Jadi gara-gara Pak Satria lagi?" gumam Rachel dengan mata berkaca-kaca. Hatinya seakan sakit teriris-iris, jika teringat akan tamparan keras yang rasanya masih membekas. Seumur hidupnya, ia tak pernah merasakan bagaimana rasanya di tampar. Dan sekarang, ia merasakan tamparan itu dari tangan Ayunda. "Mama, Rachel kangen," ucap Rachel yang tak bisa membendung air mata yang sempat tertahan. Perasaan rindu yang mendalam kian membuncah. Senyum dan kasih sayang dari mamanya mulai menaungi pikirannya saat ini. Hampir satu menit ia larut dalam kesedihan dan kerinduan yang teramat dalam. Dengan cepat, jari jemarinya yang mulus mengusap air matanya dan mencoba untuk tegar. "Rachel, kamu tak boleh cengeng. Apapun yang terjadi, kamu harus tegar menghadapinya. Ingat! Kamu sudah dua lima tahun. Apapun

