BLIND-EIGHT

1603 Words
Sinar mentari menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar itu. Hyun Woo menggeliat beberapa saat, merenggangkan otot-ototnya yang kebas karena semalam tidak berubah posisi tidurnya. Sinar matahari mengusik tidurnya. Ya, semalam ia tidur di kamar Chang Kyun. Niatnya untuk tidur di kamar sendiri ia urungkan karena Chang Kyun kembali mengigau dalam tidurnya. Hyun Woo mengalihkan pandangannya pada Chang Kyun yang masih pulas. Tentu saja sinar matahari tidak mengganggu tidur pemuda itu. Hyun Woo masih terduduk di sisi ranjang saat Chang Kyun mulai terbangun. “Eungh!” Sama seperti yang dilakukan Hyun Woo sebelumnya, Chang Kyun merenggangkan otot tubuhnya. Wajahnya terlihat lucu saat baru bangun. Yang mau tak mau membuat Hyun Woo terkekeh pelan. Chang Kyun langsung menegakkan tubuhnya. Ketika mendsngar kekehan Hyun Woo yang cukup mengejutkan baginya. “H-hyung?” Chang Kyun mengucek kedua matanya yang masih mengantuk. “Kau masih di sini? Hoamm ....” satu tangan Chang Kyun bergerak menutup mulutnya. “Eoh ....” Hyun Woo mengacak puncak surai Chang Kyun gemas. Chang Kyun terpaku beberapa saat. Masih terkejut dengan perlakuan hangat dari Hyun Woo padanya. Bodoh! Seharusnya Hyun Woo paham dengan ekspresi Chang Kyun. Tentu saja ia yang mendadak perhatian seperti itu menimbulkan pertanyaan bagi anak itu. Dengan cepat ia tarik tangannya dan menggaruk tengkuknya canggung. Beruntung Chang Kyun tak dapat melihat wajahnya yang memerah. “Kenapa, Hyung? Mengapa kau diam?” tegur Chang Kyun. Hyun Woo menggelengkan kepalanya sembari tersenyum canggung. “Tidak, Tidak apa-apa. Cucilah wajahmu dan pergilah sarapan.” Hyun Woo buru-buru bangkit dari kasur dan beranjak meninggalkan kamar, lalu menghentikan langkahnya ketika sampai di depan pintu kemudian berbalik. “Tentang tadi malam. Sebaiknya kau lupakan itu. Jangan berlebihan menanggapinya. Aku hanya sedikit khawatir,” ujar Hyun Woo yang kemudian benar-benar meninggalkan kamar tersebut. Chang Kyun mengangguk takzim. Benar yang dikatakan Hyun Woo. Suatu kesalahan jika ia terlalu berharap. “Tapi bisakah kekhawatiran itu suatu saat bisa membuat kalian melihat ke arahku? Memaafkan aku dan mencintaiku? Yah ... setidaknya aku masih bisa berharap hal itu terjadi meskipun pada akhirnya itu tetap hanyalah sebuah harapan semata,” ucap Chang Kyun bermonolog. #BLIND# Chang Kyun menuruni anak tangga dengan senyum terukir di bibir seperti biasa. Eomma dan Joo Heon sedang pergi ke rumah Halmeoni mereka, jadi hanya tersisa ia dan Hyun Woo di rumah besar itu. Dan sekarang Hyun Woo sudah pergi ke rumah temannya. Alhasil tinggal dirinya sendiri yang menjaga rumah. Bagi Chang Kyun ditinggal di rumah seorang diri sudah merupakan hal biasa baginya. Hal itu juga yang membuatnya jadi lebih mandiri dan mengerjakan semuanya sendiri meski ia memiliki keterbatasan fisik. Chang Kyun melangkahkan kaki kecilnya menuju dapur dan mengambil sebungkus ramyeon yang letaknya sudah ia hafal di luar kepala. Dengan lincah tangannya membuat ramyeon tersebut tanpa menimbulkan kerusakan di dapurnya. Menikmati semangkok ramyeon dalam keheningan membuat hatinya sedikit tenang sekaligus sesak. Di hari liburan seperti ini seharusnya ia juga menikmati liburan bersama keluarga. Tapi nyatanya Nyonya Lee justru memerintahkannya untuk tetap di rumah dan hanya mengajak Joo Heon. Biarlah, toh setidaknya ia masih bisa pergi ke taman di daerah dekat rumahnya. Baginya itu sudah cukup untuk mengisi