Hari itu adalah hari pertama bagi Chang Kyun bersekolah di sekolah normal. Ya, karena awalnya pemuda itu berada di sekolah luar biasa atau yg biasa disebut dengan SLB.
Takut.
Itu satu kata yang ada di benak Chang Kyun saat ini. Pemuda itu tahu orang buta sepertinya mungkin akan kesulitan di terima dalam pergaulan. Tapi kenapa ia tetap memilih masuk ke sekolah tersebut? Alasannya cukup mudah, karena ia ingin satu sekolah dengan Joo Heon. Si berandal manja yang tidak memiliki hati nurani karena meninggalkan adiknya yang buta pergi ke sekolah sendirian.
Lagi pula, sekolah yang ia tempati sekarang adalah sekolah yang menerapkan sistem inklusi, di mana siswa penyandang d*********s bisa menuntut ilmu bersama dengan siswa normal lainnya.
Awalnya Joo Heon menolak. Tapi keputusan berada di tangan Nyonya Lee yang kala itu memberi syarat pada Chang Kyun agar pemuda itu mendapat nilai Ujian Kelulusan terbaik.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh ibunya, Chang Kyun akhirnya berhasil memenuhi syarat tersebut dan berakhir dengan ditapakkannya kaki Chang Kyun di tanah sekolah tersebut.
Maka, di sini lah ia sekarang, berjalan di antara para siswa SMA Monggi. Dan menjadi pusat perhatian dari para pelajar lainnya.
“Permisi,” panggil Chang Kyun pada seseorang yang kebetulan lewat sampingnya.
“Ahh … Iya?” orang itu tampak sedikit terkejut karena tiba-tiba dipanggil oleh orang asing.
“Maaf sudah membuatmu terkejut, aku tidak bermaksud.” Changkyun membungkukkan badannya 45 derajat. Wajahnya terlihat begitu menyesal.
Orang itu tertawa kecil melihat tingkah Chang Kyun yang menurutnya agak berlebihan.
“Sudahlah, lupakan. Jangan meminta maaf seperti itu, omong-omong ada apa? Kenapa kau memanggilku?” tanya pemuda asing itu dengan serius.
Chang Kyun terlihat ragu. “Eum … bisakah kau menunjukkan padaku di mana kelas 1-1?”
“Mengapa? Kenapa aku harus ….” Orang itu berhenti di tengah kalimatnya. Memperhatikan Chang Kyun dari atas sampai bawah dan langsung menutup mulut dengan kedua tangan.
“Oh … astaga! Kau ….” Ia masih tidak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya.
Chang Kyun tersenyum setelah tahu apa yang ada di pikiran siswa tersebut. “Iya. Jadi … maukah kau mengantarkan aku?” Chang Kyun mengulang kalimatnya.
Siswa tersebut segera menghilangkan rasa herannya dan mengangguk. “Baiklah, baiklah. Ikut aku, masalah ini kita bahas di kelas saja.”
Siswa tersebut lalu berjalan mendahului Chang Kyun. Sementara Changkyun mengangkat sebelah alisnya. Berjalan mensejajarkan langkah dengan siswa yang belum sepuluh menit ini dikenalnya.
“Di kelas? Apa maksudmu?”
Siswa tersebut tersenyum. “Ya, di kelas. Karena kita kebetulan menjadi teman sekelas,” sahut pemuda asing itu, terdengar lebih ramah di telinga Chang Kyun.
“Astaga! Lalu kenapa tadi kau menolak untuk mengantarkan aku jika ternyata kita berada dalam satu kelas?” Chang Kyun memasang wajah kesalnya dan itu terjadi secara refleks.
“Menolak? Tidak kok, aku belum mengatakan kalau aku menolak untuk mengantarmu,” sangkal pemuda asing tersebut.
“Tadi kau mengatakannya.” Chang Kyun masih bersikeras dengan pendiriannya.
“Kapan?” tanya pemuda asing itu tak mau kalah.
