Risya bergerak menjauh selangkah tapi Bastian tidak berhenti. Dia dengan santai membuka dan melempar jas serta dasinya sembarangan. Lalu membuka dua kancing atas kemejanya, kemudian dengan perlahan membuka jam tangan dan meletakkannya di meja. Matanya tak pernah berpaling dari wajah panik gadis itu. Risya memperhatikan setiap detail itu dengan mulut kering. "Bastil, berhenti main-main. Kamu akan segera menikah." Bujuknya dengan suara gugup. Bastian tersenyum sambil mendekat. "Dia diatas kertas, kamu diatas ranjang." Bisiknya lembut. Mendengar itu, Risya menelan ludah dengan susah payah. Keningnya berkerut, ada apa dengan pria ini? Dia tidak mabuk seperti malam kemarin. Mengapa dia mengigau malam ini? "Sudahkah kamu memikirkannya?" Risya mengulur waktu. "Aku sudah memikirkannya."