liburannya. Dan sekarang Chang Kyun sudah bersiap untuk pergi ke taman. Dengan hanya menggunakan setelan kaos polos warna putih dilapisi jaket warna hitam serta celana selutut, Changkyiun melangkahkan kakinya menuju taman dengan senyum manis di bibir tipisnya. Tak lupa ia mengunci seluruh pintu rumahnya. Hari masih cukup pagi, jadi udara pun masih terasa segar dihirup. Chang Kyun berjalan dengan sebuah tongkat yang setia berada di tangan kanannya. Ya, sebenarnya dia sudah hafal jalan menuju taman tapi ia tak mau ambil resiko tersandung nantinya. Tak jarang ia menyapa siapa saja yang ia temui di jalan. Anak yang ramah memang. Sesampainya di taman, Chang Kyun duduk di sebuah kursi yang biasa menjadi tempat singgahnya ketika di taman itu. Dan yang ia lakukan selanjutnya hanyalah menikmati beberapa hal kecil yang tejadi di taman. Anak-anak bermain, ibu yang memarahi putranya karena membuat sang adik menagis. Bocah merengek minta es krim padahal dirinya flu. Sampai orang tua yang ikut bermain menghabiskan waktu libur bersama anaknya. Suara-suara itu memenuhi pendengaran Chang Kyun. Chang Kyun sendiri lupa kapan terakhir kali ia mengalami hal serupa. 5 tahun? Atau 10 tahun, kah? Entahlah ... mungkin karena kenangan itu sudah terlalu lama, sampai-sampai dirinya sendiri lupa jika dia juga pernah seperti mereka. Changkyun tersenyum getir. ‘Kau benar-benar menyedihkan, Im Chang Kyun!’ #BLIND# “Yak! Mengapa kau mengajakku ke tempat seperti ini, Lee Min Hyuk?” Kihyun mendegus kesal. “Kenapa? Bukankah hari ini cuacanya cukup cerah? Tidak ada salahnya, kan kita sedikit berolahraga?” Min Hyuk menyeka keringat yang turun di dahinya. Terhitung mereka sudah berlari mengelilingi tempat yang sama sebanyak dua kali. Dengan menggunakan sepasang baju training, mereka berusaha untuk menyehatkan tubuh. Bukan mereka tapi ini ide dari Min Hyuk. Dan Kihyun sudah ditipu olehnya yang semula diajak ke warnet tapi berakhir di sebuah taman. “Tapi tadi kau bilang kita akan main game seharian. Kau menipuku!” ujar Kihyun masih tak terima. Ia menghentikan larinya dan membiarkan Min Hyuk berlari sendiri. Ia sudah lelah. Min Hyuk yang menyadari hal itu langsung memutar arahnya dan menghampiri Kihyun. “Tidak, aku tidak membohongimu. Kita akan main game seharian.” “Tapi kita sekarang di taman. Apa hubungannya bermain game dan belari?” wajah Kihyun mulai memerah menahan amarah serta lelah. Min Hyuk terkekeh melihat wajah kawannya yang selalu memerah jika emosinya tertahan. “Tidak ada salahnya, kan jika kita melakukan pemanasan dulu sebelum bertarung? Lagi pula kau itu butuh sedikit olahraga lebih agar tinggimu itu bertambah,” sahut Min Hyuk dengan santainya. “Yak! Apa maksudmu?” Kihyun hampir melayangkan pukulan ke kepala Min Hyuk, tapi gagal karena pemuda itu sudah lebih dulu berlari meninggalkannya. “Yak! Lee Min Hyuk, awas kau!” Kihyun akhirnya ikut berlari mengejar Min Hyuk yang sudah menjauh darinya. Min Hyuk menghentikan langkahnya secara mendadak hingga membuat Kihyun yang tepat berada di belakangnya hampir terjungkal karena menghindari tabrakan dengan tubuhnya. “Sekarang apa lagi? Kau hampir membuatku terjatuh!” gerutu Kihyun. Hari ini ia sepertinya sedang dalam temperamen yang buruk. Bukannya meminta maaf, Min Hyuk malah menepuk bahu Kihyun berulang-ulang. “Hei! Hei! Hei! Kihyun! Bukankah bocah itu ....” Min Hyuk mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah bangku. Kihyun mengikuti arah jari telunjuk kawannya. “Bukankah dia