“Tadi, meskipun tersirat,” sahut Chang Kyun.
“Hahaha … oke kawan. Aku mengaku kalah, kau sepertinya anak cerdas.” Pemuda asing itu pada akhirnya mengakui kekalahannya.
“Perkenalkan, aku Jang Doyoung. Panggil saja Doyoung,” ucap siswa tersebut, kemudian mengulurkan tangan kanannya.
“Oh … aku Im Changkyun.” Menyambut uluran tangan Doyoung.
Doyoung menatap Chang Kyun melongo. “Apa ini? Kenapa kau tahu kalau aku mengulurkan tanganku?”
Chang Kyun kembali tersenyum. Pemuda itu menjawab, “Hanya mengikuti naluri saja. Orang-orang akan mengulurkan tangan ketika mereka mengajak berkenalan. Bukan begitu?”
“Hah?” Doyoung makin tak mengerti. ‘Orang buta yang aneh,’ pikir pemuda itu.
Teman pertama yang Chang Kyun kenal. Sampai saat ini cukup menyenangkan. Itulah yang ada di benak Chang Kyun saat ini. Dan tentu saja ia berharap akan mendapat teman yang baik seperti Doyoung lagi nantinya. Setidaknya itu akan cukup adil baginya setelah semua yang harus ia lewati untuk bisa sampai di tempat itu.
•°• BLIND•°•
Chang Kyun melangkahkan kakinya ke dalam kelas yang mana akan menjadi tempatnya menimba ilmu satu tahun ke depan.
Telinganya mulai menyesuaikan diri dengan suasana kelas yang terkesan ramai. Bisa dipastikan, kebanyakan dari mereka dulu adalah teman waktu SMP. Dilihat dari keakraban yang sudah terjalin di setiap gerombolan. Padahal ini baru hari pertama masuk sekolah.
“Hmmm … Chang Kyun, kira-kira di mana kita akan duduk? Aku ingin menemukan titik yang pas agar nyaman ketika mendengar penjelasan guru.” Doyoung merangkul Chang Kyun tanpa ragu.
Tak seperti orang yang baru berkenalan beberapa menit yang lalu. Keduanya lebih terlihat seperti telah bersahabat selama bertahun-tahun. Namun Chang Kyun tampaknya belum terbiasa dengan sikap Doyoung. Chang Kyun mencoba melepaskan tangan Doyoung dari bahunya.
“Terserah kau saja, aku belum tau seluk beluk kelas ini.”
Doyoung tersenyum senang, kemudian menarik lengan Chang Kyun begitu saja dan mengajaknya berjalan ke salah satu bangku yang masih kosong.
Chang Kyun mendapat bangku nomor dua dari belakang, karena bangku paling belakang sudah ada yang menghuninya. Sementara Doyoung bertempat di samping Chang Kyun. Tampaknya anak itu tak mau jauh-jauh dari Chang Kyun. Keduanya meletakkan tas dan duduk bersamaan.
“Hei! Sekarang ceritakanlah tentang dirimu.” Doyoung memutar badan beserta kursinya sekaligus dan menghadap Chang Kyun. Terlihat cukup antusias.
Apakah itu pertama kalinya bagi Doyoung melihat orang buta pergi ke sekolah?
“Ceritakan apa?” Chang Kyun malah balik bertanya dengan wajah herannya.
Doyoung memutar kedua bola matanya dengan malas. “Yaaa … ceritakan tentang siapa dirimu, asalmu, keluargamu dan lainnya. Terserah, dengan senang hati aku akan mendengar,” ucap Doyoung tidak sabar.
Chang Kyun seketika terdiam, tidak menjawab maupun merespon apa pun. Hanya diam. Apa yang harus dikatakannya pada teman barunya ini?
Tuk tuk tuk
Doyoung mengetuk meja Chang Kyun pelan. Ia merasa diacuhkan.
“Hei, halo! Kenapa kau diam saja? Kau mengacuhkan aku, ya?” ucap Doyoung kesal.
