Fitri dan Siska melangkahkan kaki mereka dengan perlahan menuju meja tujuan dengan kedua tangan memegang nampan besar, membawa beberapa piring juga gelas berisikan semua pesanan pelanggan VIP itu.
Sejak langkah pertamanya menuju meja tujuan, kegugupan terus melanda diri Fitri. Wajah Ibu-Ibu garang dengan ocehan panjang lebar yang mungkin saja akan kembali ia dengar setelah sampai di meja tujuan, terus berputar-putar dalam benaknya, menghatui pikiran Fitri. Mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Ibu-Ibu garang itu yang berakhir dengan dirinya yang harus mendengarkan ocehan panjang kali lebar dari sang Ibu-Ibu garang tersebut, ocehan berupa komentar pedas yang panjangnya sepanjang jalur rel kereta api, dan sepedas sambal rica-rica level sepuluh. Katakanlah Fitri lebay, tapi memang itu yang Fitri rasakan saat ini. Gugup, gelisah, dan takut. Tiga rasa itu terus menerus mempengaruhi diri Fitri.
“Permisi, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, pesanannya sudah siap untuk segera disantap,” ucap Fitri berusaha untuk tetap ramah, meski jauh dilubuk hatinya ia didera rasa gugup luar biasa, seraya menaruh semua makanan dan minuman yang ia bawa di atas meja, begitu pun juga Siska yang berada di seberangnya.
“Lama banget sih! Nggak tau apa aku lagi laper? Di mana-mana pesanan VIP itu harus diprioritaskan! Di nomor satukan daripada yang lain. Jangan malah membuat kami menunggu terlalu lama,” komentar pedas yang diucapkan Ibu berwajah garang itu pun kembali datang, sesuai dengan dugaan Fitri sebelumnya.
“Permisi? Memangnya aku ini, Jin, apa? Yang bisa menyiapkan pesanan secepat kilat, yang dalam sekejap mata semua pesanan bisa langsung terhidang di meja pelanggan? Ayolah, aku juga tau semua peraturan itu. Memprioritaskan pesanan pelanggan VIP. yes, i know that. Aku pun melakukannya, menyiapkan semua pesanan-pesanan itu secepat yang aku bisa. Memang si Ibu garang itu saja yang tak sabaran. Mungkin dia tak sempat makan selama berbulan-bulan sampai bisa marah-marah tak jelas hanya karena makanannya tak kunjung datang dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit,” ucap Fitri dalam hati, yang merasa kesal dimarahi seperti itu oleh si Ibu garang.
Bukan apa, kalau dimarahi secara baik-baik dan pelan-pelan mungkin ia bisa terima. Tapi jika seperti ini, dimarahi dengan suara kencang yang mungkin saja terdengar ke segala penjuru, ditambah dengan apa yang menurut si Ibu garang itu adalah sebuah kesalahan yang aslinya tidak sama sekali, ia tidak terima. Pesanan datang dalam kurung waktu kurang dari sepuluh menit terhitung cepat, bukan? Mengingat pelanggan lain biasanya harus menunggu sampai lima belas menit bahkan lebih. Fitri tak mengerti dengan pola pikir Ibu garang itu.
“Maaf, Ibu, saya sudah berusaha menyiapkan pesanan yang Ibu dan yang lainnya pesan secepat yang saya bisa. Mohon dimaklumi juga, pegawai di tempat ini tidak banyak. Hanya beberapa orang saja dan pelanggan yang datang hari ini cukup ramai, jadi saya hanya bisa mengusahakannya secepat itu. Tapi satu hal yang perlu para pelanggan tahu, kami selalu berusaha untuk melayani semua pelanggan dengan baik dan profesional,” ucap Fitri, menjawab komentar pedas itu dengan cara yang sopan dan ramah.
“Alasan saja kamu! Pegawai sedikit dan pelanggan ramai itu bisa diatasi dengan baik kalau kita benar-benar serius bekerja. Melayani pelanggan dengan baik dan profesional apanya? Cuma topeng!” ucap Ibu garang itu tak terima mendengar ucapan pembelaan yang Fitri lontarkan.