teman butamu?” Ctakk! Satu jentikkan lagi-lagi mendarat di kepala Min Hyuk. “Im Chang Kyun,” gumam Kihyun yang kemudian berjalan mendekati Chanh Kyun. Tak peduli dengan Min Hyuk yang mengumpat padanya. Perlahan Kihyun mendekati pemuda itu. Min Hyuk pada akhirnya mengikuti langkah sahabatnya. Tunggu, dia sendiri? “Kau di sini, Im Chang Kyun?” sapa Kihyun sehalus mungkin, tak mau membuat Chang Kyun terkejut. Tapi hal itu tetap memberi efek kejut bagi Chang Kyun yang sedang melamun. Tubuhnya sedikit tersentak. “Ah… ya? Siapa kau?” Chang Kyun yang baru sadar dari lamunannya masih belum bisa mengenali siapa orang di depannya. “Ini aku, Kihyun.” “Kihyun Hyung?” Chang Kyun menaikkan satu alisnya. “Dan aku Lee Min Hyuk, sahabat Kihyun. Salam kenal Chang Kyun.” Min Hyuk tersenyum hangat meskipun Chang Kyun tak melihatnya. “Ah, ya. Salam kenal Min Hyuk Sunbae,” sahut Chang Kyun agak canggung. “Tidak, tidak. Tidak perlu begitu ... panggil saja aku Hyung, sama seperti saat kau memanggil Kihyun.” “Baiklah, Min Hyuk Hyung,” sahut Chang Kyun lagi yang terdengar masih kaku. Kihyun mendudukkan dirinya di samping Chang Kyun kemudian menyusul Min Hyuk di sebelahnya. “Apa kau ke sini sendiri?” Kihyun memulai percakapan. “Ya, aku sendiri,” sahut Chang Kyun singkat diiringi senyum hangatnya. “Sungguh? Kenapa kau tidak mengajak seseorang untuk menemanimu? Seperti kakak atau teman? Bukankah itu berbahaya? Bagaimana jika kau tersesat?” Min Hyuk yang tak bisa mengontrol mulutnya langsung menghujani Chang Kyun dengan serentetan pertanyaan yang membuat pemuda itu malah bungkam. Kihyun sontak menginjak kaki Min Hyuk. “Awww!” “Dasar bodoh! Apakah kau orang i***t? Kenapa kau menanyainya sebanyak itu? Kau membuatnya bingung, Lee Min Hyuk.” Min Hyuk yang menyadari kesalahannya kemudian diam dan menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. “Maafkan kelakuan temanku ini, Chang Kyun! Mulutnya memang seperti pipa air yang bocor!” Kihyun melirik Min Hyuk sinis. “Ya, ya ... maafkan aku,” sahut Min Hyuk tanpa minat. Chang Kyun terkekeh mendengar perdebatan kecil dari dua seniornya ini. “Tidak, Hyung. Tidak apa-apa, aku memang selalu sendiri ke sini.” “Kenapa?” kali ini mulut mereka yang lepas kontrol. Dilihatnya raut wajah Chang Kyun yang berubah murung seketika. ‘Ahh ... Yoo Kihyun! Jaga mulutmu!’ Kihyun mengutuk dirinya dalam hati. Sementara Min Hyuk terlihat beberapa kali menepuk bibirnya sendiri. “Bukan apa-apa. Aku memang sudah terbiasa melakukannya sendiri, lagi pula tempat ini tidak jauh dari tempatku tinggal,” sahut Chang Kyun kemudian dengan senyum yang sudah kembali terukir. Mendengar jawaban Chang Kyun, Kihyun dan Min Hyuk bisa menarik nafas lega. Tapi tidak sepenuhnya, karena hal ini membuat Kihyun semakin ingin tahu semakin dalam tentang sosok seorang Im Chang Kyun. Bagaimana kehidupannya? Mengapa ia selalu tersenyum padahal jelas sedang terluka? Kihyun hanya ingin tahu itu dan dalam lubuk hatinya ia ingin menjadi sosok yang selalu berada di samping bocah itu. Alasannya? Tidak tahu! Hanya saja ini terasa seperti De Javu. Seperti kepingan bagian dari masa lalu yang terulang kembali. Lain Kihyun, lain lagi Min Hyuk. Selama berbicara dengan Chang Kyun, Min Hyuk mencoba mencuri pandang ke arah mata pemuda itu. Dan benar saja, Min Hyuk menyesal telah menatap mata itu. Terlalu banyak kesedihan di dalamnya. ‘Sial! Kenapa hatiku juga sakit melihatnya?’ batin Min Hyuk. #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD