Bastian yang awalnya berwajah dingin segera terbatuk-batuk melihat wajah cantik gadis itu di hadapannya. Kemarahannya segera menguap entah kemana. "Kemarilah, apa kamu ingin memeriksaku apakah datang bulan atau tidak?" Dia melambaikan tangan agar Risya mendekat. Wajah Risya sedikit memerah. Namun dia dengan patuh mendekat. Risya berdiri disampingnya dengan tenang. "Ayo periksalah." Bastian meluruskan kedua kakinya diatas meja kerja dengan sikap pasrah. Dia mengekspos area 'itu' dihadapan Risya dengan santai. Melihat sikap tidak tahu malu ini, Risya sedikit gugup. Disisi lain dia merasa sangat kesal dan ingin menendang paha atas pria ini. "Apa yang kamu lihat? Apa kamu sedang menilai ukurannya di balik celanaku?" Bastian semakin tidak tahu malu. Dia mrlambaikan tangan dan melanjutk

