ada lagi yang bisa menjadi objek kejahilan mereka di kala jenuh. #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD