Grace mengerutkan dahinya saat memperhatikan jalan yang tampak berbeda dari biasanya, jelas ini bukan jalan menuju rumah mereka. Tapi ia tetap urung bertanya, entah kenapa hatinya masih enggan berbaikan dengan pria di sampingnya ini.
Gevano yang memperhatikan jalan sesekali melirik Grace yang tampak diam sedari tadi sambil memperhatikan jalan dari jendela. Diamnya gadis itu membuat hatinya merasa tidak nyaman, entah kenapa ia rindu dengan celotehan dan senyum ceria gadis itu.
"Kamu masih marah, Grace? Kenapa diam saja dari tadi" Tanya Gevano membuka suara. ia melirik grace lalu kembali fokus ke jalan.
Gadis itu menoleh lalu tersenyum manis, "Tidak, Mas. Aku hanya sedikit lelah." Jawabnya jujur. Ia memang sangat lelah apalagi dari tadi gadis itu terguyur hujan.
"Oh," Lanjut Gevano. Ia pun kembali melirik Grace yang berusaha merapatkan jas pemberiannya, "Sepertinya kamu kedinginan, kita mampir sebentar di butik ya!" Ujar Gevano.
Grace hanya mengangguk mengiyakan, memang betul ia kedinginan dari tadi, di tambah perutnya yang sudah mulai keroncongan. Namun ia enggan bersuara.
Tidak lama kemudian, Gevano memepikan mobilnya, ia pun turun sendirian memasuki butik yang cukup ternama di kota itu. Di bantu oleh karyawan butiknya, sekarang sudah ada beberapa paper bag di tangan pria tampan itu. Setelah membayar belajaannya, ia pun langsung keluar dan memasuki mobilnya.
.
"Kita dimana, Mas?" Tanya Grace yang akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya. Netra coklat terangannya memperhatikan keadaan sekitar, lalu beralih pada bangun klasik di depannya.
"Ini Villaku, untuk beberapa hari kita di nginap disini dulu ya, karena mas memiliki beberapa pekerjaan disini. Ucapnya dengan santai.
Sedangkan Grace hanya melongo, jika pria ini ada pekerjaan dan mengharuskan menginap kenapa tidak memberirahunya dari awal, agar dia juga bisa mempersiapkan barang pribadinya, Bukankah dari taman tadi kerumahnya lebih dekat?
"Dasar orang kaya, apa-apa main beli aja!" Cibir Grace dalam hati. Lamunannya buyar ketia suaminya itu menarik tangan Grace.
"Ayo kita masuk!" Ujar Gevano yang langsung menarik lembut tangan istrinya.
Mereka pun bergandengan tangan berjalan memasuki Villa tersebut.
"Wow, indah sekali, Mas!" Ujar Grace tanpa sadar memuji bangun tersebut.
"Apa kamu suka?" Grace pun memgangguk kecil, karena memang Villanya sangat indah dan memanjakan siapa pun yang melihatnya.
Gevano tersenyum melihat istrinya sudah tidak diam seperti tadi, tiba-tiba saja pria itu melepas dasinya dan menutup mata gadis itu.
"Mas, mau ngapain? Kenapa mata aku di tutup segala?" Tanya Raisa yang terkejut matanya di tutup oleh pria itu.
"Biar suprise, Baby!" Bisik Gevano lembut di telingan Grace. Grace yang merasa geli dengan deru napas Gevano menaikan bahunya sedikit.
Setelah menutup mata istrinya, Gevano membawa Grace menuju tempat yang sebelumnya sudah ia persiapkan oleh orang suruhannya.
Sedangkan Grace yang diam menuruti kemana Gevano membawanya.
"Yea... Kita sudah sampai, siap-siap Baby! Ujar Gevano sambil berdiri di belakang Grace.
Sedangkan Grace merasakan detak jantungnya tidak karuan, entah karena supraise dari Gevano yang sebentar lagi akan ia lihat, atau memang dirinya sudah terjebak ke dalam cinta pria yang berstatus suaminya itu.
"One ... Two ... Threeee ...!" Teriak Gevano dengan heboh. Ia pun langsung melepas membuka penutup mata Istrinya itu.
Berdebar, itulah yang Grace rasakan saat ini. Perlahan ia membuka mata indahnya, sungguh ia sangat terkejut, kemudian membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
Matanya berbinar ketika melihat hiasan bunga segar yang bertuliskan kata 'Maaf', lalu netranya melirik ke kolam renang yang sudah di taburi oleh bunga mawar yang sangat cantik, dan di tepinya di hiasi oleh banyak lilin kecil yang menciptakan bau harum yang memanjankan hidung.
"Mas, ini cantik sekali!" Ucapnya jujur dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu suka, Baby?" Tanya Gevano sambil meraih pinggang Grace, lalu memeluknya dari belakang.
Grace mengangguk, "Aku sangat suka, Mas! Terima kasih atas semuanya, harusnya kamu tidak perlu berlebihan seperti ini," Ujarnya sambil menunduk .
Gevano memutar tubuh Grace, hingga keduanya berhadapan sekarang. Kemudian tangan pria itu mengangkat dagu Grace.
Cup!
Gevano melumat bibir Grace sekilas, "Hei, ini tidak berlebihan, Baby! Kamu adalah istri aku, sudah sepantasnya di lerlakukan seperti ini" Timpalnya sambil mengahapus air mata gadis itu.
Grace sangat terharu dan langsung memeluk suaminya itu dengan erat, "Jangan begini, Mas! Aku takut perasaanku akan terlalu jauh," Ucapnya dalam hati.
Jujur saja Grace sangat senang dengan kejutan romantis ini, namun di saat bersamaan ia takut akan terbuai akan segala perlakuan manis Gevano kepadanya. Bagaimana pun, Gevano bisa kapan saja akan menjatuhkan talak kepadanya. Dan tepat hari itu terjadi ada bagian dalam rekung hatinya yang terluka.
"Hei, sudah ... sudah! Kita di sini untuk dinner romantis, bukan untuk bersedih istriku. So ... Stop jangan menangis lagi, Okey?" Ucapnya dengan lembut dan penuh perhatian.
Grace mengangguk, lalu menghapus air matanya sambil terkekeh pelan.
Gevano merangkul bahu Grace lalu membawanya duduk di kursi yang sudah ia persiapkan.
"Kita makan dulu ya! Habis itu ...? Ia menggantungkan kalimatnya.
"Habis itu apa, Mas?" Tanya Grace dengan bingung.
Gevano mendekatkan bibirnya ke telinga Grace, lalu berbisik, " Lalu kita saling makan memakan," Ujarnya. Dengan jailnya Pria itu menyapu telinga Grace lalu menggigit kecil di sana, hingga membuag Grace merasa geli dan meremang.
"Ssst... Maass!" Desah Grace pelan.
Gevano menjauhkan badannya, lalu tersenyum jail, "Enakkan?" Goda Gevano.
"MAAASSS!!" Ucap Garce sambil melototi suaminya itu.
Grace sungguh tidak menyangka suaminya semesum itu, Apalagi ini diluar. Bagaimana jika ada orang yang melihat mereka melakukan hal tak senonoh seperti tadi? Mau tatuh di mana mukanya jika ketahuan.
"Mas, Jangan macam-macam! Kita lagi diluar loh, bukan lagi di dalam kamar!" Ujar Grace mengingatkan Bara.
Lagi lagi Bara tersenyum, Ia merasa gemas melihat tingkah Grace yang sangat lucu. "Jadi kalau di kamar... Aku boleh macam-macam yank?" Godanya lagi.
"Masss ... Kamu apaan sih, godaiin aku terus! Aku kan jadi malu," Rengek Grace dengan manja. Sumpah Demi apa pun, ini bukan Gevano yang selama ini ia kenal, Namun ia sangat senang melihat sisi lain dari Gevano.
"Iya ... iya .. Bawel banget. Ayo kita makan! Habis itu baru beribadah," Ujarnya tanpa dosa.
Grace hanya menggeleng pelan sambil mengusap dadanya menghadapi tingkah random suaminya.
Suasana yang sangat romantis, dengan desiran angin malam yang begitu menyejukan, menambah nikmatnya makanan yang siapapun memakannya akan memanjakan perut.
Saat sepasang suami istri itu sedang makan malam dengan romantis dan saling melempar gurauan sayang dari keduanya, Namun di saat itu ponsel milim Gebano beberapa kali bergetar.
Drrrrttt ... Drrrtt ... Drtt....