“Ah … maaf?” Chang Kyun tersadar dari lamunannya.
“Huh! Kau melamun? Sedang memikirkan sesuatu?”
Chang Kyun tersenyum. “Tidak. Aku tidak memikirkan apa pun,” sahutnya dengan raut muka semeyakinkan mungkin.
Doyoung mengangguk dan membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’.
“Jadi Chang Kyun, kau tidak mau menceritakan tentang dirimu padaku?”
“Eumm … tidak tidak. Bukan begitu, aku hanya .…” Terlihat sangat ragu, Changkyun kembali terdiam.
Doyoung dengan cepat paham akan maksud Chang Kyun. Pemuda itu memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Doyoung menjatuhkan telapak tangannya ke bahu Chang Kyun sebagai pertanda agar kawannya tidak lanjut bicara.
“Oh … ya sudah oke, oke. Dari ekspresimu, aku paham kau tak mau membahas hal itu. Tenang kawan, aku akan diam. Lihat, aku akan mengunci mulutku,” Doyoung melakukan gerakan seperti menutup resleting ke mulutnya sebagai tanda ia tak akan bertanya macam-macam lagi.
Chang Kyun tertawa mendengar ucapan lucu kawan barunya ini. Pada akhirnya, mereka terhanyut dengan percakapan ringan tentang hobi masing-masing.
“Chang Kyun, mungkin suatu saat kau boleh melihatku tampil di pertandingan futsal dan pastikan kau mendukungku,” ujar Doyoung penuh semangat menceritakan kegemarannya dalam berolahraga.
Chang Kyun tersenyum. “Baiklah, baiklah. Suatu saat aku akan menyaksikan pertandinganmu dan menjadi pendukung setiamu.”
Mereka mulai akrab dengan cepat, tak jarang mereka saling tertawa karena topik yang lucu.
“Ish! Kalian bisa diam tidak?”
Salah satu siswa yang duduk tepat di belakang bangku Chang Kyun menendang kaki kursi yang diduduki oleh Chang Kyun. Siswa itu tidak sendiri, ia juga bersama satu temannya yang juga menatap kesal ke arah mereka meski tidak berucap.
Chang Kyun menoleh ke arah sumber suara. “Ah … maaf jika kami mengganggu kalian,” ucap Chang Kyun, terlihat menyesal.
“Dasar menyebalkan,” umpat siswa itu pelan yang tentu saja dapat terdengar oleh telinga Chang Kyun.
Siswa tersebut menatap Chang Kyun dengan raut wajah tak sukanya dan terkesan merendahkan. Di pikiran anak itu sudah muncul banyak niat untuk membuat orang di depannya ini menderita.
“Hei! Kenapa kau menatap Chang Kyun seperti itu? Apa maksudmu, hah?” Doyoung yang melihat hal itu tidak tinggal diam. Ia berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang.
“Apa hah? Apa salahku?” Siswa tersebut membalas ucapan Doyoung sama sengitnya.
Doyoung mengarahkan jari telunjuknya ke wajah siswa tersebut dan bersiap untuk mengumpat.
Brak!
Siswa tersebut menggebrak mejanya keras. Hal tersebut tentu saja membuat seisi kelas terkejut dan menatap mereka heran.
“Bocah ini! Jangan menunjukkan tangan hinamu itu padaku, sialan!” umpatnya dengan wajah memerah.
“Apa? Hina? Apa maksudmu, hah?” Doyoung berdiri dari duduknya, tangannya terkepal erat. Bersiap menghajar siswa menyebalkan tersebut.
“Jangan lalukan itu Doyoung, kumohon jangan bertengkar hanya karena aku,” Chang Kyun menahan lengan Doyoung agar tak melangkah menghampiri siswa tersebut.
“Tapi dia secara tidak langsung sudah merendahkanmu, apa aku akan diam saja saat melihat temanku dihina?” ucap Doyoung dengan emosi yang tertahan.