“Sudah, Mel, pesanan ini datang terhitung cepat lho. Kamu kepenginnya kamu pesan langsung dihidangkan di meja? Itu mah dalam mimpi kali! Ada-ada saja,” ucap seorang pria paruh baya yang duduk di samping kanan Ibu berwajah garang itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Fitri seraya tersenyum manis. “terima kasih ya, Mbak, sudah menyiapkan pesanannya dengan cepat. Maaf kan Istri saya, dia memang seperti itu orangnya. Gampang marah-marah. Jadi mohon dimaklumi saja.”
“Mas apaan sih? Orang aku nggak salah kok.”
“Sudah, diam kamu! Katanya tadi kelamaan? Sudah, sekarang makan saja pesanan kamu! Biar mulut pedas kamu itu kembali jinak,” ucap pria paruh baya yang sepertinya adalah Suami Ibu garang tersebut, kemudian mendiamkan sang Istri dengan kembali fokus memakan pesanannya.
“Mas, ih. Jahat banget ngatain istri sendiri.”
“Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak, Bu. Selamat menikmati pesanannya,” ucap Fitri ramah, kemudian pamit undur diri dari hadapan mereka, diikuti Siska yang berjalan di belakangnya.
Fitri kembali melanjutkan pekerjaannya, melayani para pelanggan yang tak ada hentinya keluar masuk warung makan, mengingat hari ini adalah hari Minggu, hari di mana warung makan murah tersebut sangat ramai dengan para pelanggan.
Tepat setelah empat puluh menit dirinya meninggalkan meja si Ibu garang itu beserta keluarganya, suara gaduh yang sangat mengganggu kenyamanan banyak orang terdengar nyaring di telinga Fitri. Membuat Fitri yang sedang duduk sambil menyenderkan kepalanya ke dinding untuk menghilangkan sedikit penatnya terlonjak kaget. Hingga suara panggilan dari Haris yang menyuruhnya untuk segera pergi menuju sumber suara membuat perasannya merasa tak enak. Ada apa lagi ini?
“Fitri..” ucap Haris yang baru saja datang menghampirinya, dengan deru nafas yang masih berkejaran. Sepertinya laki-laki itu tadi berlari ke arahnya.
“Haris? Ada apa? Kenapa berisik banget sih di sana?” tanya Fitri dengan raut wajah penasarannya.
Haris menghembuskan nafasnya beberapa kali. Laki-laki itu berusaha mengatur deru nafasnya agar kembali normal. “Lo mending ke sumber suara sekarang deh. Si Ibu rewel dan cerewet itu marah-marah nggak jelas di sana. Nyebut-nyebut pelayan yang ngelayanin dia lagi. Lo kan tadi yang ngelayanin dia? Ayo buruan ke sana! Gue takut keadaannya makin kacau kalau nggak langsung di atasi. Pelanggan lain takut ke ganggu soalnya.”
“Ada apa ya? aku tadi sama Siska juga sih.”
“Gue juga nggak tau. Mending lo langsung ke sana aja gih sekarang. Nanti gue suruh Siska buat segera nyusul lo,” ucap Haris, yang mau tak mau Fitri anggukki, kemudian gadis yang kini tengah gugup itu pun mulai melangkahkan kakinya menuju sumber suara.
“Seumur-umur aku makan di sini baru kali ini diperlakuin kayak gini. Mentang-mentang aku pelanggan VIP, orang kaya raya yang duitnya banyak, main nyuri dompet aja. Nggak tau apa aku ini siapa? Bener-bener nyari gara-gara itu gadis polos. Mukanya aja polos. Kayak nggak ngerti apa-apa. Tapi kelakuannya bikin orang naik darah. Mana sih si pelayan polos itu? Pelayan.. Pelayan.. suruh pelayan polos yang tadi ngelayanin kami ke sini sekarang!” teriak marah Ibu garang itu, membuatnya kini menjadi pusat perhatian, karena tempat duduknya yang berada di tengah-tengah, dan suara teriakannya yang sangat memekakan telinga.
“Mah, udah dong jangan teriak-teriak. Kan kita bisa bicarakan semuanya secara baik-baik. Nggak malu apa diliatin banyak orang?” ucap Suami dari Ibu garang itu, berusaha membujuk sang Istri agar tidak berteriak.
“Iya, Mel, kita bicarakan di ruangan Mbak Fitri aja, yuk? Malu tau jadi pusat perhatian,” ucap wanita paruh baya di sebelah kirinya, seraya berusaha merangkul wanita yang dipanggil Mel itu untuk pergi menuju ruangan Mbaknya, yaitu Ibu bos dari warung makan murah ini.
“Kalian itu pada kenapa sih? Masalah ini nggak bisa dibiarin begitu aja. Pelayan polos itu harus dapet pelajaran. Pelayan polos.. Mana sih itu orang? Jangan-jangan kabur lagi.”
“Permisi, Ibu mencari saya?”
Mendengar suara yang tak asing itu, si Ibu garang pun menolehkan wajahnya ke sumber suara. “kamu!” ia menunjukkan jari telunjuknya ke arah wajah Fitri. “kamu berani ya cari masalah sama saya? Kamu nggak tau saya ini siapa? Saya ini Adik kesayangannya Bos kamu. Saya nggak mau tau ya, balikin dompet saya sekarang!” ucap Ibu garang itu, seraya menatap tajam ke arah Fitri.
Dompet? Fitri mengernyitkan keningnya. Ia bingung. “Saya tidak mengerti maksud Ibu. Dompet? Saya nggak tau menau soal dompet Ibu.”
“Dasar gadis munafik! Muka kamu saja yang polos, tapi kelakuan kamu minus. Kamu udah nyuri dompet saya, kan? Balikin sekarang juga! Atau kamu mau saya laporkan ke polisi?”
“Saya nggak nyuri dompet Ibu, Bu. Ibu jangan asal nuduh! Saya memang orang miskin, nggak punya banyak uang, tapi saya tak sejahat itu untuk nyuri dompet Ibu. Saya di sini buat kerja, buat nyari uang yang halal, bukan untuk mencuri.”
“Jangan sok suci kamu! Cepat kembalikan dompet saya!” Ibu garang itu sudah mulai hilang kendali. Ia sudah berani menjambak rambut Fitri hingga gadis malang itu mengaduh kesakitan.
“Ibu, tolong lepaskan teman saya! Teman saya tidak bersalah. Dia orang yang baik,” ucap Siska yang baru saja datang, seraya berusaha menolong Fitri dengan menarik tangan Ibu garang itu dari rambut Fitri.
“Kamu yang tadi melayani kami juga kan? Jangan-jangan kamu lagi yang mencuri dompet saya? Atau kalian berdua ini bekerja sama? Nggak bisa dibiarin ini. Kak Fitri harus tau kalau pegawai-pegawainya mental pencuri.”
“Ibu jangan main asal nuduh ya, kami bukan orang seperti itu!” ucap Siska tak terima.
“Ada apa ini? Mel? Kenapa kamu bikin keributan di sini?” ucap seorang wanita paruh baya dengan nada suara sarat akan ketegasan yang berhasil menarik perhatian si Ibu garang itu dan semua pasang mata yang tengah memperhatikan keributan itu.
“Mbak?” Ibu garang yang dipanggil Mel itu pun mulai berjalan menghampiri Mbaknya. “Mbak, mereka berdua ini udah berani nyuri dompet aku, Mbak. Mereka harus balikin dompet aku sekarang, dan Mbak harus segera pecat mereka,” ucap Ibu garang seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah Fitri dan Siska.
