Move on

1086 Words
Monica tersenyum senang melihat putrinya duduk bersama salah seorang wanita yang sangat cantik menunggu dirinya. "Olivia," panggil Monica yang mengagetkan mereka. Rachel menoleh ke arah model cantik yang merupakan ibu dari Olivia. Mama ...," teriak Olivia memeluk mamanya. Rachel tersenyum senang melihatnya. Tapi, senyum itu kembali redup saat ia melihat Darwin, mantan kekasihnya. Darwin tersenyum tipis, ia tak menyangka wanita yang begitu ia rindukan kini berdiri di depannya. Tatapan lembut dan penuh kerinduan telah terpancar di wajahnya. 'Rachel.' Ingin rasanya Darwin memeluk dan menyentuh kedua pipi mantan kekasihnya itu. Tapi, itu tak mungkin lagi. Mengetahui status kini yang telah terjadi antara dia dan Rachel. Perlahan, senyum Darwin hilang saat Rachel memalingkan wajahnya. "Papa," kata Olivia beralih memeluk Darwin. Deg! Hati Rachel berdesir begitu hebat, kedua matanya tak mampu berkedip saat gadis kecil itu memanggil Darwin dengan sebutan 'papa'. "Jadi, Olivia adalah anaknya Darwin?" tanya batin Rachel yang berusaha menatap Darwin yang masih menatapnya dengan tajam. Rachel terperangah dan seakan tak percaya melihat keharmonisan keluarga kecil dari mantan kekasihnya itu. "Terimakasih banyak, ya. Kamu sudah menemani putri saya," kata Monica yang begitu terharu. "Iya, sama-sama! jawab Rachel mencoba untuk tersenyum meski hatinya terasa sakit melihat kenyataan pahit yang ada di hadapannya. "Oiya, ini kartu nama saya. Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa hubungi saya!" kata Monica menyodorkan kartu nama dan membelai putrinya yang ada di dekapan Darwin. "Kalo begitu kami pergi dulu!" kata Monica dengan senyum manisnya. "Da ... Tante cantik. Lain kali, kita main lagi, ya?" Lambaian tangan kecil itu membuat Rachel memaksa untuk tegar. Diam, tanpa menyapa itulah yang di pilih Darwin saat bertemu dengan Rachel. Hati kecilnya seakan teriris-iris, tercabik-cabik hingga air matanya jatuh begitu saja. 'Apa ini alasanmu meninggalkan diriku? Kamu memilih wanita lain untuk melahirkan anak darimu.' Rachel mengusap air matanya yang terjatuh tak tertahankan. Ia mulai mengatur nafas dan mencoba untuk tegar melihat kenyataan pahit yang melintas di hadapannya. Mantan kekasih yang ingin ia pertahankan justru sudah menjadi milik orang lain. Bibirnya bergetar, kedua tangannya juga seakan tak mampu melepas bahu kursi yang ia duduki. "Rachel, come on. Kamu cantik, pintar, dan masih muda. Banyak cowok di luar sana yang lebih keren, tampan dan setia yang mau sama kamu. Tunjukkan padanya kalo kamu adalah cewek yang pantas untuk di perjuangkan," kata Rachel menghela nafas panjang. "Tenang Rachel tenang! Kamu pasti bisa!" ucap Rachel sembari mengusap air matanya yang tak tertahankan. Dengan tegar dan tegas, ia berdiri tegak dan melangkah untuk meninggalkan mall tersebut. *** Satria mengemudikan mobilnya dengan santai sembari menjawab telpon dari mamanya. "Iya, Ma. Kalo ada waktu, Satria akan ke apartemen," kata Satria. ("Oiya, Sayang. Tolong kamu suruh anak buah kamu untuk mencari Rachel, ya? Ternyata dia juga ada di Bogor,") Rachel? Kenapa namanya seperti? gumam batin Satria terkejut ketika mamanya memanggil namanya tiada henti. "Iya, Ma," jawab Satria. ("Tolong, ya? Siapa tau, jika kamu bertemu dengannya, pernikahan kalian bisa langsung terlaksana.") Satria hanya mengiyakan apa yang diperintahkan mamanya untuk mencari calon tunangannya tersebut. Ia mendesah sebal. Lagi dan lagi hatinya begitu sakit jika mamanya selalu berbicara tentang dia. "Seperti apa cewek itu? Bisa-bisanya mama ngotot menjodohkan aku dengan dia," kata Satria berhenti mendadak saat melihat ada orang yang pingsan tepat di depan mobilnya. Dengan wajah yang panik, Satria bergegas menghampiri orang tersebut.  