“Aku baik-baik saja, tidak apa-apa. Tak perlu dipikirkan,” sahut Chang Kyun tersenyum hangat.
Doyoung berdecih kesal dan kembali duduk ke kursinya, lantas mendiamkan Chang Kyun. Dan tentu saja siswa tadi tersenyum penuh kemenangan.
“Doyoung, jangan salah paham dulu. Aku hanya tidak ingin hari pertama kita sekolah menjadi buruk,” lirih Chang Kyun yang masih dapat didengar oleh lawan bicaranya.
“Lupakan, aku minta maaf, aku seharusnya tidak dengan mudah terbawa emosi tadi,” sahut Doyoung beberapa saat kemudian.
Tok tok tok
Papan tulis diketuk oleh seorang yang berdiri tidak jauh dari papan tersebut.
“Baiklah, sebelumnya saya minta maaf karena terlambat datang, perkenalkan saya Park Seo Joon. Saya akan menjadi wali kelas kalian dalam satu tahun ke depan. Ada yang ingin ditanyakan?” jelas sang guru panjang lebar.
Semua diam dan mulai terfokus pada guru yang berbicara.
“Baiklah, kalau tidak ada. Hari ini adalah hari pertama kalian di SMA Monggi, jadi saya minta kalian perkenalkan diri kalian masing-masing.”
Seperti yang diperintahkan Guru Park, seisi kelas pun maju satu persatu untuk memperkenalkan diri.
Tiba pada giliran Chang Kyun. Doyoung mengulurkan tangannya dan menyentuh lengan Chang Kyun, berniat membantu Chang Kyun.
“Terima kasih, aku bisa sendiri,” Chang Kyun berdiri dari duduknya dan berjalan ke depan kelas dengan mantap.
“Perkenalkan, aku Im Chang Kyun. Senang bertemu dengan kalian dan semoga kita dapat menjadi teman yang baik nanti,” Chang Kyun mengakhiri perkenalan dirinya dengan senyum khasnya.
“Chang Kyun, apa kau seorang tunanetra?” tanya salah satu teman kelasnya tiba-tiba.
Semua menoleh ke arah siswa tersebut dan menatapnya dengan aneh. Siswa tersebut bingung dengan tatapan yang ia dapat dari teman lainnya.
“Kenapa? Aku hanya bertanya, apa aku salah?” tanyanya bingung. Dia jadi merasa seperti orang jahat.
Lagi-lagi Chang Kyun tersenyum. “Tidak, kau tidak salah apa pun dan kau benar bahwa aku seorang tunanetra.”
“Ohhh … lalu kenapa kau tidak memakai tongkat?”
“Aku memakainya,” Chang Kyun mengeluarkan sesuatu dari belakang bajunya. Sebuah tongkat yang biasa digunakan oleh para tunanetra.
“Baiklah aku rasa cukup bertanya tentang hal itu. Im Chang Kyun, kau boleh kembali duduk ke kursimu.” Guru Park segera menghentikan keingintahuan para siswanya yang mungkin saja bisa membuat Chang Kyun tidak nyaman.
“Baik, Pak. Terima kasih.” Chang Kyun membungkuk guna memberi hormat lantas kembali ke tempat semula ia duduk.
“Si buta dari gua hantu,” bisik siswa di belakang Chang Kyun pada teman sebangkunya yang terkekeh mendengar ocehan kawannya. Dia adalah Ahn Soon Young dan teman sebangkunya, Park Jin Woo.
Chang Kyun dengar itu. Sakit? Ya, memang sakit. Tapi begitulah adanya. Ini mungkin salah satu resiko yang harus ditanggungnya jika bersekolah di sekolah normal.
Dengan semangat dan harapan besar, Chang Kyun ingin menjalani masa-masa SMA nya dengan baik. Dia juga ingin menunjukkan prestasinya hingga membuat sang ibu merasa bangga.
#BLIND#