“Kamu jangan asal nuduh, Mel! Kamu punya buktinya? Menurut , Mbak, mereka berdua ini pegawai yang baik dan dapat dipercaya,” ucap Ibu bos yang berhasil membungkam mulut Mel, si Ibu garang. Ia tidak memiliki bukti.
“Kalau Ibu yang bernama Mel ini masih tetap menuduh kami, silakan Ibu bos dan Ibu Mel periksa saja tas saya dan Fitri, agar semuanya tahu dan jelas bahwa saya dan Fitri memang tidak mencuri,”usul Siska yang dengan cepat Fitri anggukki sebagai tanda bahwa ia juga setuju. ”ya, sebaiknya begitu. Agar aku bebas dari tuduhan itu, karena aku bukan seorang pencuri!” ucap Fitri dalam hati.
“Ide bagus. Ayo, Mbak, kita periksa tas mereka. Kalau perlu semua pegawai yang bekerja di sini.”
Ibu bos, Ibu Mel, Fitri, Siska, dan dua orang lainnya memutuskan untuk pergi ke ruangan khusus pekerja untuk memeriksa tas para pegawai, terutama tas milik Fitri dan Siska. Setelah sampai di sana, satu per satu tas para pegawai diperiksa oleh Ibu bos di hadapan orang-orang yang hadir di ruangan itu.
Saat memeriksa tas Fitri, Ibu bos tiba-tiba terdiam dengan raut wajah yang sulit diartikan. “Mel.. Apakah ini dompet kamu?” ucapnya, seraya mengeluarkan dompet tipis bermerk G****, brand ternama dan berkelas. Semua pasang mata yang melihat dompet itu pun membulatkan matanya tak percaya, terlebih Fitri yang mendadak panas dingin karena syok berat.
“Tuh, kan! Itu dompet aku, Mbak. Dasar pencuri! Mau ngelak apa lagi kamu? Mbak, aku nggak mau tau sekarang. Pecat dia sekarang juga atau aku laporin masalah ini ke Polisi?”
“Ibu bos, saya mohon jangan pecat saya. Demi Allah, Bu, saya tidak mencuri dompet itu. Ini Fitnah!” ucap Fitri seraya mendekatkan dirinya kepada sang Ibu bos, memohon-mohon di hadapannya.
“Jangan main asal sumpah kamu! Apalagi bawa-bawa nama Tuhan. Kelakuan kamu udah ketahuan, kamu nggak bisa bohong lagi sekarang. Mbak, tunggu apalagi? Ayo pecat dia! Jangan sampai ulah dia bikin usaha Mbak, jadi bangkrut karena para pelanggan banyak yang takut buat datang ke sini gara-gara takut dicuri.”
Mendengar ucapan Ibu garang itu, Fitri menjatuhkan dirinya di hadapan Ibu bos. Ia berlutut sambil mengapitkan dua tangannya di depan d**a. “Bu, saya mohon jangan pecat saya. Saya sangat-sangat butuh pekerjaan ini. Saya benar-benar tidak mencuri, Bu.”
Ibu bos menghela nafasnya kasar, memejamkan matanya sebentar, mencoba meredam sedikit amarahnya. “Fitri! Berdiri sekarang juga! Saya benar-benar kecewa sama kamu, Fitri. Saya kira kamu gadis baik-baik dan dapat saya percaya. Tapi ternyata dugaan saya salah. Saya mohon maaf, kamu tidak bisa terus bekerja di tempat saya. Mulai detik ini juga kamu saya pecat.” Ibu bos mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, kemudian menarik tangan Fitri untuk menerima pemberian uangnya. “saya tidak ingin terlihat kejam. Ambillah uang ini dan silakan tinggalkan tempat ini sekarang juga!” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu, diikuti sang Adik yang tak terima Fitri masih saja dikasihani.
“Mbak! Kok dia malah dikasih uang sih? Dia kan orang jahat. Harusnya Mbak pecat dan langsung usir dia saja dari tempat ini. Nggak usah dikasihani orang kayak dia. Palingan juga nanti dapet uang lagi dari hasil mencuri.”