Kedua matanya mengerling ketika orang itu adalah Rachel, cleaning servis yang bekerja di perusahaan miliknya. "Hei, bangun!" kata Satria menepuk pipi Rachel. Sejenak, Satria tercengang ketika tangannya menyentuh pipi Rachel yang terasa panas. "Dia demam?" kata Satria bergegas mengangkat tubuh ideal Rachel untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan sangat hati-hati, Satria memasang shift belt untuk Rachel. Terpikat atau terpesona? Satria menatap wajah cantik itu dengan tatapan yang tak biasa ia lakukan pada seseorang.  Ia mendengus sebal. Bisa-bisanya dia berpikir yang seharusnya tak ia pikirkan.  Perlahan, ia melirik Rachel yang menggigil kedinginan. Tanpa pikir panjang, ia melepas jas dan memakaikannya pada Rachel. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tak tau tempat tinggalnya dan jarak rumah sakit sangat jauh." Satria berpikir sejenak. Tanpa pikir panjang, ia membawa Rachel ke rumahnya. Simbok Darmi yang merupakan asisten rumah tangganya pun terkejut melihatnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat majikannya membawa wanita masuk ke dalam rumahnya itu. "Siapa wanita itu?" tanya simbok penasaran. "Mbok, tolong buatkan kompres dan teh hangat untuknya!" perintah Satria yang membopong Rachel menuju ke kamarnya. "Baik, Aden boss!" gegas simbok pergi. Entah apa yang merasuki pikiran Satria saat itu. Ia selalu menatap wajah cantik yang terkulai lemas di gendongannya. Lagi dan lagi, Satria menghela nafas panjang dan sedikit menyesali dengan apa yang ia lakukan. "Apa yang aku lakukan?" desah Satria merebahkan tubuh itu di tempat tidurnya. Dengan cepat ia menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Rachel. Seperti layaknya suami yang begitu mencemaskan keadaan istrinya. "Dia hanya demam, Pak. Dan usahakan obatnya di minum tepat pada waktu, ya, Pak." Dokter tersebut menyiapkan beberapa obat untuk Rachel. "Ok!" "Kalo begitu, saya permisi dulu. Jika dalam dua hari demamnya tidak turun. Bapak bisa membawa istrinya ke rumah sakit saja, ya, Pak!" saran Dokter yang membuat Satria terperangah mendengar kata-kata itu. "Terimakasih," jawab Satria tersenyum tipis seraya melihat Dokter itu pergi dari kamarnya. "Istri?" tanya batin Satria menyeringai. Perlahan, ia mulai duduk di samping Rachel.  "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Satria menyapu rambut Rachel yang menutupi wajahnya. Dengan penuh perhatian, Satria mengompres kening Rachel hingga ia ketiduran.  **** Di satu sisi, Intan juga sangat mengkhawatirkan sahabatnya yang tak kunjung pulang. Mondar-mandir ke sana kemari, jari jemarinya juga tak berhenti menghubungi Rachel yang dari tadi tidak aktif. "Aduh! Rachel, kamu dimana? Kenapa jam segini belum pulang?" tanya Intan bingung. "Tapi, Farhan bilang. Rachel pulang naik taksi, trus mau kemana? Apa dia punya saudara di sini? Atau keluarganya datang ke sini?" Beberapa pertanyaan yang membuat Intan bingung untuk menebaknya. "Semoga saja, keluarganya datang menjemputnya. Sebenarnya, aku juga nggak tega jika dia seperti orang kesusahan seperti ini," gumam Intan merebahkan tubuhnya seorang diri. Keesokan harinya, Rachel memegang kepalanya yang sedikit terasa sakit. Perlahan ia mulai membuka matanya yang masih begitu berat. "Aduh, kenapa kepalaku pusing banget?" tanya Rachel terkejut ketika ia berada di tempat yang begitu istimewa. Kedua matanya mengerling melihat seisi kamar tersebut yang seperti miliknya yang ada di Jakarta. "Aku di mana? Kenapa aku di sini?" tanya Rachel bingung.  Sesaat, tatapan matanya mengarah pada foto besar yang menempel di dinding kamar tersebut. Tanpa senyum dan terlihat angkuh itulah dia. Foto atasannya yang terlihat jelas di figura tersebut. Dengan spontan, ia menutup mulutnya. Ia sangat tak percaya jika dirinya berada di tempat Satria. "Pak Satria? Kenapa aku bisa ada di rumah pak Satria?" tanya Rachel bingung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD